- Home
-
- Luar Negeri
-
- Trump Tuduh Demokrat Akali...
Trump Tuduh Demokrat Akali Pemilu Alaska Lewat Kandidat Senama
Kamis, 29 Okt 2026, 13:56 WIBWashington - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Rabu (28/10), mendesak agar kandidat Senat dari Partai Demokrat Mary Peltola dan seorang pesaing yang memiliki nama sama dengan senator petahana dari Partai Republik di Alaska dicoret dari surat suara pemilu pekan depan. Trump menuding Partai Demokrat menjalankan skema ilegal untuk membingungkan pemilih.
Desakan itu muncul setelah investigasi The New York Times melaporkan bahwa sejumlah operator politik Partai Demokrat yang berupaya mengalahkan Senator Republik Dan Sullivan diam-diam merekrut kandidat yang disebut sebagai spoiler, termasuk seseorang yang juga bernama Dan Sullivan, untuk mengalihkan suara dari senator petahana tersebut.
"Baru saja diketahui bahwa Partai Demokrat di Alaska secara ilegal mencari dan merekrut seorang pria bernama Dan Sullivan," tulis Trump di platform Truth Social miliknya.
Trump menuduh Partai Demokrat melakukan sumpah palsu dengan memberikan keterangan tidak benar di bawah sumpah di pengadilan federal. Ia menuntut agar senator petahana diizinkan mengikuti pemilu tanpa kehadiran Peltola maupun "Dan Sullivan PALSU" dalam surat suara.
Kepada wartawan pada hari yang sama, Trump mengatakan Peltola dan pihak lain yang diduga terlibat harus dituntut secara hukum. "Bagi saya, itu adalah kecurangan pemilu pada tingkat tertinggi," katanya.
Senator Sullivan mengungkapkan kemarahannya atas polemik tersebut, yang berkembang menjadi masalah besar bagi kampanye Peltola hanya enam hari sebelum pemilu pada 3 November.
"Kandidat yang saya hadapi telah menjalankan skema selama lebih dari setahun untuk mengelabui warga Alaska. Hal itu menunjukkan penghinaan total terhadap masyarakat negara bagian ini," kata Sullivan kepada pembawa acara Fox News, Sean Hannity.
"Dia telah berbuat curang dan berbohong kepada warga Alaska."
The New York Times mencatat bahwa merekrut kandidat untuk memecah suara lawan, praktik yang dikenal sebagai ballot stacking, pada umumnya legal dan telah digunakan oleh kedua partai di Alaska.
Pada 2024, misalnya, mantan anggota Partai Republik yang tidak banyak dikenal, Anthony Frascone, mengalahkan kandidat Partai Demokrat Mondaire Jones dalam pemilihan pendahuluan Partai Working Families di Negara Bagian New York yang diikuti sedikit pemilih.
Tim kampanye Jones dan Partai Working Families yang berhaluan kiri menuduh Frascone sebagai kandidat pengganggu suara dari Partai Republik. Sejumlah pemimpin lokal Partai Demokrat dan sekelompok pemilih menggugat untuk mencoret namanya dari surat suara, tetapi hakim di Westchester memutuskan bahwa Frascone tetap dapat mengikuti pemilu.
Investigasi The New York Times tidak menemukan bukti yang memastikan adanya tindak pidana dalam kasus Alaska tersebut maupun menguatkan tuduhan Trump mengenai sumpah palsu.
Menurut surat kabar itu, upaya tersebut melibatkan sejumlah staf senior dan pengacara Peltola, serta pejabat di Komite Kampanye Senator Partai Demokrat (Democratic Senatorial Campaign Committee/DSCC). Laporan itu didasarkan pada wawancara, puluhan pesan teks, serta dokumen yang disiapkan untuk kemungkinan gugatan terhadap tim kampanye.
Peltola "Pasti Mengetahui"
Salah satu orang yang disebut direkrut adalah Daniel J. Sullivan, seorang guru pensiunan dari komunitas nelayan terpencil di Alaska. Ia menyatakan mengikuti pemilu atas kemauannya sendiri.
Surat kabar itu mengidentifikasi operator politik Partai Demokrat Jerid Kurtz sebagai salah satu tokoh utama dalam upaya tersebut. Menurut laporan itu, Kurtz berkeliling Alaska menggunakan nama samaran untuk mendekati calon kandidat.
The New York Times juga melaporkan bahwa Kurtz mendorong seorang kandidat Partai Demokrat untuk mundur setelah pemilihan pendahuluan pada Agustus. Langkah tersebut membuka satu tempat dalam surat suara berisi empat kandidat dengan sistem pemungutan suara pilihan berperingkat (ranked-choice voting) bagi Gerald Heikes, kandidat Partai Republik yang juga disebut direkrut.
Heikes mengatakan kepada surat kabar tersebut bahwa dirinya direkrut oleh seseorang dari wilayah Midwest AS. Ia mengaku tidak menganggap orang tersebut memiliki kemiripan dengan foto Kurtz. Kurtz tidak menanggapi permintaan komentar dari The New York Times.
Mantan manajer kampanye Peltola, Elisa Rios, mengatakan kepada surat kabar itu bahwa sang kandidat "pasti mengetahui" proyek tersebut, tetapi tidak terlibat secara langsung. Ia juga menyebut bahwa sejumlah staf DSCC memperkenalkan Kurtz kepada tim kampanye.
Rios, yang dipecat pada Agustus dan berencana mengajukan gugatan atas pemecatannya, kemudian berupaya menarik kembali pernyataannya. Namun, The New York Times menyatakan keterangannya konsisten dengan hasil peliputan lainnya.
Tim kampanye Peltola dan DSCC membantah telah merekrut kandidat mana pun.
Pengungkapan tersebut muncul beberapa hari setelah Trump memerintahkan Departemen Kehakiman AS menggugat Alaska terkait pencantuman nama Sullivan kedua dalam surat suara.
Gugatan itu bertujuan menunda pengesahan hasil pemilu apabila Peltola mengalahkan senator petahana dengan selisih tipis dan suara yang diberikan kepada kandidat dengan nama sama berpotensi mengubah hasil pemilihan.
Pada Juni, Mahkamah Agung Alaska mengukuhkan hak guru pensiunan tersebut untuk mengikuti pemilu dan menolak upaya Partai Republik untuk mencoret namanya dari surat suara.
Pemerintah negara bagian Alaska telah meminta hakim federal untuk menolak gugatan Departemen Kehakiman dengan alasan tidak memiliki dasar hukum.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: AFP
Berita Terkait:
-
Spotify Hadirkan Fitur Audio Lossless untuk Pengguna di Indonesia
-
DPR AS Tolak Resolusi Pemakzulan Terhadap Presiden Trump
-
Sabalenka Melaju ke Semifinal Wimbledon Ketiga Kalinya
-
BP Tapera Perkuat Sinergi Pembiayaan Perumahan Syariah Guru Pesantren
-
Pemkot Palu Sasar 31.316 Penerima Manfaat Bantuan Pangan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.