Teguh Subroto, Sosok Jaksa Humanis di Balik Pengabdian: Dari Ruang Penegakan Hukum, Perjuangan Atlet Disabilitas hingga Pemberdayaan Masyarakat

Minggu, 01 Nov 2026, 18:40 WIB

SEMARANG – Tidak semua orang yang bekerja untuk masyarakat selalu berada di depan sorotan. Ada sosok yang lebih memilih menjalankan tugas, membangun komunikasi, merawat kepercayaan, dan memastikan program yang dikerjakan memberikan manfaat. Kiprah itulah yang menarik untuk melihat lebih dekat sosok Teguh Subroto, SH, MH Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Jawa Tengah.

Di balik jabatan strategisnya sebagai pimpinan Korps Adhyaksa di Jawa Tengah, Teguh memiliki ruang pengabdian yang tidak hanya berkaitan dengan penegakan hukum. Ia juga hadir dalam kegiatan sosial, membangun kedekatan dengan masyarakat, memberikan perhatian kepada kalangan santri dan pondok pesantren, serta mengambil bagian dalam pembinaan olahraga atlet disabilitas Indonesia.

Ket. Foto: Chef de Mission (CdM) kontingen Indonesia Prof. Reda Manthovani (tengah) didampingi anggota Adithya Winata (kiri) dan Teguh Subroto, SH, MH (kanan) saat menyampaikan paparan perkembangan Asian Para Games 2026 di Headquarter NPC Indonesia di Nagoya, Jepang, baru-baru ini. — Sumber: koran jakarta/henri pelupessy

Namanya juga tercatat dalam perjalanan prestasi olahraga nasional. Teguh dipercaya menjadi Deputy Chef de Mission (Deputy CdM) atau Wakil Ketua Kontingen Indonesia pada ajang 5th Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026 di Jepang. Sebuah amanah yang memperlihatkan bahwa pengabdian dapat melintasi berbagai bidang, termasuk mendukung perjuangan atlet yang membawa nama bangsa.

Sosoknya menarik karena mempertemukan beberapa karakter dalam satu perjalanan: seorang jaksa, pemimpin institusi, penggerak organisasi masyarakat, pendukung atlet paralimpik, sekaligus figur yang menaruh perhatian pada kegiatan sosial dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Meniti Karier, Mengemban Amanah di Institusi Adhyaksa

Perjalanan Teguh Subroto di lingkungan Kejaksaan menunjukkan pengalaman dalam sejumlah posisi strategis. Ia pernah dipercaya menjadi Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Bali pada 2022. Pengalaman tersebut menjadi salah satu tahapan penting dalam perjalanan pengabdiannya di institusi Adhyaksa.

Berikutnya, Teguh mendapat kepercayaan sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Kepulauan Riau pada 2024. Penugasan tersebut menempatkannya sebagai pimpinan tertinggi Kejaksaan di wilayah Kepulauan Riau, dengan tanggung jawab mengoordinasikan pelaksanaan tugas penegakan hukum dan pelayanan hukum kepada masyarakat.

Dalam kepemimpinannya di Kejati Kepri, semangat sinergi, kolaborasi, profesionalitas, dan penegakan hukum yang humanis menjadi bagian dari pesan kelembagaan yang dikedepankan.

Kariernya kemudian berlanjut di tingkat pusat. Pada Juli 2025, Teguh dipercaya menjabat Inspektur Keuangan III pada Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan (Jamwas) Kejaksaan Agung RI. Dalam posisi ini, ia terlibat dalam fungsi pengawasan, pemeriksaan, dan evaluasi pengelolaan keuangan serta kinerja satuan kerja Kejaksaan.

Salah satu pesan yang pernah disampaikannya ketika menjalankan fungsi pengawasan adalah pentingnya orientasi pada hasil kerja dan pengabdian, bukan sekadar kehadiran administratif. Prinsip tersebut tercermin dalam penekanannya agar tunjangan kinerja benar-benar sejalan dengan kinerja.

Puncak penugasan berikutnya hadir pada 29 April 2026. Jaksa Agung RI ST Burhanuddin melantik Teguh Subroto sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah. Ia dipercaya memimpin institusi Kejaksaan di salah satu provinsi dengan wilayah hukum, dinamika sosial, serta aktivitas ekonomi yang besar.

