• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Ubah Sel Darah Tua Jadi Se...

Ubah Sel Darah Tua Jadi Sel Saraf Muda

Kamis, 29 Okt 2026, 07:17 WIB

DALAM dunia biologi molekuler, mengarahkan sel tubuh dewasa untuk berganti identitas dan menjadi jenis sel lain sering kali diibaratkan seperti memaksa sebuah mobil mundur melintasi jalur yang curam.

Selama dua dekade terakhir, metode standar yang paling dominan dilakukan melalui dua tahapan utama: memutar balik sel dewasa hingga mencapai kondisi sel punca pluripoten terinduksi (induced pluripotent stem cells/iPSCs), sebelum kemudian mendorongnya berkembang kembali menjadi jenis sel yang diinginkan.

Ket. Foto: Sel induk saraf terinduksi (iNSC) - berasal dari sel darah donor berusia 101 tahun. — Sumber: Kelompok Penelitian Brüstle / Universitas Bonn

Namun, metode konvensional tersebut menyisakan kerumitan prosedural dan waktu yang tidak sedikit. Sebuah terobosan metodologis kini dihadirkan oleh tim peneliti dari University Hospital of Bonn dan University of Bonn, Jerman.

Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Aging Cell pada 3 Oktober 2026, mereka membuktikan keandalan teknik pemrograman ulang langsung (direct reprogramming) yang mengubah sel prekursor darah manusia menjadi sel punca saraf (induced neural stem cells) tanpa perlu melewati tahap pluripoten.

Pilihan untuk memintas tahap pluripoten ini menjadi titik balik penting dalam riset rekayasa seluler. Pada metode dua tahap konvensional, sel dewasa dipaksa kehilangan seluruh memori dan identitas khususnya hingga menyerupai kondisi embrional.

Meskipun terbukti berhasil, proses perantara ini menambahkan kompleksitas biologis dan memperpanjang waktu manipulasi di laboratorium. Sebaliknya, teknik pemrograman ulang langsung yang diterapkan tim Bonn bekerja seperti pengalihan jalur secara langsung, memangkas tahapan transisi yang tidak perlu tanpa mengorbankan kualitas sel yang dihasilkan.

Keunggulan metodologis ini tidak hanya terletak pada efisiensi waktu, melainkan juga pada kemampuan ilmuwan untuk melakukan pengamatan secara bertahap (longitudinal tracking). Selama masa eksperimen berlangsung dalam rentang 50 hari, para peneliti dapat mengukur dan melacak dinamika perubahan epigenetik secara berkala. Pengamatan berulang ini memberikan data yang jauh lebih rinci dibandingkan metode lama yang kerap hanya membandingkan titik awal dan titik akhir eksperimen.

Langkah pemantauan berkala tersebut memungkinkan ilmuwan membedah bagaimana penanda kimia pada DNA—seperti pola metilasi yang diukur melalui jam epigenetik—berubah dari hari ke hari. Dari data bertahap ini, terungkap bahwa proses peremajaan seluler tidak terjadi secara mendadak, melainkan berlangsung melalui fase-fase transisi yang teratur. Informasi mengenai kapan perubahan usia molekuler mulai terakselerasi menjadi pijakan krusial bagi peneliti untuk memahami faktor biologis apa saja yang mengendalikan laju peremajaan tersebut.

Direktur Institute of Reconstructive Neurobiology di University Hospital of Bonn, Prof. Dr. Oliver Brüstle, menegaskan bahwa nilai utama dari pendekatan langsung ini adalah transparansi proses yang dapat diamati secara terbuka oleh para ilmuwan.

“Kami berfokus pada fenomena yang berbeda, yaitu pengamatan bahwa sel mengalami peremajaan yang signifikan selama proses pemrograman ulang,” ujar Brüstle. Ia menambahkan bahwa metode langsung ini membantu peneliti memisahkan dua mekanisme yang selama ini saling tumpang-tindih, yakni bagaimana sel memperoleh identitas terbarunya dan bagaimana tanda-tanda molekuler penuaan berubah sepanjang proses transisi tersebut.

Penelitian yang dipimpin oleh Lea Jessica Berg bersama kolega lintas disiplin ini merekam bahwa peremajaan epigenetik tidak sekadar menurunkan angka indikator usia molekuler sel usia 80 tahun menjadi di bawah 20 tahun. Lebih dari itu, perubahan tersebut secara fungsional membuat sel punca saraf yang dihasilkan benar-benar menunjukkan karakteristik dan perilaku biologis layaknya sel muda.

Dampak dari efisiensi metodologis ini sangat luas bagi masa depan biologi regeneratif dan pemodelan penyakit. Dengan memintas tahap iPSC, para peneliti di berbagai belahan dunia kini memiliki cetak biru untuk mengembangkan model seluler yang lebih ringkas, stabil, dan terarah.

Dalam jangka panjang, pendekatan ini diyakini dapat mempercepat akselerasi riset penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer, karena para ilmuwan dapat dengan cepat menghasilkan sel punca saraf yang relevan untuk pengujian obat dan analisis penyakit tanpa terhalang rumitnya birokrasi molekuler masa lalu. hay

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.