- Home
-
- Luar Negeri
-
- WHO Ungkap Ketimpangan Kes...
WHO Ungkap Ketimpangan Kesehatan Dunia, Penyakit Tak Menular Picu 75 Persen Kematian
Rabu, 21 Okt 2026, 06:00 WIBJenewa â Penyakit tidak menular menyumbang tiga perempat dari seluruh kematian di dunia, tetapi berdampak berbeda terhadap kelompok masyarakat yang berbeda, menurut sebuah studi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Selasa (20/10).
Dalam kajian terbesarnya mengenai ketimpangan kesehatan dan penyakit tidak menular (PTM), WHO meneliti empat penyakit yang paling banyak menyebabkan kematian, yakni kanker, penyakit kardiovaskular, penyakit pernapasan kronis, dan diabetes.
Studi tersebut juga mengkaji faktor-faktor risiko utama yang mendorong munculnya penyakit tersebut, meliputi penggunaan tembakau, konsumsi alkohol, obesitas, pola makan tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, dan polusi udara.
Laporan itu kemudian menganalisis perbedaan beban penyakit tidak menular, upaya pencegahan, dan akses perawatan berdasarkan usia, jenis kelamin, kondisi ekonomi, tingkat pendidikan, tempat tinggal, status disabilitas, pekerjaan, serta status migrasi.
"Ini merupakan upaya pertama untuk mengukur ketimpangan penyakit tidak menular dan faktor-faktor risikonya secara sistematis dalam skala global," kata Ahmad Reza Hosseinpoor, yang memimpin tim pemantauan ketimpangan kesehatan WHO.
"Temuan ini menunjukkan kelompok masyarakat mana yang tertinggal."
Penyakit tidak menular mencakup delapan dari 10 penyebab utama kematian di dunia. Penyakit kardiovaskular menjadi penyebab kematian terbesar dengan selisih yang jauh dibandingkan penyakit lainnya, yakni hampir 20 juta kematian setiap tahun.
Data nasional selama 10 tahun, yang dikumpulkan pada periode 2013â2022, menegaskan bahwa kondisi sosial ekonomi memengaruhi kesehatan pada setiap tahap, mulai dari paparan awal terhadap faktor risiko hingga diagnosis, pengobatan, dan pengelolaan penyakit.
Sebagai contoh, laporan tersebut menemukan bahwa di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah, kelompok masyarakat dengan tingkat pendidikan lebih rendah mengalami angka hipertensi dan diabetes yang lebih tinggi.
Cakupan skrining kanker serviks juga sangat rendah di kalangan perempuan termiskin dan berpendidikan paling rendah. Sementara itu, penggunaan tembakau masih lebih tinggi di kalangan laki-laki dengan tingkat pendidikan rendah dibandingkan mereka yang berpendidikan lebih tinggi.
Dari sisi geografis, studi tersebut menemukan bahwa penduduk di wilayah perdesaan memiliki akses yang jauh lebih terbatas terhadap diagnosis hipertensi dan skrining kanker.
Jenis kelamin dan usia juga berperan. Laki-laki dengan hipertensi lebih jarang didiagnosis dan mendapatkan pengobatan dibandingkan perempuan, meskipun mereka mengonsumsi lebih banyak tembakau dan alkohol.
Sebaliknya, obesitas lebih banyak ditemukan pada perempuan, khususnya di negara-negara berkembang.
Studi tersebut juga mengonfirmasi bahwa marginalisasi sosial, disabilitas, dan status migrasi merupakan faktor signifikan yang berkontribusi terhadap peningkatan risiko kesehatan.
Badan kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu mendesak pemerintah untuk menaikkan pajak atas tembakau, alkohol, dan minuman berpemanis. Langkah-langkah tersebut dinilai sangat efektif, khususnya bagi kelompok masyarakat berpendapatan rendah.
Negara-negara juga didorong untuk menyesuaikan skema asuransi atau memberikan subsidi bagi masyarakat yang belum mendapatkan layanan memadai, serta memasukkan indikator ketimpangan ke dalam sistem kesehatan nasional.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Kekeringan Hantam Subang! Kementan Salurkan 16 Pompa dan Bor Sumur Baru
-
KLH Dorong Pemilahan Sampah dari Hulu, Open Dumping Ditargetkan Berakhir Juli 2026
-
Dinkes Ungkap Penderita Penyakit Tidak Menular di Kabupaten Tangerang Melonjak
-
Pertandingan Sepak Bola Piala Asia AFC 2027
-
Bappenas Dorong Belanja Negara Lebih Produktif Lewat Danantara dan MBG
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.