Perjalanan dari Wakajati Bali, Kajati Kepulauan Riau, Inspektur Keuangan III Jamwas hingga Kajati Jawa Tengah memperlihatkan pengalaman Teguh dalam bidang kepemimpinan, pengawasan, dan tata kelola organisasi.

Jaksa Humanis, Hukum Tidak Berjarak dengan Masyarakat

Penegakan hukum tidak semestinya hanya dipahami sebagai proses penyelidikan, penyidikan, penuntutan, ataupun pelaksanaan putusan pengadilan. Lebih dari itu, hukum harus mampu menghadirkan rasa keadilan, kepastian, kemanfaatan, dan kepercayaan masyarakat.

Perspektif inilah yang menjadi salah satu sisi menarik dari sosok Teguh Subroto.

Sebagai Kajati, ia berada di posisi yang menuntut ketegasan dalam menjalankan kewenangan sekaligus kebijaksanaan dalam membangun hubungan dengan masyarakat. Penegakan hukum harus tetap profesional dan berintegritas, tetapi tidak kehilangan dimensi kemanusiaannya.

Kedekatan dengan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan terhadap institusi penegak hukum. Komunikasi yang terbuka, hubungan yang baik dengan insan pers, serta kesediaan mendengar aspirasi menjadi jembatan agar masyarakat tidak merasa berjarak dengan Kejaksaan.

Bagi seorang pemimpin institusi publik, media bukan sekadar sarana publikasi. Pers memiliki peran penting sebagai mitra komunikasi, penyampai informasi, sekaligus bagian dari kontrol sosial.

Karena itu, membangun hubungan baik dengan wartawan dan insan media menjadi salah satu elemen penting dalam menciptakan keterbukaan informasi dan menjaga kepercayaan publik.

Sosok jaksa humanis bukan berarti mengurangi ketegasan hukum. Justru, ketegasan harus berjalan bersama kepekaan sosial. Hukum tetap berdiri tegak, sementara masyarakat harus tetap diperlakukan secara manusiawi.

Deputy CdM, Kepedulian terhadap Perjuangan Atlet Disabilitas

Salah satu sisi yang memperlihatkan perhatian Teguh di luar tugas kedinasannya adalah keterlibatannya dalam dunia olahraga paralimpik.

Kepercayaan sebagai Deputy Chef de Mission (Deputy CdM) atau Wakil Ketua Kontingen Indonesia pada 5th Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026 menjadi pengalaman tersendiri. Amanah ini menempatkannya dalam lingkungan perjuangan para atlet disabilitas yang membawa Merah Putih di kompetisi tingkat Asia.

Keterlibatannya tidak berhenti pada penyandang jabatan dalam struktur kontingen. Ia turut memberikan dukungan moral, membangun komunikasi dengan atlet, dan mengikuti perjalanan perjuangan mereka dalam mempersiapkan diri menghadapi pertandingan.

Di balik setiap medali, terdapat proses panjang yang tidak selalu terlihat. Ada latihan yang melelahkan, disiplin, pengorbanan, dukungan keluarga, pelatih, dan perjuangan untuk menghadapi berbagai tantangan.

Atlet disabilitas membutuhkan kesempatan yang setara, dukungan berkelanjutan, serta pengakuan atas kemampuan dan prestasi mereka. Perhatian terhadap mereka tidak semestinya hanya muncul ketika pertandingan berlangsung atau ketika medali berhasil diraih.

Sikap memberikan perhatian secara langsung kepada atlet, mengenal perjuangan mereka, serta membangun komunikasi menjadi bagian penting dari dukungan tersebut.

Dalam welcoming ceremony Asian Para Games di Nagoya, 17 Oktober 2026, Teguh juga tampil mewakili kontingen Indonesia ketika menjelaskan makna tiga gunungan yang diberikan kepada tuan rumah Jepang. Simbol tersebut menggambarkan harapan agar atlet Indonesia mencapai prestasi tertinggi, sekaligus menegaskan pentingnya sinergi antara NPC Indonesia, CdM, dan Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Ia menyampaikan bahwa koordinasi dan kerja sama menjadi kunci untuk mencapai target bersama.

