Tampil Solid di Kuartal III, Fundamental BNI Kuat Topang Rebound Saham Himbara
Kamis, 29 Okt 2026, 15:44 WIB | Oleh: Mohammad Zaki Alatas
Doc: Dok. Ist
JAKARTA - Kinerja keuangan kuartal III 2026 PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) menjadi salah satu sentimen positif bagi pemulihan saham perbankan BUMN setelah mengalami tekanan akibat kekhawatiran pasar terhadap isu Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Tekanan sempat meningkat setelah MSCI mengumumkan konsultasi mengenai kemungkinan reklasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Sentimen tersebut mendorong sikap risk-off investor, terutama investor asing, dan menekan harga sejumlah saham berkapitalisasi besar, termasuk perbankan BUMN.
Saham BBNI sempat turun ke level 2.800-an pada pertengahan Oktober 2026. Hingga penutupan perdagangan Rabu (28/10/2026), harga saham BBNI telah kembali ke kisaran 3.400-an, mendekati level sebelum tekanan akibat sentimen MSCI.
Analis Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji mengatakan, tekanan terhadap saham-saham Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), khususnya BBNI, BBRI, dan BMRI, tidak terlepas dari meningkatnya ketidakpastian setelah pengumuman konsultasi MSCI.
Menurut Nafan, isu tersebut mendorong kehati-hatian investor karena berpotensi memengaruhi alokasi portofolio dan arus dana investasi berbasis indeks.
Namun, setelah mengalami koreksi cukup dalam, valuasi saham perbankan mulai kembali menjadi perhatian investor.
"Selain itu, investor mulai mencermati valuasi saham perbankan yang relatif lebih menarik setelah koreksi serta ekspektasi terhadap kinerja keuangan kuartal III 2026," kata Nafan, Kamis (29/10/2026).
Dia menilai saham-saham perbankan berkapitalisasi besar juga memiliki likuiditas yang relatif baik sehingga dapat menjadi pilihan investor ketika mulai kembali melakukan akumulasi.
Meski demikian, pemulihan harga belum otomatis menandakan terjadinya pembalikan tren secara berkelanjutan. Investor masih perlu mencermati konsistensi arus dana asing, volume transaksi, serta perkembangan kebijakan MSCI.
*Fundamental BNI Jadi Penopang*
Di tengah volatilitas pasar, kinerja kuartal III 2026 menunjukkan fundamental BNI tetap solid.
BNI membukukan laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) sebesar Rp27,5 triliun, tumbuh 11,6% secara tahunan atau Year on Year (YoY).
Kinerja operasional tersebut turut ditopang pendapatan bunga bersih (NII) yang tumbuh 13,6% YoY menjadi Rp33,2 triliun. BNI juga membukukan laba bersih sebesar Rp16,1 triliun, meningkat 6,6% YoY.
Pertumbuhan bisnis juga tercermin dari penyaluran kredit yang meningkat 22,2% YoY menjadi Rp992,5 triliun.
Dari sisi pendanaan, current account saving account (CASA) BNI tumbuh 19,6% YoY menjadi Rp733,7 triliun. Pada saat yang sama, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross berada di level 1,9%.
Kombinasi pertumbuhan kredit, penguatan dana murah, serta perbaikan kualitas aset menjadi faktor penting dalam melihat daya tahan fundamental BNI di tengah volatilitas pasar.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!