Gencatan Senjata Lokal di Kherson Berakhir

Selasa, 03 Nov 2026, 02:20 WIB

KYIV - Russia pada Senin (2/11) kembali melancarkan serangan ke Kota Kherson di wilayah selatan menyusul berakhirnya gencatan senjata lokal di area tersebut yang merupakan jeda pertempuran terlama dalam perang yang berkecamuk antara kedua negara tetangga itu sejak 2022, demikian pernyataan pihak Kyiv.

Jeda pertempuran yang jarang terjadi ini, yang dimediasi oleh Ibu Negara Amerika Serikat (AS), Melania Trump, berakhir pada Minggu (1/11) setelah dimulai pada Selasa (27/10) pekan lalu, dengan kedua belah pihak melaporkan tidak adanya pelanggaran.

Ket. Foto: Seorang tentara Ukraina bersiap meluncurkan roket Grad ke posisi tentara Russia di sebuah lokasi dekat Kramatorsk, Donetsk, pada Minggu (1/11). Pertempuran antara Russia dan Ukraina kembali terjadi setelah gencatan senjata lokal berakhir pada Minggu. — Sumber: AFP/IRYNA RYBAKOVA

Gencatan senjata tersebut memungkinkan dilaksanakannya misi kemanusiaan ke Kota Oleshky yang diduduki Russia, serta memberi kesempatan bagi ratusan warga yang terjebak untuk pergi menyelamatkan diri.

Gencatan senjata ini merupakan jeda pertempuran terlama antara kedua negara tersebut dalam perang yang kini memasuki tahun kelima, yang telah menewaskan ratusan ribu orang dan menyebabkan jutaan lainnya kehilangan tempat tinggal.

Kepala administrasi Kota Kherson, Yaroslav Shanko, mengatakan bahwa sebuah drone yang diluncurkan Russia telah menghantam sebuah fasilitas medis di pusat kota pada Senin pagi. Pihak berwenang kota menyatakan bahwa drone lainnya kemudian menghantam wilayah pinggiran Kherson, yang mengakibatkan seorang perempuan dan pria lansia terluka.

Seorang pejabat senior Ukraina mengungkapkan kepada AFP pada Minggu bahwa Russia menolak tawaran Ukraina untuk memperpanjang gencatan senjata tersebut. Militer Kyiv juga menuding bahwa Moskwa memanfaatkan jeda pertempuran itu untuk memperkuat posisi mereka.

Kremlin tidak membantah tuduhan tersebut. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan kepada para wartawan pada Senin, bahwa langkah memperkuat posisi ini adalah praktik yang sepenuhnya wajar dalam situasi seperti ini. Ia bahkan mengklaim bahwa tentara Ukraina di masa lalu juga pernah memanfaatkan jeda pertempuran untuk melakukan penataan ulang kekuatan.

“Moskwa menganggap misi kemanusiaan di Oleshky sebagai sebuah keberhasilan,” ujar Peskov.

Sementara itu diwartakan bahwa pembicaraan antara Russia dan Ukraina yang dipimpin oleh AS dijadwalkan akan dilanjutkan bulan ini.

Presiden Donald Trump telah mendorong penyelesaian perang yang berkepanjangan ini, namun berbagai upaya tersebut belum membuahkan terobosan.

Pembicaraan tersebut, yang diperkirakan akan berlangsung di Abu Dhabi, muncul di tengah kekhawatiran Kyiv dan sekutu-sekutu Eropanya bahwa Trump akan semakin memihak kepada Moskwa.

Tuntutan Zelenskyy

Sementara itu pada Minggu, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menegaskan bahwa negaranya akan berhenti menyerang kilang minyak Russia yang merupakan sebuah permintaan utama dari Presiden Trump, jika Washington DC menyediakan misil pencegat Patriot yang canggih untuk Kyiv.

Trump sebelumnya memang telah meminta pihak-pihak yang bertikai di Eropa tersebut untuk berhenti menyerang fasilitas energi satu sama lain.

Dalam sebuah sesi wawancara dengan saluran berita AS, Fox News, pada Minggu, Zelenskyy mengungkapkan bahwa ia telah melakukan beberapa kali pembicaraan dengan Trump dan timnya mengenai isu ini.

"Kami menegaskan bahwa kami tidak bisa tinggal diam setelah Russia menyerang infrastruktur energi kami, setelah Russia membunuh rakyat kami, serta menyerang sistem kelistrikan, gas, kilang minyak, dan segalanya," ujar Presiden  Zelenskyy kepada pembawa acara Fox News, Trey Yingst.

"Kami katakan, jika Anda ingin kami tidak menyerang kilang minyak Russia, maka mereka juga tidak boleh menyerang sistem energi kami. Alternatif lainnya, berikan kami misil Patriot; kami akan mencari dananya sendiri, bukan sekadar mengharapkan bantuan," imbuh dia.

Zelenskyy pun menyatakan bahwa jika Washington DC menyediakan sistem misil tersebut selama satu bulan, Kyiv akan menghentikan serangan terhadap kilang minyak Russia untuk periode yang sama.

Misil Patriot merupakan salah satu senjata terpenting yang dimiliki Ukraina untuk mencegat drone dan misil Russia.

Pihak Kementerian Luar Negeri AS menyatakan bahwa pemerintahan Trump pada Jumat (30/10) telah menyetujui penjualan 500 misil Patriot ke Ukraina, namun Presiden Ukraina tersebut memperingatkan bahwa pengirimannya bisa memakan waktu bertahun-tahun lamanya. AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.