Bonus Demografi Terancam Tak Optimal Jika Teknologi Justru Mengurangi Lapangan Kerja

Minggu, 01 Nov 2026, 06:45 WIB

Jakarta - Wakil Ketua Komisi VII DPR Rahayu Saraswati S. Djojohadikusumo mengingatkan kalangan pengusaha agar memastikan penerapan teknologi baru mampu meningkatkan produktivitas tanpa mengurangi kesempatan kerja, terutama di tengah tantangan Indonesia dalam memanfaatkan bonus demografi.

“Teman-teman saya, pengusaha, yang mau untuk membawa teknologi-teknologi baru, mari kita memastikan bahwa teknologi yang kita hadirkan itu untuk meningkatkan produktivitas, bukan untuk menghilangkan lapangan pekerjaan,” kata Saraswati saat diwawancarai dalam Rembuk Nasional Pemuda Indonesia III di Jakarta, Sabtu (31/10).

Ket. Foto: Wakil Ketua Komisi VII DPR sekaligus Ketua Dewan Pembina Rembuk Pemuda Rahayu Saraswati Djojohadikusumo diwawancarai pers saat Rembuk Nasional Pemuda Indonesia III di Jakarta, Sabtu (31/10). — Sumber: Antara

Ia menjelaskan Indonesia menghadapi tantangan dalam mengadopsi teknologi yang dikembangkan di negara-negara dengan kondisi ketenagakerjaan berbeda. Di sejumlah negara tersebut, teknologi dikembangkan untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja.

Namun, menurut dia, penerapan teknologi serupa di Indonesia perlu mempertimbangkan kondisi pasar kerja nasional yang memiliki jumlah penduduk besar dan membutuhkan lebih banyak kesempatan kerja.

Karena itu, Saraswati menekankan pentingnya kesadaran pengusaha dalam mempertimbangkan dampak penggunaan teknologi terhadap ketersediaan lapangan kerja di dalam negeri.

Ia menilai upaya menghadapi tantangan tersebut membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

“Itu semuanya dari lintas sektor, bahkan bisa dikatakan hexa-helix, itu harus bekerja sama,” ujar Ketua Dewan Pembina Rembuk Pemuda tersebut.

Menurut Saraswati, Rembuk Pemuda menjadi wadah bagi generasi muda dari berbagai latar belakang untuk berdiskusi dan mencari solusi bersama atas persoalan yang dihadapi masyarakat.

Ia mengatakan para pemuda yang terlibat dalam forum tersebut telah berkontribusi di berbagai bidang, mulai dari menjadi pengusaha yang membuka lapangan kerja hingga berkiprah sebagai peneliti dan akademisi.

Buka Kesempatan Kerja

Senada dengan hal tersebut, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mendorong generasi muda untuk menjadi inovator yang tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja.

“Saya sangat mendukung inisiatif seperti ini. Memang sudah seharusnya anak-anak muda terbaik bangsa hadir bukan hanya mencari lowongan kerja, tetapi juga bisa menciptakan pekerjaan,” ujar Yassierli.

Ia menilai Indonesia perlu meningkatkan jumlah inovator dengan mengoptimalkan potensi lulusan perguruan tinggi. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya terserap di pasar kerja, tetapi juga dapat membuka kesempatan kerja bagi orang lain.

“Anak muda sudah seharusnya tampil ke depan menjadi inovator. Dan dari inovator itulah yang akan meningkatkan produktivitas,” kata Menaker.

Menurut Yassierli, pengembangan inovasi perlu didukung ekosistem yang memungkinkan generasi muda tumbuh dan menghasilkan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi diperlukan untuk memperluas ruang bagi generasi muda dalam mengembangkan teknologi dan inovasi.

“Tentu pemerintah harus hadir, dan inilah pekerjaan rumah kita untuk bisa mengolaborasikan ini ke depan,” ujarnya.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.