Nandur Srawung Dilakukan Dinas Kebudayaan Yogyakarta
Kamis, 22 Okt 2026, 00:54 WIBYOGYAKARTA â Tanggal 21-28 Oktober ini Yogyakarta punya gelaran âNandur Srawung.â Apa itu? Kegiatan ini dilakukan Taman Budaya Yogyakarta (TBY) sebagai upaya memetakan seni rupa kontemporer Indonesia.
âPameran Nandur Srawung Taman Budaya Yogyakarta bertema Akademi: Lanskap, berupaya membaca dan memetakan seni rupa kontemporer Indonesia dari berbagai sudut pandang," kata Kepala TBY Purwiati dalam konferensi pers di Yogyakarta, Rabu.
Menurut dia, melalui pameran Nandur Srawung, tim kurator merancang tema Akademi sebagai platform kuratorial yang merujuk pada seluruh ruang produksi pengetahuan dengan fokus pada pengembangan praktik, pengetahuan, dan jejaring bagi seniman muda Indonesia.
"Lewat pameran dan program publik, Nandur Srawung 2026 menelusuri beragam gagasan artistik, metode kerja, praktik berkesenian, dan keterlibatan publik seni. Semua itu menjadi bahan untuk 'menggambar' peta seni kontemporer Indonesia hari ini," katanya.
Dalam pameran seni rupa, Nandur Srawung 2026 melibatkan 100 seniman terpilih dari 264 seniman, mereka dari berbagai wilayah seperti Yogyakarta, Jawa Timur, Lampung, Bali, Jambi, dan Riau, dengan berbagai latar belakang dan medium. "Pameran ini menampilkan keragaman praktik para seniman muda sekaligus mempresentasikan karya-karya yang memiliki relevansi dengan tema utama," katanya.
Demi memperkaya pembacaan lanskap seni kontemporer Indonesia, program yang hadir selama pelaksanaan seperti Kelas Penulisan Seni, Diskusi Publik, Kuliah Umum, Lifetime Achievement Award dan Pidato Kebudayaan, Wicara Seniman, Kios Seni, dan Audience Recognition Award.
"Program kelas penulisan seni merupakan platform pengembangan kapasitas yang dirancang mengasah kemampuan peserta dalam menulis, membaca, dan mengartikulasikan gagasan mengenai seni kontemporer yang diikuti 10 penulis seni muda dari Yogyakarta dan sekitarnya," katanya.
Menurut dia kelas akan dipandu sejumlah fasilitator dengan fokus pembelajaran terkait kritik seni, observasi, analisis karya dan pameran, serta penulisan kontekstual dengan mempertimbangkan berbagai perspektif sosial, budaya, dan praktik artistik.
Dia mengatakan, terdapat agenda Diskusi Publik: Ide-ide di (Balik) Pendidikan Seni bermaksud untuk membaca praktik pendidikan seni dari "dalam" dan "luar" termasuk juga menavigasikan tantangan dan strategi keberlangsungannya dalam ekosistem seni.
Di sisi lain, Kuliah Umum: Festival dan Seni menitikberatkan pada seluk-beluk di balik keberadaan festival seni dalam memetakan pertanyaan-pertanyaan seputar ketimpangan relasi kuasa, perbedaan kepentingan, akumulasi nilai, dan tata kelola serta sistem manajerial yang kontekstual.
"Agar karya yang dipamerkan dapat dibaca dari lebih banyak sudut pandang, akan dihadirkan lima seniman sebagai narasumber. Dalam program ini, peserta Kelas Penulisan Seni berperan sebagai penanggap sebagai ruang latihan menulis, membaca, dan menanggapi karya secara langsung," katanya.
- Seni Budaya
- Presisi Pemetaan
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Aloysius Widiyatmaka
Berita Terkait:
-
Rivalitas Klasik Persija vs Persib, Sekjen PSSI Ajak Jakmania dan Bobotoh Bangun Kebersamaan Lewat Sepak Bola, Jaga Perdamaian!
-
Motorola Razr 60: Ponsel Lipat Stylish dengan Cover Screen Fungsional
-
Prajurit TNI AL Hadir di Acara Diduga Ajang Transgender Thailand, Mabes TNI Siap Evaluasi.
-
Posyandu DIY Kini Tangani Enam Bidang Pelayanan Dasar Masyarakat
-
Nusantara Buka Peluang Produksi Budi Daya Perikanan di Penajam
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.