Hasilnya, Indonesia menutup Asian Para Games 2026 dengan pencapaian membanggakan. Kontingen Merah Putih meraih 15 medali emas, 21 perak, dan 37 perunggu, atau total 73 medali. Indonesia menempati peringkat kedelapan klasemen akhir, sekaligus melampaui target awal tujuh medali emas.

Prestasi tersebut menjadi bukti kerja keras para atlet, pelatih, ofisial, NPC Indonesia, dan seluruh unsur pendukung kontingen.

Keberhasilan ini juga mendapat apresiasi Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah memberikan penghargaan berupa bonus kepada atlet peraih medali sebagai bentuk penghormatan negara atas perjuangan mereka mengharumkan nama Indonesia.

Bagi Teguh, keberhasilan atlet paralimpik tidak semata-mata tentang angka dalam klasemen. Lebih jauh, prestasi itu memperlihatkan bahwa keterbatasan fisik tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti bermimpi, berlatih, dan meraih prestasi.

Memimpin Aslinmas, Memperkuat Perlindungan Masyarakat

Pengabdian Teguh Subroto juga menemukan ruang lain melalui organisasi kemasyarakatan. Pada 30 September 2026, ia dikukuhkan sebagai Ketua DPD Asosiasi Satuan Perlindungan Masyarakat (Aslinmas) Provinsi Jawa Tengah.

Amanah tersebut mempertemukannya dengan kekuatan masyarakat yang tersebar hingga tingkat desa dan kelurahan.

Jawa Tengah memiliki sekitar 243.543 anggota Satlinmas yang tersebar di 8.562 desa dan kelurahan. Sementara itu, keanggotaan ASLINMAS Jawa Tengah tercatat mencapai 75.738 orang dan menjadi yang terbesar secara nasional berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan pengukuhan.

Angka tersebut bukan sekadar statistik organisasi. Di dalamnya terdapat potensi sumber daya manusia yang selama ini berada paling dekat dengan kehidupan masyarakat.

Anggota Satlinmas memiliki peran penting dalam membantu menjaga ketertiban lingkungan, kesiapsiagaan menghadapi bencana, perlindungan masyarakat, menjaga lingkungan, serta mendukung program pemerintah.

Teguh melihat bahwa kekuatan organisasi tidak cukup hanya diukur dari jumlah anggota. Soliditas, profesionalitas, kapasitas, dan manfaat nyata bagi masyarakat harus menjadi perhatian.

Karena itu, penguatan Aslinmas perlu diarahkan agar anggota tidak hanya menjalankan fungsi perlindungan masyarakat, tetapi juga memiliki kesempatan meningkatkan kapasitas dan kesejahteraan.

Gagasan tersebut memperlihatkan pendekatan yang lebih luas terhadap pembangunan masyarakat. Keamanan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan ketertiban, tetapi juga kondisi sosial dan ekonomi warga.

Masyarakat yang memiliki aktivitas produktif, hubungan sosial yang kuat, serta kemandirian ekonomi akan mempunyai modal lebih baik untuk menjaga lingkungan dan membangun ketahanan sosial.

Dari Perlindungan Masyarakat Menuju Kemandirian Ekonomi

Salah satu contoh konkret gagasan pemberdayaan tersebut terlihat melalui Setepeng Agrowisata Edukasi (SAE) di kawasan Sidorejo, Kelurahan Bergas Lor, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang.

Kawasan seluas sekitar 2,2 hektare itu dikembangkan sebagai ruang edukasi sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat. Di dalamnya terdapat peternakan ayam petelur, kolam budidaya ikan dengan sistem bioflok, serta greenhouse untuk kegiatan pertanian.

Program tersebut memperlihatkan bahwa organisasi perlindungan masyarakat dapat dikembangkan dengan pendekatan yang lebih produktif.

Anggota Aslinmas dan masyarakat sekitar memiliki peluang untuk belajar, terlibat dalam kegiatan usaha, mengembangkan keterampilan, serta memperoleh tambahan penghasilan.

Pengembangan SAE juga menarik karena memanfaatkan dukungan tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR, bukan mengandalkan APBD. Dengan demikian, kolaborasi antara masyarakat dan dunia usaha menjadi salah satu pintu untuk menggerakkan ekonomi lokal.

