Trump Sebut Pemilu Brasil Curang, Hubungan dengan Lula Terancam Memanas

Rabu, 28 Okt 2026, 02:00 WIB

Washington – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berisiko semakin memperburuk hubungan yang sudah tegang dengan Brasil setelah menyebut pemilu yang dimenangi Luiz Inacio Lula da Silva sebagai pemilu yang “curang”, meskipun kedua negara masih memiliki kepentingan strategis bersama.

“Saya tidak memihak siapa pun, tetapi sejujurnya, pemilu itu tampak seperti pemilu curang lainnya. Itu memberikan citra yang buruk di mata dunia,” kata Trump kepada wartawan pada Senin (26/10), sehari setelah Presiden Brasil Lula da Silva secara mengejutkan berhasil mempertahankan kekuasaannya.

Ket. Foto: (FOTO KOMBO) Kombinasi foto arsip ini menampilkan Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva, yang baru saja memenangkan masa jabatan keempatnya, dan Presiden AS Donald Trump. — Sumber: AFP

Sejumlah analis menilai pernyataan tersebut bukan pertanda baik bagi hubungan bilateral kedua negara.

“Jika situasinya berkembang ke arah itu dan Amerika Serikat bersikeras bahwa pemilu tersebut tidak sah, saya kira hal itu akan semakin meningkatkan permusuhan antara Trump dan Lula,” kata Evan Ellis dari Center for Strategic and International Studies, lembaga kajian yang berbasis di Washington, kepada AFP.

“Lula yang kecewa dan tidak lagi dibatasi oleh kebutuhan menghadapi pemilu mendatang mungkin akan semakin gencar menentang pemerintahan Trump dalam berbagai persoalan, mulai dari kampanye melawan kartel, Kuba, Iran, Israel, hingga tarif.”

Namun, Trump tidak sepenuhnya melontarkan kritik terhadap presiden Brasil yang berhaluan kiri tersebut. Ia justru menyatakan, “Saya menyukai Lula, saya memiliki hubungan yang sangat baik dengannya.”

Keduanya merupakan politikus berpengalaman dalam menghadapi pertarungan politik. Mereka mampu berunding, tetapi cenderung enggan memberikan konsesi.

Lula, 81 tahun, dan Trump, 80 tahun, tidak mengalami kesulitan berkomunikasi melalui telepon dan telah beberapa kali bertemu. Keduanya bahkan saling melontarkan pujian di depan publik sebelum kembali memperlihatkan perbedaan mendasar di antara mereka.

Kedua pemerintahan saat ini berada dalam kebuntuan diplomatik. Amerika Serikat belum memiliki duta besar yang ditempatkan di Brasilia, sementara duta besar Brasil untuk Washington berada dalam ketidakpastian setelah visa AS miliknya dicabut.

Mitra Sekaligus Pesaing

Di tengah kebuntuan tersebut, kedua negara tetap memiliki kepentingan bersama dan hubungan ekonomi yang signifikan.

Brasil merupakan kekuatan perdagangan utama di Amerika Latin. Negara itu memasok bahan mentah, kopi, dan daging ke Amerika Serikat, yang merupakan perekonomian terbesar di dunia. Produk-produk tersebut menjadi komoditas penting ketika Trump berupaya mengatasi inflasi yang terus bertahan di dalam negeri.

Washington juga berkepentingan mendorong Brasil untuk menjauh dari Tiongkok dan ingin menyelesaikan kesepakatan mengenai unsur tanah jarang yang penting bagi industri teknologi dan manufaktur.

Lula, yang secara tegas menyatakan bahwa Brasil bukanlah “halaman belakang” siapa pun, akan semakin memperkuat posisinya di panggung internasional setelah berhasil mengamankan masa jabatan presiden keempatnya.

Pemerintahannya menjadi salah satu kekuatan utama yang mewakili kubu kiri Amerika Latin di tengah inisiatif Shield of the Americas yang digagas Trump. Inisiatif tersebut bertujuan memerangi kartel dan mempererat hubungan dengan pemerintahan di kawasan yang dalam beberapa waktu terakhir bergeser ke haluan kanan.

Larissa Wachholz dari Brazilian Center for International Relations memperkirakan Brasil akan terus “mendiversifikasi hubungan-hubungannya”.

Namun, dalam persoalan keamanan kawasan dan kejahatan terorganisasi, kepentingan Washington dan Brasilia berpotensi bertemu.

James Story, mantan duta besar AS sekaligus pendiri perusahaan konsultan Global Frontier Advisors, mengatakan terdapat peluang untuk berbagi informasi intelijen serta informasi keuangan dan perbankan.

Meski demikian, ia memperkirakan Brasil akan tetap berada di luar jika Shield of the Americas mengorganisasi operasi militer bersama di kawasan tersebut.

“Brasil menentukan jalannya sendiri dalam banyak persoalan ini,” kata Story. “Karena itu, saya tidak memperkirakan Brasil akan memberikan banyak bantuan. Saya juga tidak berpikir pemerintah AS akan mendekati Brasil untuk meminta bantuan.”

  • Politik Brasil

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.