Mulai 2027, Aturan Pelacakan Atlet Tenis untuk Tes Doping Diperketat
Jumat, 23 Okt 2026, 00:20 WIBLONDON â Para petenis akan menghadapi aturan pelacakan keberadaan yang lebih ketat untuk kepentingan tes antidoping mulai Januari 2027. International Tennis Integrity Agency (ITIA) mengumumkan pada hari Kamis (22/10) bahwa pengecualian yang selama ini diberikan kepada tenis selama turnamen akan dihapus.
Perubahan tersebut merupakan bagian dari penerapan World Anti-Doping Code yang mewajibkan atlet dalam Registered Testing Pool (RTP) menyediakan waktu 60 menit setiap hari untuk menjalani tes doping. Ketentuan ini berlaku saat kompetisi berlangsung maupun di luar kompetisi.
Sebelumnya, tenis mendapat pengecualian karena jadwal pertandingan dan aktivitas pemain sulit diprediksi. Namun, mulai 2027, pengecualian tersebut tidak lagi berlaku bagi petenis yang terdaftar dalam RTP.
ITIA, badan independen yang bertugas menjaga integritas dan keadilan dalam tenis, menyatakan akan mengurangi jumlah pemain dalam kelompok RTP. Sekitar 80 persen pemain yang saat ini terdaftar akan dipindahkan ke kelompok pengujian yang diperluas.
Pemain dalam kelompok pengujian yang diperluas tersebut tidak diwajibkan menyediakan jendela waktu 60 menit setiap hari.
âPemain yang tetap berada dalam RTP yang telah diperkecil wajib menyediakan waktu 60 menit setiap hari, seperti atlet dalam semua cabang olahraga yang mematuhi ketentuan Badan Antidoping Dunia (WADA), baik saat bertanding maupun di luar kompetisi,â demikian pernyataan ITIA.
Meski komposisi kelompok pengujian berubah, jumlah pemain yang dipilih untuk menjalani tes dari kedua kelompok secara keseluruhan diperkirakan relatif sama dengan saat ini. ITIA juga memperkirakan frekuensi dan volume pengujian tidak akan banyak berubah.
Perubahan aturan tidak hanya menyangkut kewajiban pelacakan keberadaan pemain. Ketentuan baru juga memberikan perlindungan lebih besar bagi atlet yang dapat membuktikan bahwa hasil tes positif disebabkan kontaminasi.
Kontaminasi tersebut dapat berasal dari obat-obatan, makanan, minuman, paparan lingkungan, ataupun orang lain. Dengan ketentuan baru ini, keadaan yang menyebabkan hasil positif dapat dipertimbangkan dalam penanganan kasus antidoping.
Aturan tersebut juga memberikan fleksibilitas lebih besar dalam penjatuhan sanksi pada kondisi tertentu. Untuk beberapa kasus penggunaan narkotika rekreasional yang tidak berkaitan dengan peningkatan performa olahraga, opsi penanganan yang berorientasi pada rehabilitasi dapat diterapkan.
ITIA akan memberi tahu para pemain pada November mengenai kelompok pengujian tempat mereka ditempatkan. Namun, klasifikasi masing-masing pemain tidak akan diumumkan kepada publik.
Terlepas dari kelompok pengujian tempat mereka terdaftar, seluruh petenis tetap wajib memberikan sampel ketika diminta petugas pengawas doping.
Penolakan untuk memberikan sampel dapat berujung pada larangan bertanding hingga empat tahun.
Penerapan aturan baru ini menjadi bagian dari penyesuaian sistem antidoping tenis terhadap ketentuan global. Perubahan tersebut sekaligus menyeimbangkan kebutuhan pengawasan yang lebih konsisten dengan karakteristik jadwal pertandingan tenis yang dinamis.
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Benny Mudesta Putra
Berita Terkait:
-
Angka Kelahiran di Jepang Catat Rekor Terendah pada 2024
-
Stan Wawrinka Dapat ‘Wild Card’ Prancis Terbuka
-
DPRD - Pemprov DKI Teken Pakta Integritas Pengesahan Rancangan APBD 2026
-
Yogyakarta Gandeng Generasi Muda Ciptakan Lingkungan Bersih, Ini Langkahnya!
-
Pemkot Tangerang Siapkan Intervensi Terpadu demi Pastikan Anak Tetap Sekolah
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.