Terlalu Gandrung dengan Kecerdasan Buatan, Bisa Menggerus Pemikiran Kritis
Kamis, 29 Okt 2026, 00:55 WIBJAKARTA â Anak-anak muda yang terlalu gandrung dengan kecerdasan buatan (AI) harus berhati-hati, bisa menggerus pemikiran kritis. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie mengatakan bahwa penggunaan kecerdasan buatan secara berlebihan berisiko menurunkan kemampuan berpikir kritis generasi muda, sehingga perlu adanya penyeimbang latihan kognitif.
âJadi kalau kita menggunakan AI untuk men-training, misalnya kita diskusi sama AI-nya, itu mungkin akan bisa membantu kita. Tetapi, kalau kita menggunakan AI untuk mendapatkan jawaban cepat, pasti otaknya juga tidak akan bisa berkembang,â kata Stella Christie di Jakarta, Rabu.
Menurut dia, hal ini sudah dibuktikan di berbagai penelitian yang ada. Penelitian menunjukkan penggunaan AI dapat berkaitan dengan penurunan kemampuan akademik dan analisis apabila teknologi tersebut digunakan untuk menggantikan proses berpikir mandiri.
Ia mengutip studi yang menemukan bahwa siswa yang menggunakan AI setiap hari, memperoleh skor sains lebih rendah dibandingkan mereka yang hampir tidak pernah menggunakan teknologi tersebut. Selain itu, ia juga merujuk dari penelitian Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang membandingkan kemampuan mahasiswa menulis esai dengan bantuan AI, mesin pencari internet, dan tanpa bantuan teknologi.
Menurut Stella, penelitian tersebut menunjukkan kualitas esai mahasiswa yang menggunakan AI lebih buruk dibandingkan mereka yang mengerjakan tugas tanpa bantuan AI. Ia juga mencontohkan penelitian terhadap calon dokter yang kemampuan diagnostiknya turun dari 28 persen menjadi 22 persen setelah menggunakan AI selama tiga bulan. Namun, Stella tidak merinci metode maupun konteks pengukuran dalam penelitian tersebut.
âPenggunaan AI yang seperti apa yang bisa membuat kita tambah pintar atau kurang pintar,â ucap Stella. Sebagai ilmuwan kognitif, ia menilai otak perlu terus dilatih agar kemampuan berpikir dapat berkembang. AI, menurut dia, tetap dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses belajar, misalnya melalui diskusi yang mendorong pengguna menganalisis suatu persoalan.
Sebaliknya, penggunaan AI hanya untuk memperoleh jawaban instan tanpa melakukan proses berpikir mandiri berisiko menghambat perkembangan kemampuan kognitif. Stella menegaskan pendekatan terhadap penggunaan AI tidak cukup dilakukan melalui larangan. Masyarakat, khususnya generasi muda, perlu memahami cara menggunakan teknologi tersebut secara tepat.
Di lingkungan pendidikan tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mendorong keterlibatan mahasiswa dalam penelitian serta forum akademik yang dapat merangsang kemampuan berpikir mandiri dan menghasilkan inovasi. Selain tantangan akademik, Stella menyoroti ancaman AI terhadap peluang kerja lulusan baru. Pekerjaan seperti memasukkan data, kini dapat dilakukan AI dengan lebih cepat dan biaya lebih rendah.
Karena itu pemerintah berupaya memetakan kebutuhan tenaga kerja secara kuantitatif dan kualitatif, kemudian menyelaraskannya dengan pendidikan tinggi. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat kompetensi lulusan agar sesuai dengan kebutuhan industri.
Stella menilai kolaborasi nyata antara kampus dan industri menjadi penting agar generasi muda tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu mengembangkan kemampuan dan menghasilkan inovasi yang bermanfaat.Â
- Kecerdasan Buatan
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Aloysius Widiyatmaka
Berita Terkait:
-
Belgia 'Gosong', Kebakaran Hutan Lahap 3.000 Hektare Lahan
-
Menteri ESDM Ajak Kampus Dukung Ketahanan Nasional
-
Bridgestone Indonesia Perkuat Komitmen Sustainability lewat Pemberdayaan Masyarakat dan Konservasi.
-
Sapi Milik Peternak Bantul Terpilih Menjadi Hewan Kurban Presiden
-
Lestari Moerdijat: Perkuat Sistem Pendidikan Nasional Berdasarkan Tri Pusat Pendidikan Ki Hajar Dewantara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.