Digitalisasi Tambak Jadi Jurus KKP Dongkrak Produktivitas Udang

Rabu, 21 Okt 2026, 18:15 WIB

BANDUNG – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong pemanfaatan teknologi digital dalam budi daya udang untuk meningkatkan produktivitas tambak, mendeteksi penyakit lebih dini, serta menjaga keberlanjutan produksi perikanan.

Staf Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Ekologi dan Sumber Daya Laut Hendra Yusran Siry mengatakan salah satu inovasi yang dikembangkan melalui kolaborasi KONEKSI (Knowledge Partnership Platform Australia-Indonesia) dan Universitas Padjadjaran (Unpad) melalui aplikasi SMARTAMBAK.

Ket. Foto: Ilustrasi-Pembangunan kawasan tambak udang terintegrasi dimulai di Waingapu Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. — Sumber: ANTARA/ HO-KKP.

“Sekarang produktivitas kita masih kisarannya 0,6 sampai 1 ton per tahun. Yang tradisional ya. Dengan dukungan digital ini harapannya nanti penyakitnya bisa terdeteksi,” kata Hendra di Bandung, Rabu (21/10).

Hendra mengatakan aplikasi tersebut membantu pembudidaya mengidentifikasi potensi masalah pada udang berdasarkan data dan foto sehingga penanganan dapat dilakukan lebih dini.

Ia mengatakan pemanfaatan teknologi tersebut sejalan dengan kebijakan ekonomi biru pemerintah, terutama dalam mendorong kegiatan budi daya yang berkelanjutan di wilayah darat, laut dan pesisir.

Menurut dia, teknologi digital juga diharapkan membantu pembudidaya mengatur pemberian pakan secara lebih teratur. Upaya tersebut penting untuk meningkatkan produksi protein dari sektor perikanan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

“Kolaborasi antara peneliti, pemerintah, industri, dan masyarakat pembudidaya menjadi bagian penting untuk memastikan inovasi memberikan manfaat nyata,” katanya

Sementara itu, Direktur Kelautan dan Perikanan Kementerian PPN/Bappenas Mohammad Rahmat Mulianda mengatakan udang merupakan salah satu komoditas penting dalam ekspor perikanan Indonesia.

Namun, kata dia, sektor tersebut masih menghadapi tantangan berupa penyakit, dampak lingkungan, serta persaingan produktivitas dengan negara produsen lain, seperti Ekuador, Thailand, dan Vietnam.

“Pendekatan-pendekatan berkelanjutan menjadi hal penting yang tidak bisa ditawar. Kita bagaimana menjaga misi produksi yang inklusif dan berkelanjutan ini,” ujar Rahmat.

Ia menilai penerapan teknologi digital dapat memperkuat pengendalian kualitas dan ketertelusuran produk untuk menjaga mutu udang sekaligus meningkatkan daya saing di pasar ekspor maupun domestik.

Menurutnya, efektivitas teknologi perlu dibuktikan melalui hasil nyata, termasuk kemampuannya membantu mendeteksi penyakit dan menjaga produktivitas tambak tanpa menyulitkan pengguna.

“Jangan sampai hanya short term saja. Harus dibuktikan bahwa dengan adanya aplikasi ini hasilnya jelas. Itu tidak juga teori ya, tapi bagaimana terbukti,” katanya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.