Pembentukan Rumah Gizi Sebagai Upaya Menangani Stunting di Makassar
Senin, 02 Nov 2026, 23:17 WIBMakassar - Ketua Tim Penggerak PKK Kota Makassar Melinda Aksa Munafri mengemukakan perlunya pembentukan rumah gizi dan dapur beragam, bergizi, seimbang, dan aman (B2SA) di 153 kelurahan untuk memperkuat upaya pencegahan dan penanganan stunting di daerah itu.
"Anak-anak dan ibu hamil yang masih membutuhkan perhatian harus terus didampingi. Hasil yang sudah dicapai patut diapresiasi, tetapi jangan sampai kita berhenti di situ," kata Melinda saat menghadiri kegiatan Penanganan Masalah Gizi di Puskesmas Maccini Sombala, Makassar, Senin.
Ia mengungkapkan, berdasarkan pendataan di Kecamatan Tamalate, terdapat sekitar 15 balita dan dua ibu hamil yang menjadi sasaran intervensi gizi.
Hasil pendampingan selama 90 hari menunjukkan rata-rata kenaikan berat badan balita mencapai satu kilogram. Meski demikian, masih terdapat dua balita dengan kenaikan berat badan yang belum stabil dan satu ibu hamil yang belum mencapai ambang batas normal.
Menurut Melinda, capaian tersebut perlu diikuti pendampingan berkelanjutan, terutama bagi kelompok yang masih berisiko mengalami masalah gizi. Maka dari itu, pembentukan rumah gizi dinilai mampu meningkatkan efektivitas program pendampingan.
Ia juga menekankan pentingnya pembenahan data sasaran melalui program Wargata' Sariwisma untuk memastikan intervensi tepat sasaran. Mobilitas penduduk menjadi salah satu tantangan dalam memperbarui data ibu hamil yang mengalami kekurangan energi kronis (KEK) dan balita berisiko masalah gizi.
Melinda mengatakan, perluasan intervensi gizi membutuhkan kolaborasi pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan agar pelaksanaannya tidak hanya bergantung pada anggaran PKK yang saat ini masih menjangkau satu kelurahan.
Ia berharap, setiap kelurahan dapat mengembangkan rumah gizi dan dapur B2SA secara mandiri dengan memanfaatkan potensi pangan lokal, termasuk hasil pertanian perkotaan atau urban farming berupa telur, sayuran, dan ikan.
Selain ketersediaan pangan bergizi, Melinda mengingatkan pentingnya memastikan makanan tambahan memenuhi kebutuhan nutrisi dan porsi sesuai kelompok usia anak.
"Jangan sampai kita hanya memberikan bantuan makanan tanpa memperhatikan kebutuhan gizinya. Menu untuk setiap kelompok umur tentu berbeda, sehingga harus dikoordinasikan dengan ahli gizi," ujarnya.
Melalui penguatan pendataan, pendampingan, dan pemenuhan gizi berbasis kelurahan, TP PKK Kota Makassar berharap upaya pencegahan stunting dapat berjalan lebih terarah dan berkelanjutan.
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Akademi Pencegahan Stunting, Kompetensi ASN untuk Tekan Stunting di Kota Yogyakarta
-
Pegadaian Raih Empat Penghargaan di KESGI Award 2026
-
Memperkuat Pencegahan Stunting Melalui Posyandu
-
Keberagaman Budaya Identitas Penting Jakarta
-
Tindaklanjuti Arahan Presiden, Menteri PU Kebut 2.300 Km Jalan Perbatasan Kalimantan-Malaysia
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.