• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Kesehatan Mental Remaja Bu...

Kesehatan Mental Remaja Bukan Tanggung Jawab Individu, Keluarga dan Sekolah Berperan Penting

Jumat, 23 Okt 2026, 00:15 WIB

JAKARTA — Kesepian, tekanan sosial, dan kesulitan mencari dukungan masih menjadi tantangan bagi banyak anak muda, meskipun mereka tumbuh di tengah konektivitas digital yang semakin luas. Menanggapi persoalan tersebut, Zurich, Z Zurich Foundation, dan UNICEF mendorong generasi muda untuk mengenali tekanan emosional serta membangun hubungan sosial yang lebih bermakna melalui kampanye global Turn Down the Noise.

Kampanye tersebut merupakan inisiatif pertama Global Youth Mental Health Coalition, koalisi kesehatan mental generasi muda yang dipimpin UNICEF dan diikuti Zurich serta Z Zurich Foundation sebagai anggota pendiri. Kampanye ini mengajak anak muda mengenali inner noise atau “kebisingan dalam diri”, yakni tekanan dan berbagai penilaian yang dapat memengaruhi cara mereka memandang diri sendiri maupun lingkungan sekitar.

Ket. Foto: Gregory Renand, Head of the Z Zurich Foundation, dalam kampanye global Turn Down the Noise. Perusahaan asuransi ini dan UNICEF mendorong kesehatan mental generasi muda melalui kampanye Turn Down the Noise dan program Thriving Together yang melibatkan keluarga, sekolah, serta masyarakat. — Sumber: Z Zurich Foundation

Melalui film pendek dan platform interaktif TurnDownTheNoise.global, kampanye ini mendorong anak muda mengambil langkah sederhana untuk membangun hubungan yang lebih sehat, seperti memulai percakapan, mengungkapkan perasaan, dan mendengarkan orang lain tanpa menghakimi.

Tekanan yang dihadapi anak muda dapat berasal dari berbagai faktor, antara lain kekerasan, pelecehan, tekanan akibat penggunaan media sosial, interaksi di ruang digital, serta penilaian orang lain. Karena itu, kampanye ini menekankan pentingnya lingkungan sosial yang membuat anak muda merasa aman untuk bercerita dan mencari dukungan.

Kampanye tersebut juga mengingatkan bahwa dukungan teman sebaya bukan pengganti bantuan profesional. Anak muda yang merasa kewalahan, tidak aman, atau kesulitan menghadapi situasi tertentu didorong berbicara dengan orang dewasa yang dipercaya serta mencari bantuan dari tenaga profesional atau layanan kesehatan mental dan perlindungan anak yang kompeten.

Program Thriving Together Menjangkau 34 Provinsi

Di Indonesia, upaya mendukung kesehatan mental generasi muda diwujudkan melalui program Thriving Together, yang dilaksanakan UNICEF Indonesia bersama Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN serta Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dengan dukungan Zurich dan Z Zurich Foundation.

Program ini berfokus pada penguatan kesehatan mental dan kesejahteraan psikososial remaja melalui keterlibatan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pendekatan tersebut menempatkan lingkungan tempat remaja tumbuh sebagai bagian penting dalam membangun hubungan yang sehat, meningkatkan ketahanan diri, serta mencegah kekerasan.

Pada fase pertama, yang berlangsung pada 2021–2024, program ini menjangkau 318.048 individu di Indonesia. UNICEF dan BKKBN juga mendukung peningkatan kapasitas Forum Generasi Berencana (GenRe) di 34 provinsi, dengan membekali remaja, orang tua, guru, dan pengasuh pengetahuan serta keterampilan untuk mendukung tumbuh kembang remaja.

Program Thriving Together memasuki fase kedua pada September 2024 hingga Desember 2027. Pada tahap ini, fokusnya adalah memperluas pelaksanaan program sekaligus mengintegrasikan pendekatannya ke dalam berbagai program pemerintah, termasuk inisiatif pembangunan keluarga yang menyasar remaja dan orang tua. Program tersebut telah menjangkau 34 provinsi di Indonesia.

