Harga Bawang Merah Anjlok, Petani Solok Didorong Raup Untung dari Bawang Goreng
Jumat, 23 Okt 2026, 02:36 WIBSolok, Sumbar - Dinas Pertanian Kabupaten Solok, Sumatera Barat, mengajak petani mengembangkan hilirisasi bawang merah untuk meningkatkan nilai tambah hasil panen di tengah penurunan harga komoditas tersebut.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Solok Deslirizaldi di Solok, Kamis (22/10), mengatakan pengolahan bawang merah menjadi bawang goreng dapat sebagai alternatif usaha bagi petani untuk meningkatkan pendapatan ketika harga bawang merah segar mengalami penurunan di pasaran.
Menurut dia, bawang goreng memiliki peluang pasar karena banyak diminati masyarakat. Pengolahan hasil panen menjadi produk siap konsumsi juga berpotensi memberikan nilai tambah dibandingkan dengan penjualan bawang merah dalam bentuk segar.
Ia mencontohkan peluang tersebut berdasarkan pengalamannya saat mendampingi rombongan Kementerian Pertanian ke kawasan Alahan Panjang, Kabupaten Solok. Dalam kunjungan itu, rombongan membeli bawang goreng dengan harga mencapai Rp500 ribu per kilogram.
Meski demikian, ia mengingatkan petani agar memperhitungkan biaya produksi dan pengolahan, menjaga kualitas produk, serta memperhatikan kemasan dan pemasaran sebelum mengembangkan usaha bawang goreng agar dapat memberikan keuntungan.
Selain mengembangkan produk olahan, Dinas Pertanian Kabupaten Solok mengimbau petani mengatur pola tanam dan menghindari penanaman bawang merah secara serentak dalam jumlah besar untuk mengurangi risiko kelebihan pasokan saat panen.
Petani juga disarankan melakukan diversifikasi dengan menanam komoditas hortikultura lain, seperti cabai, secara bergiliran dengan mempertimbangkan kondisi lahan, kebutuhan pasar, serta biaya produksi.
Kepala Dinas Pertanian tersebut mengatakan harga cabai saat ini lebih tinggi dibandingkan dengan bawang merah sehingga dapat menjadi salah satu pertimbangan petani dalam menentukan komoditas yang akan dikembangkan pada musim tanam berikutnya.
"Jangan berburu menanam bawang merah. Masih banyak tanaman lainnya dengan harga yang cukup menjanjikan bagi petani," ujarnya.
Biaya Produksi Tingggi
Sementara itu, salah seorang petani bawang di Alahan Panjang Andi (45) mengatakan penurunan harga bawang merah berlangsung cukup lama. Harga komoditas tersebut turun dari Rp27 ribu menjadi Rp19 ribu per kilogram, termasuk bawang merah berukuran besar dengan kualitas yang baik.
Petani juga menyebut hasil panen kali ini didominasi bawang merah berukuran sedang sehingga harga jual yang diperoleh belum sesuai dengan harapan.
Di sisi lain, biaya produksi pertanian masih relatif tinggi, terutama untuk perawatan tanaman dan pengadaan sarana produksi.
Kondisi tersebut membuat petani menghadapi risiko kerugian ketika harga jual hasil panen menurun.
Petani juga mengeluhkan kabut asap yang menambah tantangan dalam pemeliharaan tanaman bawang merah.
Mereka harus mengeluarkan biaya tambahan untuk perawatan, sementara hasil panen dan harga jual belum mampu menutup seluruh biaya yang dikeluarkan.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pengembangan produk olahan, pengaturan pola tanam, dan diversifikasi komoditas sebagai upaya mengurangi ketergantungan petani pada penjualan bawang merah segar sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil pertanian di Kabupaten Solok.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Pemprov Sulawesi Tengah Dorong Hilirisasi Kakao Tingkatkan Nilai Ekonomi
-
DPR RI Berharap Pemprov Sulsel Hadirkan Kurikulum Pariwisata Sejak SD
-
Telkom Solution Perkuat Bisnis B2B ICT, Bidik Pasar Asia Pasifik
-
Kabar Besar untuk Warga Bogor Barat, Pemkab Bocorkan Rancang 6 Stasiun Baru
-
Reboot Film Home Alone, Disney Bujuk Macaulay Culkin Kembali
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.