Mentan Minta Bulog Serap Jagung Petani

Jumat, 30 Okt 2026, 00:25 WIB

JAKARTA - Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, meminta jajarannya menindaklanjuti keluhan petani dan peternak terkait penyerapan jagung, fasilitas pascapanen, hingga persaingan usaha di sektor unggas. Amran menegaskan pemerintah tidak boleh membiarkan petani dan peternak menghadapi kesulitan sendirian.

Untuk itu, ia meminta jajaran teknis, Perum Bulog, dan satuan tugas terkait menindaklanjuti setiap persoalan sesuai kewenangan masing-masing. “Kami tidak akan biarkan kalian sendiri,” ucap Amran dalam keterangannya di Jakarta, dikutip Kamis (29/10).

Ket. Foto: Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (tengah) — Sumber: Kementan

Salah satu keluhan datang dari petani jagung asal Lampung yang kesulitan menjual hasil panen kepada Bulog karena persyaratan kualitas, terutama kadar air dan aflatoksin. Keterbatasan fasilitas pengering juga membuat sebagian petani kesulitan memenuhi standar jagung kering simpan.

Menanggapi hal tersebut, Amran meminta Bulog memperjelas ketentuan penerimaan jagung agar petani memahami persyaratan yang berlaku. Ia juga menginstruksikan penyampaian ketentuan kadar air kepada seluruh jajaran Bulog di Indonesia.

“Pak Dirut Bulog, sampaikan seluruh Indonesia. Kadar air 20 persen diterima,” ujar Amran.

Persoalan pascapanen turut disampaikan peternak dari Blitar Selatan yang membutuhkan alat pengering jagung untuk menghadapi musim hujan. Amran meminta fasilitas pengering milik Bulog dan Kementerian Pertanian dioptimalkan, termasuk 89 unit yang disebut telah tersebar di kelompok tani, serta mempersiapkan tambahan 100 unit pada tahun berikutnya.

Bagi Amran, penyelesaian persoalan petani dan peternak harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Bantuan yang diberikan, menurutnya, perlu menjawab kebutuhan masyarakat di lapangan.

“Yang bagus tidak pidato. Melainkan ada bantuan,” ujar dia.

Selain jagung, peternak kambing mengeluhkan harga hasil usaha yang tidak membaik selama tiga tahun. Amran meminta jajaran terkait mengevaluasi persoalan impor kambing dan bahan baku pakan konsentrat agar kebijakan impor memperhatikan kemampuan produksi peternak dalam negeri.

“Selama Anda bisa produksi, enggak boleh (impor) masuk ke wilayah Indonesia. Itu prinsipnya kita bernegara,” kata dia.

Di sektor unggas, peternak meminta pemerintah meninjau aturan kemitraan yang dinilai memengaruhi persaingan antara peternak rakyat dan perusahaan integrator. Mereka berharap kebijakan memberikan ruang bagi peternak rakyat untuk mempertahankan usaha budidaya di tengah persaingan rantai usaha dari hulu hingga hilir.

Amran juga menyoroti kondisi ketika harga ayam dan telur di tingkat peternak melemah, tetapi harga di tingkat konsumen masih tinggi. Untuk membantu penyerapan produksi, ia meminta Bulog memperkuat penyerapan telur melalui dukungan anggaran Rp30 miliar.

“Ada anomali. Kenapa harga telur dengan ayam jatuh, tapi di konsumen juga tinggi?” kata dia.

Amran menegaskan pemerintah harus hadir membantu petani dan peternak mengatasi persoalan usaha mereka. Ia meminta seluruh jajaran terkait mengawal tindak lanjut aspirasi agar kebijakan dan bantuan mendukung kesejahteraan masyarakat.

“Tujuan pemerintah itu adalah menyejahterakan rakyat, melayani rakyat, melayani peternak. Bukan menzalimi,” ucap dia.

Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera Kabupaten Kendal, Suwardi, mengapresiasi perhatian pemerintah terhadap kondisi peternak yang menghadapi tekanan usaha selama berbulan-bulan. Ia menyebut Amran sebagai bapak bagi seluruh peternak Indonesia.

“Sudah tujuh bulan kami terpuruk. Pak Menteri sudah hebat, sudah maksimal untuk membela kami karena beliau adalah bapak kami semua peternak Indonesia,” kata Suwardi. ils/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.