Swasembada Pangan Diklaim Tercapai, Mampukah Daya Beli Warga Terjaga?
Minggu, 25 Okt 2026, 06:30 WIBMedan - Ekonom Universitas Sumatera Utara (USU) Wahyu Ario Pratomo menilai swasembada pangan nasional harus diikuti pengendalian harga dan penguatan daya beli masyarakat agar peningkatan produksi pangan benar-benar dirasakan sebagai manfaat oleh masyarakat.
âSwasembada pangan penting untuk memperkuat ketahanan pangan dan memastikan masyarakat dapat memperolehnya dengan harga terjangkau,â ujar Wahyu di Medan, Sabtu (24/10).
Menurut dia, keberhasilan swasembada tidak cukup diukur dari kemampuan memenuhi kebutuhan pangan melalui produksi dalam negeri. Pemerintah juga harus memastikan ketersediaan bahan pangan diikuti harga yang terkendali sehingga masyarakat mampu memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.
Ia menekankan bahwa produksi pangan yang melimpah tidak serta-merta menjamin terpenuhinya kebutuhan masyarakat apabila harga komoditas masih sulit dijangkau oleh kelompok berdaya beli rendah.
âPemerintah harus memastikan masyarakat memiliki daya beli yang cukup dan harga pangan tetap terkendali,â ujarnya.
Wahyu mengatakan stabilitas harga menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga daya beli masyarakat. Karena itu, pemerintah mesti memantau ketersediaan pasokan dengan memperhitungkan faktor cuaca, produktivitas pertanian, dan berbagai kondisi yang dapat memengaruhi hasil panen.
Menurutnya, keberlanjutan swasembada pangan bergantung pada kemampuan pemerintah menjaga pasokan dan stabilitas harga secara bersamaan. Dengan demikian, ketahanan pangan tidak hanya tercermin dari kecukupan produksi, tetapi juga dari kemampuan masyarakat mengakses bahan pangan.
8 Komoditas
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyatakan bahwa dalam dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Indonesia telah mencapai swasembada delapan komoditas pangan, disertai peningkatan nilai tukar petani.
Delapan komoditas tersebut meliputi beras, jagung, gula konsumsi, cabai rawit, cabai besar, telur ayam, daging ayam, dan bawang merah.
Zulkifli menyebut capaian itu didukung penguatan produksi pangan dalam negeri, perlindungan harga hasil pertanian, penyediaan pupuk bersubsidi, serta pengembangan ekonomi masyarakat desa.
Saat menghadiri panen raya padi di Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara, Sabtu, ia juga memaparkan sejumlah kebijakan untuk memperkuat ketahanan pangan dan mempercepat swasembada nasional.
Kebijakan tersebut mencakup bantuan beras bagi 33,2 juta penerima manfaat, stabilisasi harga melalui program beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), serta peningkatan produktivitas pertanian melalui perbaikan irigasi, kemudahan akses pupuk, dan penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan).
Pemerintah mengalokasikan bantuan beras sebanyak 10 kilogram per bulan bagi setiap penerima yang memenuhi ketentuan untuk periode Oktober hingga Desember. Dengan skema penyaluran sekaligus, penerima direncanakan memperoleh total 30 kilogram beras secara gratis untuk tiga bulan.
Program tersebut diharapkan membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pokok sekaligus menjaga daya beli, terutama ketika harga pangan mengalami tekanan.
- Daya Beli Masyarakat
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Loops Cable Flexo Hadir dengan Indikator Arus Aktif
-
Menaker: Transisi Hijau Buka Peluang Kerja Baru bagi Tenaga Kerja Indonesia.
-
Lebih dari 3.000 Individu Pari Manta Terdokumentasi di Perairan Raja Ampat
-
Festival Pangan Lokal Angkat Warisan Kuliner Warga Kepulauan Seribu
-
KCIC Beri Diskon Tiket Whoosh hingga 50% dan Rp150.000, Waktu dan Kuota Terbatas!
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.