Dalam kegiatan peresmian SAE pada 30 September 2026, Teguh hadir mendampingi Jaksa Agung Muda Intelijen (Jamintel) Kejaksaan Agung, Prof. Reda Manthovani.

Program ini menjadi gambaran bahwa perlindungan masyarakat dan pemberdayaan ekonomi sebenarnya dapat berjalan beriringan.

Jika selama ini Satlinmas lebih dikenal melalui tugas menjaga ketertiban dan membantu penanganan keadaan darurat, melalui pendekatan pemberdayaan, anggota juga didorong menjadi bagian dari kegiatan ekonomi produktif.

Inilah salah satu arah pengembangan ASLINMAS yang menarik, dari organisasi yang berorientasi pada perlindungan masyarakat menuju organisasi yang turut berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan anggotanya.

“Aslinmas tidak boleh hanya menjadi organisasi yang hadir ketika masyarakat membutuhkan perlindungan dan pengamanan. Kita ingin anggota juga memiliki kemampuan, produktivitas, dan kemandirian ekonomi. Karena itu, pemberdayaan melalui kegiatan usaha dan pengembangan potensi lokal harus terus didorong agar keberadaan Aslinmas benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ungkap Teguh.

Dekat dengan Santri, Anak Yatim, dan Lingkungan Pesantren

Sisi humanis Teguh juga terlihat dalam kegiatan sosial yang menyentuh lingkungan pendidikan keagamaan.

Saat mendampingi Jamintel Prof. Reda Manthovani di Ponpes Sahabat Mata, Mijen, Kota Semarang, Selasa (29/9), Teguh turut hadir dalam peluncuran dan terobosan melalui inisiasi Kartu Donor Darah dan Golongan Darah Braille bagi penyandang tunanetra. Inovasi tersebut diperkenalkan sebagai terobosan pertama di Indonesia untuk memberikan akses informasi golongan darah yang lebih mudah dan mandiri bagi penyandang tunanetra.

Kartu yang dilengkapi informasi dalam huruf Braille tersebut diharapkan membantu penyandang tunanetra mengetahui golongan darahnya secara mandiri. Informasi tersebut juga memiliki arti penting ketika dibutuhkan dalam pelayanan kesehatan, termasuk dalam situasi yang memerlukan penanganan secara cepat.

Suasana haru mewarnai kegiatan ketika Prof. Reda Manthovani menyampaikan sambutan di hadapan ratusan penyandang tunanetra.

Prof. Reda tampak terharu dan sempat terisak. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan apresiasi kepada Kajati Jawa Tengah Teguh Subroto yang dinilainya telah menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat melalui pendekatan yang humanis.

Reda menyampaikan terima kasih kepada Kajati Teguh Subroto karena dinilai memberikan contoh bahwa tugas seorang jaksa tidak semata-mata berkaitan dengan penegakan hukum, tetapi juga dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan.

“Kalau jaksa hanya menekankan kewenangan semata, yang kita dapatkan hanya keadilan yang semu dan tidak terasa di masyarakat,” ujar Reda.

Menurutnya, penegakan hukum perlu berjalan seiring dengan pendekatan yang mampu menyentuh kehidupan masyarakat.

“Kalau penegak hukum dan metodenya humanis, keadilan akan terasa di hati masyarakat,” lanjutnya.

Demikian juga, pada Jumat, 30 Oktober 2026, bersama jajaran Aslinmas Jawa Tengah dan Kepala Kejaksaan Negeri Kota Semarang Agus Rujito, ia hadir dalam kegiatan bakti sosial di Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Darul Hasanah Al Mustofa, Kota Semarang.

Bantuan berupa beras dan berbagai kebutuhan pangan disalurkan untuk membantu memenuhi kebutuhan para santri dan anak-anak yang tinggal di lingkungan tersebut.

Kegiatan itu mungkin terlihat sederhana dibandingkan besarnya tugas seorang Kajati. Namun, kehadiran langsung di tengah masyarakat memiliki makna tersendiri.

Bagi anak-anak panti asuhan dan para santri, perhatian tidak selalu harus diwujudkan melalui program besar. Kunjungan, sapaan, bantuan kebutuhan sehari-hari, dan kepedulian dapat menjadi bentuk dukungan yang berarti.

