Hingga September 2026, CIMB Niaga Bukukan Laba Sebelum Pajak Rp5,8 Triliun

Rabu, 28 Okt 2026, 20:48 WIB

JAKARTA- PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) membukukan laba konsolidasi sebelum pajak sebesar 5,8 triliun rupiah hingga September 2026. Di tengah tantangan ekonomi, perseroan mempertahankan pertumbuhan kredit, memperkuat pendanaan, dan memperluas layanan digital, meskipun menghadapi tekanan margin bunga dan peningkatan pencadangan.

Presiden Direktur dan CEO CIMB Niaga, Lani Darmawan, mengatakan stabilitas kinerja ditopang pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan, disiplin biaya, dan efisiensi operasional. Menurut dia, tekanan profitabilitas tidak menghalangi perseroan menjaga kondisi keuangan tetap solid.

Ket. Foto: Nasabah mendapat penjelasan dari Customer Service CIMB Niaga di Jakarta, beberapa waktu lalu. CIMB Niaga per September 2026 atau kuartal III tahun ini membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp5,8 triliun rupiah. — Sumber: istimewa

Hingga akhir September 2026, total kredit dan pembiayaan CIMB Niaga mencapai 242,6 triliun rupiah, tumbuh 6,7 persen secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan terutama berasal dari segmen korporasi yang meningkat 15,1 persen, diikuti perbankan komersial sebesar 6,4 persen dan usaha kecil dan menengah (UKM) sebesar 1,9 persen.

Laba operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit/PPoP) tercatat stabil sebesar 8,2 triliun rupiah. Sementara itu, pendapatan nonbunga tumbuh 7,8 persen yoy dan laba per saham mencapai 178,65 rupiah per saham.

Meski demikian, tekanan margin bunga dan peningkatan pencadangan menjadi tantangan bagi profitabilitas. Pertumbuhan kredit belum tentu langsung mendorong kenaikan laba apabila biaya dana meningkat atau kebutuhan pencadangan membesar.

Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) CIMB Niaga mencapai 273,7 triliun rupiah. Dana murah atau current account saving account (CASA) tumbuh 4,4 persen menjadi 197 triliun rupiah, dengan rasio CASA sebesar 72 persen.

Total aset konsolidasian meningkat 4,2 persen secara tahunan menjadi Rp384,8 triliun. Perseroan juga mempertahankan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) sebesar 23,7 persen dan rasio kredit terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) sebesar 87,7 persen.

Di bidang keberlanjutan, pembiayaan CIMB Niaga jelas Lani mencapai 65 triliun rupiah atau setara 26,6 persen dari total portofolio kredit. "Perseroan turut memperkuat penerapan taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) guna mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon," kata Lani.

Transformasi Digital

Sementara itu, Unit Usaha Syariah (UUS) CIMB Niaga papar Lani membukukan pembiayaan 49,4 triliun rupiah dan DPK 52,5 triliun rupiah. Transformasi digital juga menjadi penopang pengembangan bisnis. Sebanyak 90 persen transaksi nasabah dilakukan melalui kanal digital. Pada platform OCTO, transaksi QRIS tumbuh 69 persen yoy, transfer BI-FAST meningkat 38 persen, dan pembayaran tagihan naik 29 persen.

"Transaksi investasi melalui OCTO, yang mencakup reksa dana, Surat Berharga Negara (SBN) Ritel, dan obligasi, meningkat 22 persen dari sisi jumlah transaksi, dengan nilai transaksi tumbuh 19 persen," katanya.

Per 30 September 2026, CIMB Niaga mengoperasikan 41 Digital Branch dan 30 Digital Hub. Penguatan layanan digital diharapkan meningkatkan efisiensi sekaligus memperluas penggunaan produk perbankan.

"Ke depan, kami akan terus menghadapi dinamika perekonomian dengan langkah adaptif dan penuh kehati-hatian, sekaligus melakukan berbagai upaya untuk mengatasi tantangan profitabilitas dalam jangka pendek. Fokus kami adalah memperkuat kualitas aset, mendorong pertumbuhan kredit secara selektif, mengoptimalkan komposisi pendanaan, serta meningkatkan pendapatan berbasis komisi yang berkelanjutan, dengan tetap menjaga efisiensi biaya," pungkas Lani.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Vitto Budi

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.