Prancis Waspadai Bentrokan Jelang Kongres Partai Sayap Kanan

Kamis, 22 Okt 2026, 03:10 WIB

WASHINGTON - Pemerintah Prancis menghadapi tekanan keamanan dan politik setelah kerusuhan dalam demonstrasi pada akhir pekan lalu. Sementara aksi protes baru dan rencana pemogokan buruh berpotensi memperpanjang ketegangan. Situasi tersebut juga menjadi perhatian Amerika Serikat (AS) yang memperingatkan kemungkinan bentrokan antara kelompok antifasis dan pihak sayap kanan menjelang kongres Partai Reli Nasional (RN) pada 24-25 Oktober mendatang.

Menurut laporan Fox News yang mengutip dokumen Departemen Luar Negeri AS Selasa (20/10), kelompok demonstran diperkirakan kembali menggelar aksi di sekitar lokasi kongres RN di Orleans. Aksi tersebut dinilai berpotensi memicu bentrokan, membuka celah keamanan, serta memperdalam polarisasi politik di Prancis.

Ket. Foto: Mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di Lannion, Prancis, Rabu (21/10) menuntut perbaikan kondisi pembelajaran. — Sumber: Fred TANNEAU/AFP

Dokumen itu juga mengindikasikan bahwa insiden keamanan menjelang atau selama kongres dapat meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan Presiden Emmanuel Macron. Kegagalan aparat mengendalikan situasi berpotensi dimanfaatkan RN dan kekuatan politik kanan-tengah untuk mengkritik penanganan keamanan oleh pemerintah.

Kongres RN, partai yang dipimpin politikus Marine Le Pen, berlangsung ketika Prancis masih menghadapi dampak kerusuhan yang dipicu persoalan biaya hidup dan kondisi pendidikan. Perkembangan tersebut menambah tantangan bagi pemerintah dalam menjaga ketertiban sekaligus merespons tuntutan masyarakat.

Kerusuhan Meluas

Ketegangan meningkat setelah demonstrasi pada Sabtu (17/10) berujung bentrokan dengan polisi dan aksi perusakan di sejumlah kota. Di Limoges, massa membakar gedung balai kota bersejarah, sedangkan sejumlah gedung administrasi di Marseille dan kota-kota lain dilaporkan menjadi sasaran serangan.

Aksi penjarahan juga terjadi di sejumlah pusat perdagangan. Massa merusak etalase dan membawa barang dagangan dari berbagai toko, termasuk butik merek mewah, terutama di Paris dan Marseille.

Kementerian Dalam Negeri Prancis memperkirakan sekitar 550.000 orang mengikuti demonstrasi tersebut, termasuk 110.000 orang di Paris. Lebih dari 2.000 orang dilaporkan ditahan pada Minggu (18/10).

Reuters dalam laporan 19 Oktober menyebutkan bahwa kerusuhan menimbulkan kerusakan pada ribuan usaha dan mendorong pemerintah memperketat langkah pengamanan. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan yang bermula dari tuntutan sosial telah berkembang menjadi tantangan ketertiban umum dengan konsekuensi politik dan ekonomi.

Di tengah situasi tersebut, tekanan terhadap pemerintah juga datang dari kalangan pekerja. Ketua Konfederasi Umum Buruh (CGT), Sophie Binet, pada Rabu (21/10) menyerukan pemogokan mulai 5 November.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.