BMKG: El Nino Sebabkan Musim Hujan Diprakirakan Mundur
Kamis, 22 Okt 2026, 12:30 WIBJAKARTA - BMKG memperingatkan, potensi peningkatan kejadian hujan ekstrem di Indonesia menjelang akhir 2026 hingga awal 2027. Kondisi tersebut, perlu diwaspadai karena berisiko memicu bencana hidrometeorologi, terutama banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengungkapkan kedatangan musim hujan tahun ini diperkirakan mengalami keterlambatan dibandingkan pola biasanya. Fenomena El Nino yang berlangsung sangat kuat, disebut menjadi salah satu faktor utama bergesernya awal musim hujan di Indonesia.
Faisal menjelaskan, pengaruh El Nino terhadap kondisi iklim Indonesia menyebabkan periode kemarau berlangsung lebih lama. Akibatnya, sejumlah wilayah diperkirakan baru mulai memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2026.
"Kalau masuknya musim hujan, karena ini kebetulan kemarau kita ini bertepatan dengan El Nino sangat kuat. Maka masuknya musim hujan agak mundur," kata Faisal dalam keterangannya di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10).
Meski mengalami pergeseran waktu, BMKG memperkirakan, jumlah curah hujan secara umum masih berada dalam kategori normal. Artinya, akumulasi hujan yang turun diprediksi tidak jauh berbeda dari rata-rata klimatologis selama tiga dekade terakhir.
Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta membuat potensi cuaca ekstrem menjadi lebih rendah. BMKG justru menyoroti, kemungkinan hujan dengan intensitas tinggi terjadi lebih sering karena periode musim hujan diperkirakan berlangsung lebih singkat.
Menurut Faisal, periode yang perlu mendapat perhatian khusus adalah saat musim hujan memasuki fase puncaknya. BMKG memperkirakan, puncak musim hujan berlangsung selama tiga bulan, yakni Desember 2026, Januari 2027, dan Februari 2027.
"Kemudian nanti kira-kira banyaknya masuknya di bulan November hingga Desember. Kemudian yang menjadi permasalahan adalah puncak musim hujan nanti ada di 3 bulan, Desember, Januari, dan Februari," ucap Faisal.
Pergeseran awal musim hujan tersebut, menjadi perhatian BMKG. Karena, curah hujan tahunan yang relatif normal diperkirakan terjadi dalam rentang waktu yang lebih pendek.
Situasi ini, ia menuturkan, dapat meningkatkan risiko munculnya hujan berintensitas tinggi pada periode tertentu. "Sifat hujannya normal, artinya curah hujan yang akan jatuh sama dengan rata-rata klimatologis 30 tahun terakhir, tapi periodenya lebih pendek," ujar Faisal.
BMKG pun mengingatkan meningkatnya frekuensi hujan lebat hingga ekstrem dapat memperbesar potensi bencana hidrometeorologi basah. Banjir dan tanah longsor, menjadi dua ancaman yang perlu diantisipasi masyarakat maupun pemerintah daerah selama periode puncak musim hujan.
Wilayah dengan sistem drainase kurang memadai, kawasan rawan genangan, serta permukiman di sekitar lereng perbukitan perlu meningkatkan kesiapsiagaan. Curah hujan tinggi dalam waktu singkat, berpotensi menyebabkan luapan air dan meningkatkan risiko pergerakan tanah pada kawasan yang rentan.
"Sehingga nanti akan terjadi hujan lebat, sangat lebat hingga hujan ekstrem lebih sering di akhir tahun hingga awal tahun depan. Sehingga bencana meteorologi basah, yaitu banjir, longsor, itu juga perlu kita antisipasi dari mulai sekarang," kata Faisal. ils/I-1
- El Nino
- Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)
- musim hujan
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Ilham Sudrajat
Berita Terkait:
-
BMKG: Hujan dengan Berbagai Intensitas Bakal Guyur Sejumlah Kota Besar di Wilayah Indonesia pada Minggu
-
Persib Mampu mengatasi Port FC dalam Asean Club Championship, Boreno Imbang
-
WMO Peringatkan El Niño Superkuat, Suhu Laut Pasifik Tembus 3,7 Derajat Celsius - Dunia Terancam Kekeringan dan Banjir
-
BMKG Prakirakan Cuaca di Pulau Jawa Berawan hingga Cerah Berawan
-
Asap Karhutla Menjauh, Pemprov DKI Tetap Lakukan Water Mist dan OMC
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.