- Home
-
- Luar Negeri
-
- Lima Orang Didakwa atas Re...
Lima Orang Didakwa atas Rencana Menabrakan Mobil pada Komedian Taiwan yang Buat Lelucon tentang Xi Jinping
Kamis, 22 Okt 2026, 00:10 WIBTAIPEI â Lelucon tentang Presiden Tiongkok, Xi Jinping, diduga menjadi pemicu rencana serangan terhadap komedian Taiwan, Huang Yi-hao. Lima pria didakwa setelah jaksa mengungkap dugaan upaya mencederai Huang melalui tabrakan kendaraan, yang disebut melibatkan seseorang dari Tiongkok daratan.
Jaksa penuntut di New Taipei, Rabu (21/10), mengatakan seorang pria dari Tiongkok daratan yang menggunakan nama samaran âKâ diduga membayar kelima terdakwa untuk melukai Huang hingga membutuhkan perawatan di rumah sakit.
Menurut jaksa, kasus ini menunjukkan dugaan penggunaan kekerasan untuk membungkam kritik politik di Taiwan.
âKasus ini melibatkan insiden serius di mana Partai Komunis Tiongkok diduga menggunakan taktik penindasan lintas batas untuk mengarahkan unsur-unsur yang melanggar hukum di negara kita agar menekan suara-suara politik yang berbeda pendapat melalui kekerasan ekstrem,â demikian pernyataan jaksa.
Berdasarkan penyelidikan, alat pelacak GPS diduga dipasang pada skuter Huang beberapa bulan sebelum serangan untuk memantau pergerakan dan mengidentifikasi rutinitas hariannya.
Pada 11 September, dua terdakwa diduga menabrak sepeda motor Huang ketika ia sedang dalam perjalanan pulang. Namun, aksi tersebut berhenti setelah mereka mendengar Huang berteriak kesakitan.
Huang mengalami memar di bagian panggul. Setelah kejadian, para tersangka diduga berpura-pura membantu mengurus klaim asuransi untuk mendapatkan foto sertifikat medis Huang, yang kemudian dikirimkan kepada K sebagai bukti bahwa serangan telah dilakukan.
K diduga menjanjikan bayaran sebesar 450.000 dolar Taiwan atau sekitar 13.900 dolar AS kepada para pelaku. Namun, ia menolak membayar seluruh jumlah tersebut karena menilai luka Huang terlalu ringan.
Kasus ini menambah rangkaian dugaan intimidasi terhadap Huang setelah materi komedinya menyinggung Partai Komunis Tiongkok dan Xi Jinping.
Dalam salah satu pertunjukannya, Huang mengolok-olok penampilan Xi dengan membandingkannya dengan karakter Winnie-the-Pooh. Ia juga menyindir kebijakan China terkait Hong Kong, penanganan pandemi Covid-19, serta kondisi pasar properti.
Pada Mei lalu, dua orang juga didakwa setelah sebuah klub di Taipei yang menjadi lokasi pertunjukan Huang diduga dikotori dengan kotoran manusia dan cat, beberapa jam sebelum acara berlangsung.
Lev Nachman, profesor ilmu politik di Universitas Nasional Taiwan, mengatakan bahwa kasus Huang perlu dilihat dalam konteks lebih luas mengenai dugaan tekanan terhadap para pengkritik pemerintah Tiongkok.
âPenting untuk diingat bahwa apa yang kita baca jelas merupakan kasus yang lebih ekstrem, tetapi ancaman dan tindakan kekerasan terhadap para kritikus Partai Komunis di Taiwan telah terjadi selama bertahun-tahun,â kata Nachman.
Dewan Urusan Daratan Taiwan menyatakan pada Oktober bahwa sedikitnya 126 orang telah terdampak dugaan penindasan lintas negara oleh Tiongkok.
Pemerintah Taiwan selama ini menuduh Beijing berusaha membungkam para pengkritiknya di pulau yang memiliki pemerintahan sendiri tersebut. Tiongkok mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak menutup kemungkinan menggunakan kekuatan militer untuk mengambil alih pulau itu.
Di tengah proses hukum tersebut, Huang menegaskan tidak akan membatalkan pertunjukan mendatangnya. Ia juga menyampaikan kekhawatiran mengenai masa depan kebebasan berbicara di Taiwan apabila kritik terhadap Partai Komunis Tiongkok dibalas dengan kekerasan.
âJika orang dapat diperlakukan seperti ini hanya karena mengkritik Partai Komunis Tiongkok padahal partai itu bahkan tidak memerintah Taiwan, bagaimana kita dapat berharap untuk mempertahankan kebebasan berbicara kita saat ini jika PKT suatu saat memerintah Taiwan?â tulis Huang dalam unggahannya.
Dalam unggahan lain di Facebook, Huang mengatakan bahwa dirinya bukan pahlawan, meskipun tetap bertekad melanjutkan pertunjukannya.
âSaya menulisnya karena itu lucu,â katanya. âJika saya berhenti, itu hanya karena saya sudah bosan.â
Kasus ini kini berlanjut ke proses peradilan. Dugaan keterlibatan pihak dari Tiongkok daratan serta motif politik di balik serangan terhadap Huang masih harus dibuktikan melalui proses hukum.
- Konflik Tiongkok-Taiwan
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Alibaba.com Luncurkan Accio Work Berbasis AI untuk UKM Indonesia
-
Tiongkok Konfirmasi Integrasi Rudal Hipersonik ke Kapal Perusak Utama, Armada AS Wajib Waspada
-
Australia Samarkan Tank Abrams Mirip Tank Tiongkok, Sinyal Konflik Besar Indo-Pasifik
-
Kebakaran Lahan di Bone Bolango Gorontalo Berhasil Dipadamkan Tim Gabungan.
-
Tim SAR Gabungan Natuna Temukan Awak KM Ocean Three
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.