Melalui pelibatan keluarga, sekolah, dan masyarakat, program ini berupaya memperkuat sistem dukungan agar remaja dapat menghadapi tantangan kehidupan, membangun hubungan sosial yang positif, dan berkembang secara optimal.

Secara global, Thriving Together merupakan kemitraan antara Z Zurich Foundation dan UNICEF yang diluncurkan pada 2021 untuk mendukung kesehatan mental dan kesejahteraan generasi muda. Global Youth Mental Health Coalition menargetkan menjangkau 150 juta anak dan kaum muda di 150 negara pada 2030 melalui berbagai inisiatif kesehatan mental.

Kesehatan Mental Membutuhkan Dukungan Lingkungan

Head of the Z Zurich Foundation Gregory Renand mengatakan, tantangan kesehatan mental generasi muda membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Menurutnya, kolaborasi dengan UNICEF dan Global Youth Mental Health Coalition memungkinkan para mitra menggabungkan jangkauan global dengan pengalaman anak muda untuk mendorong hubungan sosial yang mendukung kesejahteraan mental.

“Tidak ada satu organisasi pun yang dapat mengatasi tantangan kesehatan mental generasi muda sendirian. Melalui kemitraan kami dengan UNICEF dan Global Youth Mental Health Coalition, Turn Down the Noise menunjukkan kekuatan aksi kolektif dengan menggabungkan jangkauan para mitra global dan pengalaman nyata kaum muda untuk mendorong terciptanya koneksi sosial yang sangat penting bagi kesehatan mental dan kesejahteraan,” ujarnya melalui keterangan tertulis pada hari Kamis (22/10/2026).

Direktur PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk Tini Nurianto mengatakan, kesehatan mental merupakan fondasi penting bagi anak muda untuk berkembang dan mencapai potensi mereka. Ia menekankan perlunya kontribusi lingkungan sekitar dalam menciptakan ruang yang aman dan suportif bagi remaja.

Melalui Thriving Together, Zurich ingin memperkuat peran keluarga, sekolah, dan komunitas dalam mengenali tantangan kesehatan mental, mengurangi stigma, serta mendorong remaja agar berani mencari bantuan.

“Komitmen ini merupakan bagian dari upaya jangka panjang kami untuk mendukung kesejahteraan mental generasi muda dan membangun komunitas yang lebih tangguh,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Perlindungan Anak UNICEF Indonesia Muhammad Rafiq Khan menyatakan, kesehatan mental remaja tidak hanya dipengaruhi ketahanan individu, tetapi juga lingkungan tempat mereka tumbuh dan membangun hubungan dengan orang lain.

Menurutnya, keluarga, sekolah, masyarakat, dan platform digital memiliki peran dalam melindungi anak dari kekerasan, mendorong hubungan yang positif, serta memastikan anak merasa aman, dihargai, didengar, dan didukung.

UNICEF bekerja sama dengan pemerintah dan mitra untuk memperkuat sistem dukungan, meningkatkan literasi kesehatan mental, dan membantu remaja memperoleh layanan yang sesuai ketika dibutuhkan.

“Kemitraan kami dengan Zurich dan Z Zurich Foundation turut mendukung upaya ini agar setiap anak dapat tumbuh, berkembang, dan mencapai potensi terbaiknya,” ucapnya.

Melalui kampanye Turn Down the Noise dan program Thriving Together, Zurich, Z Zurich Foundation, dan UNICEF mendorong anak muda untuk mulai membangun hubungan yang lebih bermakna melalui tindakan sederhana, termasuk menghubungi teman, mengungkapkan perasaan, dan mencari dukungan dari orang yang dipercaya.

Bagi masyarakat yang mengalami atau mengetahui kekerasan terhadap anak, bantuan dapat diakses melalui Layanan Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) 129, layanan resmi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Layanan ini tersedia melalui telepon 129 atau WhatsApp 08111-129-129 untuk memperoleh informasi, pendampingan, dan rujukan ke layanan yang sesuai.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.