Perhatian terhadap pesantren juga mempunyai dimensi yang lebih luas. Pesantren merupakan bagian penting dalam membangun karakter, pendidikan, moralitas, dan kehidupan sosial masyarakat.

Karena itu, menjalin komunikasi dan kepedulian dengan lingkungan pesantren menjadi salah satu bentuk upaya memperkuat hubungan antara institusi negara dan masyarakat.

Di tengah kesibukan menjalankan tugas penegakan hukum, ruang pengabdian sosial seperti ini memperlihatkan bahwa seorang pejabat publik tetap memiliki tanggung jawab moral untuk hadir dan peka terhadap lingkungan sekitarnya.

Banyak Bekerja daripada Mencari Sorotan

Ada karakter menarik yang dapat dibaca dari berbagai aktivitas Teguh Subroto: pengabdian tidak selalu harus ditampilkan melalui banyak pernyataan.

Dalam sejumlah ruang tugas, mulai dari pengawasan internal Kejaksaan, kepemimpinan institusi, dukungan kepada atlet paralimpik, hingga penguatan Aslinmas, yang dibutuhkan adalah kerja, koordinasi, konsistensi, dan kemampuan membangun kepercayaan.

Karakter pemimpin yang bekerja di balik layar bukan berarti menghindari publik. Sebaliknya, ia memahami bahwa keberhasilan sebuah program tidak ditentukan oleh seberapa sering nama seseorang disebut, melainkan oleh seberapa jauh pekerjaan tersebut memberikan manfaat.

Di dunia olahraga, hasilnya dapat dilihat melalui perjuangan atlet yang berhasil mengibarkan Merah Putih. Dalam ASLINMAS, keberhasilan diukur melalui soliditas organisasi, meningkatnya kapasitas anggota, dan manfaat pemberdayaan ekonomi. Sementara dalam kehidupan sosial, ukuran keberhasilannya adalah tumbuhnya kepedulian dan hubungan yang semakin dekat dengan masyarakat.

Tentu, setiap program membutuhkan evaluasi, kesinambungan, serta keterlibatan banyak pihak agar tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.

Namun, arah pengabdian yang menghubungkan penegakan hukum, kemanusiaan, olahraga, perlindungan masyarakat, dan ekonomi produktif merupakan gambaran kepemimpinan yang memiliki cakupan lebih luas.

Pengabdian yang Melampaui Jabatan

Mengenal Teguh Subroto berarti melihat seorang pejabat Kejaksaan dari berbagai sisi. Ia adalah jaksa yang mengemban tanggung jawab penegakan hukum, pemimpin institusi yang harus menjaga integritas organisasi, Deputy CdM yang ikut mendukung perjuangan atlet disabilitas, serta Ketua DPD ASLINMAS yang memiliki tanggung jawab memperkuat perlindungan dan pemberdayaan masyarakat.

Berbagai peran itu memperlihatkan bahwa pengabdian publik tidak selalu berjalan dalam satu jalur. Ada ruang untuk menegakkan hukum, membangun kepedulian, memperkuat organisasi, dan membuka kesempatan ekonomi bagi masyarakat.

Pada akhirnya, jabatan adalah amanah yang memiliki batas waktu. Namun, nilai dari sebuah pengabdian akan terus diingat ketika kehadirannya mampu memberikan manfaat.

Dari ruang kerja Kejaksaan hingga arena pertandingan di Nagoya, dari organisasi perlindungan masyarakat hingga lingkungan pesantren, Teguh Subroto memperlihatkan bahwa pengabdian dapat hadir dalam banyak bentuk.

Bukan semata-mata tentang siapa yang berdiri di depan, tetapi tentang siapa yang bersedia bekerja, membangun sinergi, dan memastikan masyarakat memperoleh manfaat.

Sebab, pemimpin yang sesungguhnya bukan hanya mereka yang memiliki kewenangan, melainkan mereka yang mampu mengubah amanah menjadi kerja nyata dan kehadiran menjadi sesuatu yang dirasakan masyarakat.

Redaktur: Sriyono

Penulis: Henri pelupessy

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.