Makanan Minuman dan Tembakau Picu Inflasi Jakarta

Selasa, 03 Nov 2026, 01:05 WIB

JAKARTA – Selama bulan Oktober, Jakarta mengalami inflasi tahunan sebesar 2,52 persen. Inflasi Jakarta ini disumbang kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar 0,66 persen. “Komoditas penyumbang utama inflasi kelompok ini adalah daging ayam ras, beras, dan minyak goreng,” kata Kepala BPS Jakarta, Kadarmanto, Senin.

Lebih rinci, dia menyebutkan daging ayam ras memiliki andil sebesar 0,46 persen terhadap inflasi tahunan Oktober. Sedangkan beras menyumbang 0,11 persen. Selanjutnya, minyak goreng 0,08 persen. Menurut Kadarmanto, kelompok pengeluaran lain yang mengalami inflasi tahun ke tahun yang cukup tinggi adalah transportasi dengan andil inflasi sebesar 0,6 persen. Inflasi pada kelompok tersebut terutama disumbang oleh komoditas bensin dengan andil 0,11 persen.

Ket. Foto: Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, Kadarmanto di sela acara “Award Hari Statistik Nasional (HSN) 2026” di Jakarta, Kamis (29/10). — Sumber: ANTARA/Lia Wanadriani Santosa

Lalu, komoditas lain penyumbang utama inflasi tahun ke tahun, adalah emas perhiasan dengan andil sebesar 0,23 persen. Lebih lanjut, merujuk data BPS, tingkat inflasi tahunan Jakarta selama Oktober terendah se-Indonesia, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,54.

Sementara itu, inflasi tertinggi di tingkat provinsi terjadi di Sulawesi Utara sebesar 8,07 persen, dengan IHK sebesar 117,24. Pada bulan Oktober, inflasi tahunan secara nasional tercatat sebesar 3,23 persen dengan IHK sebesar 112,56.

Di sisi lain, inflasi bulanan Jakarta Oktober sebesar 0,13 persen disumbang terutama oleh kelompok penyediaan makanan dan minuman, atau restoran dengan andil sebesar 0,03 persen. “Adapun komoditas penyumbang inflasi pada kelompok ini adalah sate, martabak dan pizza,” ungkap Kadarmanto.

Menurutnya, sate dan martabak memiliki andil inflasi masing masing sebesar 0,01 persen, sedangkan pizza berandil kurang dari 0,01 persen. Sementara itu, sambung Kadarmanto, komoditas yang paling dominan memberikan sumbangan inflasi Oktober adalah cabai merah (0,06 persen). Kemudian, diikuti kontrak rumah dan laptop atau notebook (0,02 persen).

Selanjutnya, tarif rumah sakit dan sate (0,01 persen). Lebih lanjut, kelompok yang menjadi penyumbang inflasi tertinggi kedua Oktober adalah makanan, minuman, dan tembakau.
Komoditas penyumbang utama inflasi kelompok tersebut adalah cabai merah, cabai rawit, tomat, ikan kembung dan ikan mas.

Kadarmanto mencatat komoditas cabai merah memberikan andil inflasi tertinggi terhadap tingkat inflasi umum pada bulan Oktober. Secara rata-rata, level harga cabai merah selama Oktober tercatat sebesar Rp66.822 per kilogram.

“Peningkatan harga cabai merah secara rata-rata mendorong inflasi sebesar 24,1 persen. Ini lalu mendorong andil inflasi sebesar 0,06 persen,” ungkap Kadarmanto. Sementara itu, tingkat inflasi bulanan Oktober secara nasional tercatat sebesar 0,22 persen.

Hunian Hotel

Sementara itu, BPS mencatat tingkat penghunian kamar (TPK) hotel bintang di Jakarta mencapai 58,18 persen pada bulan September. Angka ini naik sebesar 2,30 persen dari bulan Agustus.
“TPK hotel klasifikasi bintang selama September mencapai 58,18 persen. Angka ini naik 2,30 persen poin secara bulanan dan 5,15 persen poin secara tahunannya,” kata Kadarmanto.

TPK hotel bintang tersebut menduduki peringkat kedua se-Indonesia, setelah Bali yang mencatatkan angka sebesar 66,42 persen. Sementara itu, untuk TPK hotel nonbintang September sebesar 39,32 persen. Angka ini turun secara bulanan dan tahunan.

Selanjutnya, rata-rata lama menginap tamu (RLMT) hotel bintang antara 1 dan 2 malam.
“Angka ini juga turun 0,01 poin secara bulanan, tetapi naik 0,06 poin secara tahunan,” tutur Kadarmanto. Sedangkan, RLMT untuk hotel nonbintang dan akomodasi lainnya sebesar 1,35 malam.

Berdasarkan proporsinya, tamu hotel bintang didominasi orang Indonesia (88,84 persen) dan sisanya tamu asing (11,16). Kemudian, berdasarkan preferensi kelas, hotel bintang tiga menjadi pilihan utama tamu Indonesia. Sementara itu, tamu asing cenderung memilih hotel bintang empat.

  • Inflasi Jakarta

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka, Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.