Harry Kane Rebut Ballon d’Or, Ungguli Yamal dan Mbappe Serta Akhiri Penantian Inggris Selama 25 Tahun

Selasa, 27 Okt 2026, 09:19 WIB

LONDON — Harry Kane mencapai puncak kariernya dengan meraih Ballon d’Or 2026. Penyerang Bayern Munich itu mengungguli Lamine Yamal dan Kylian Mbappe dalam perebutan penghargaan individu paling bergengsi di sepak bola dunia, sekaligus mengakhiri penantian Inggris selama 25 tahun sejak Michael Owen memenanginya pada tahun 2001. Momen bersejarah itu terasa kian istimewa karena seremoni berlangsung di London, kota kelahiran Kane, Selasa (27/10) dini hari WIB.

Di kategori putri, Alexia Putellas merebut Ballon d’Or untuk ketiga kalinya. Penghargaan itu menjadi pengakuan atas perannya dalam membawa Barcelona menjuarai Liga Champions musim lalu, sebelum ia pindah ke London City Lionesses.

Ket. Foto: Harry Kane memegang trofi Ballon d'Or. — Sumber: Goal

Seremoni Ballon d’Or pertama yang digelar di Inggris itu sempat diwarnai kendala lalu lintas London. Sejumlah bintang sepak bola terlambat tiba sehingga acara mengalami penundaan hampir satu jam.

Namun, malam tersebut berakhir manis bagi Kane. Bermain di kota kelahirannya, penyerang berusia 33 tahun itu meraih penghargaan individual tertinggi dalam kariernya sekaligus mengakhiri penantian panjang Inggris. Sebelumnya, Michael Owen menjadi pemain Inggris terakhir yang memenangi Ballon d’Or pada 2001.

Kane tampil luar biasa sepanjang musim lalu dengan mencetak 73 gol dalam 65 pertandingan bersama klub dan tim nasional. Ketajamannya membantu Bayern Munich meraih gelar ganda di kompetisi domestik, yakni liga dan piala Jerman

Ia juga membukukan enam gol saat Inggris finis di posisi ketiga Piala Dunia.

“Saya senang mewakili negara saya. Membawa pulang trofi ini dan menjadi pemain Inggris yang memenanginya merupakan sesuatu yang sangat istimewa, terlebih di London,” kata Kane kepada AFP. “Malam yang luar biasa. Saya benar-benar bahagia.”

Meski berstatus pencetak gol terbanyak sepanjang masa timnas Inggris dan Tottenham Hotspur, koleksi trofi Kane sebelumnya relatif terbatas. Ia pernah merasakan kekalahan bersama Tottenham pada final Liga Champions 2019 melawan Liverpool, serta dua kali gagal mengangkat trofi setelah Inggris kalah di final Piala Eropa.

Kepindahannya ke Bayern pada 2023 menjadi titik penting dalam perjalanan kariernya. Konsistensi mencetak gol bersama raksasa Jerman itu akhirnya mengantarkan Kane ke puncak penghargaan individual sepak bola dunia.

“Keputusan pindah ke Bayern Munich merupakan langkah besar dalam karier saya. Sebagian orang menganggapnya sebagai risiko, tetapi bagi saya, yang terpenting adalah terus berkembang dan melihat apakah saya bisa menjadi lebih baik bersama rekan setim, tim, dan klub,” ujar Kane.

“Perpindahan itu membawa saya ke level yang berbeda. Sebagai penyerang tengah Bayern dan Inggris, saya dituntut mencetak gol. Saya sangat bangga bisa melakukannya sesering itu sepanjang tahun lalu,” tambahnya.

Putellas Kembali Berjaya

Di kategori putri, Putellas kembali menguasai panggung Ballon d’Or. Pemain Spanyol itu sebelumnya memenangi penghargaan tersebut pada 2021 dan 2022. Gelar ketiganya menandai kebangkitan setelah cedera anterior cruciate ligament (ACL) sempat menghambat kariernya empat tahun lalu.

Putellas menggantikan rekan senegaranya, Aitana Bonmati, yang meraih penghargaan dalam tiga edisi sebelumnya. Musim Bonmati berakhir lebih cepat akibat patah tulang kaki.

“Penghargaan ini merupakan hasil dari semua yang kami raih musim lalu,” kata Putellas.

Ia juga mengungkapkan rasa syukurnya atas perjalanan panjang bersama Barcelona. “Saya sangat bersyukur bisa bermain selama 14 musim di Barcelona. Itu sesuatu yang luar biasa, seperti sebuah kisah yang sempurna.”

Sementara itu, Yamal kembali mencuri perhatian melalui penampilannya di luar lapangan. Pemain sayap Barcelona tersebut mengenakan setelan hitam dengan hiasan bunga merah muda di bagian depan.

Yamal meraih penghargaan pemain muda terbaik untuk ketiga kalinya secara beruntun. Namun, pemain berusia 19 tahun itu gagal menjadi pemenang Ballon d’Or termuda sepanjang sejarah dan harus puas menempati posisi ketiga. Ia dinilai tidak mampu mempertahankan performa terbaiknya saat Spanyol menjuarai Piala Dunia.

Mbappe finis di posisi kedua. Penyerang Real Madrid itu kembali harus menunda ambisinya meraih Ballon d’Or meski tampil sebagai pencetak gol terbanyak di Piala Dunia, Liga Champions, dan La Liga. Produktivitasnya belum cukup untuk mengantarkan Prancis maupun Real Madrid meraih gelar kolektif yang menentukan.

De la Fuente Pelatih Terbaik

Pelatih timnas Spanyol, Luis de la Fuente, dinobatkan sebagai pelatih putra terbaik. Ia mengungguli Luis Enrique dari Paris Saint-Germain (PSG) dan Mikel Arteta, pelatih Arsenal, setelah membawa Spanyol menjuarai Piala Dunia.

“Ini merupakan pengakuan atas pekerjaan yang dilakukan dengan sangat baik selama bertahun-tahun,” kata De la Fuente..

Menurut dia, sepak bola Spanyol, baik dalam aspek kepelatihan maupun permainan, dapat menjadi contoh keberhasilan pembinaan pemain muda yang membuka jalan menuju prestasi di masa depan.

Di kategori putri, penghargaan pelatih terbaik diraih Pere Romeu, yang menangani Barcelona.

PSG gagal membawa pulang penghargaan utama individual meski berhasil menjuarai Liga Champions untuk kedua kalinya secara beruntun. Klub asal Prancis itu tetap memperoleh pengakuan dengan dinobatkan sebagai klub putra terbaik.

Sementara itu, dua penjaga gawang Spanyol, Unai Simon dan Cata Coll, masing-masing meraih penghargaan kiper putra dan putri terbaik.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.