Trump Didesak Simpan Riwayat Chatbot AI di Tengah Sorotan Keputusan Militer AS

Jumat, 30 Okt 2026, 06:03 WIB

Washington - Sejumlah anggota senior Partai Demokrat mendesak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Kamis (29/10), agar menyimpan seluruh catatan komunikasi resmi dengan chatbot kecerdasan buatan (AI). Mereka mempertanyakan apakah Grok, chatbot buatan Elon Musk, memengaruhi keputusan militer yang sensitif.

Dalam surat tertanggal Rabu (28/10), yang pertama kali diperoleh Politico, anggota Kongres Jamie Raskin dan Robert Garcia mengatakan pertanyaan yang diajukan Trump dan para ajudan Gedung Putih, beserta jawaban chatbot, termasuk dalam catatan kepresidenan yang wajib disimpan berdasarkan hukum federal.

Ket. Foto: Presiden AS Donald Trump menghabiskan waktu berjam-jam menggunakan Grok dalam pertemuan di Ruang Oval pada Desember 2025 bersama taipan teknologi Elon Musk. Dalam pertemuan itu, Trump antara lain menanyakan bagaimana reaksi warga Venezuela jika pasukan AS menangkap Presiden Nicolas Maduro. — Sumber: AFP

Mereka meminta pengarahan tertutup paling lambat 11 November yang membahas penggunaan AI oleh presiden, perlindungan keamanan, serta kemungkinan perusahaan eksternal mengakses percakapan sensitif.

"Jika Presiden Amerika mengandalkan saran kebijakan dari chatbot rancangan Musk yang ramah terhadap Hitler dan memiliki kecenderungan menghasilkan pornografi anak untuk menjalankan tugas resminya, rakyat Amerika berhak mengetahuinya," tulis mereka.

Pernyataan tersebut merujuk pada kontroversi sebelumnya ketika Grok menghasilkan pernyataan antisemit dan gambar anak-anak bernuansa seksual.

Surat itu menyusul laporan bahwa Trump menghabiskan waktu berjam-jam menggunakan Grok dalam pertemuan di Ruang Oval pada Desember 2025 bersama Musk. Dalam pertemuan tersebut, Trump dilaporkan bertanya bagaimana reaksi warga Venezuela jika pasukan AS menangkap Presiden Nicolas Maduro.

Grok dilaporkan menjawab bahwa banyak warga Venezuela akan menyambut baik kejatuhan Maduro. Pasukan AS menangkap Maduro beberapa pekan kemudian, tetapi belum ada bukti bahwa chatbot tersebut menentukan operasi itu.

Para anggota Kongres mempertanyakan dugaan ketergantungan Trump pada chatbot yang dikendalikan perusahaan swasta untuk mengambil keputusan terkait kebijakan luar negeri. Mereka memperingatkan bahwa jawaban yang dihasilkan AI dapat tidak akurat atau dimanipulasi.

Mereka juga merujuk pada laporan mengenai kesalahan intelijen yang melibatkan bantuan AI terkait sebuah kapal Tiongkok, serta dugaan bahwa ketergantungan berlebihan pada kecerdasan buatan turut berkontribusi terhadap serangan AS ke sebuah sekolah di Iran yang menewaskan lebih dari 100 anak.

"Jika militer Amerika Serikat membunuh puluhan anak sekolah yang tidak bersalah berdasarkan saran keliru dari chatbot AI, kita juga berhak mengetahuinya," tambah kedua anggota Kongres tersebut.

Namun, kedua peristiwa itu tidak membuktikan adanya peran Grok dalam pengambilan keputusan militer tersebut.

Mereka juga meminta penjelasan terperinci mengenai pembatasan pengiriman informasi rahasia ke chatbot, pengelolaan catatan percakapan, serta kemungkinan akses pihak ketiga terhadap catatan tersebut.

Permintaan itu mencakup chatbot lain, termasuk ChatGPT milik OpenAI, Claude milik Anthropic, dan Gemini milik Google.

Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada AFP bahwa pemerintah menyimpan seluruh catatan yang diwajibkan sesuai dengan ketentuan hukum.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.