Penjarahan Terjadi di Sejumlah Kota Besar di Prancis

Senin, 19 Okt 2026, 02:50 WIB

PARIS - Prancis pada Minggu (18/10) masih terguncang akibat kerusakan meluas yang disebabkan oleh aksi protes kekerasan sehari sebelumnya yang mengakibatkan 1.800 orang ditangkap, balai kota bersejarah dibakar, dan meluasnya aksi penjarahan.

"Rasanya seperti kita baru saja berperang," kata Mehmet Ozeden, seorang warga berusia 78 tahun di pusat kota Paris kepada AFP, di tengah barikade jalan yang terbakar akibat protes.

Ket. Foto: Seorang penjaga toko sedang membersihkan bagian depan toko yang rusak pada Minggu (18/10) setelah sehari sebelumnya Ibu Kota Paris, Prancis, diguncang aksi unjuk rasa nasional yang di beberapa kota dilaporkan berujung rusuh. — Sumber: AFP/MATTHIEU RONDEL

Gejolak tersebut meningkatkan tekanan bagi Presiden Emmanuel Macron, yang berada di bulan-bulan terakhir masa jabatannya sebelum pemilihan untuk menggantikannya dalam waktu enam bulan. Peristiwa itu terjadi setelah berminggu-minggu protes mahasiswa yang juga berubah menjadi kekerasan di beberapa kesempatan.

Presiden Macron dijadwalkan menyampaikan pidato kepada bangsa pada Minggu malam pukul 6 sore waktu setempat (Senin pagi), kata kantornya, setelah ia bertemu dengan para menteri utama.

Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez mengatakan 1.800 orang ditangkap terkait aksi protes yang rusuh dan penjarahan, dan penyelidikan sedang berlangsung untuk mengidentifikasi pelaku tindakan ini agar mereka dapat dibawa ke pengadilan.

Mobil-mobil yang dibakar, etalase toko yang hancur, dan puing-puing yang terbakar memenuhi sejumlah jalan di Paris, di mana para pejabat mengatakan 557 orang ditahan.

“Ibu kota mengalami tingkat kekerasan yang belum pernah kita lihat sebelumnya," kata Wakil Wali Kota Paris, Lamia El Aaraje.

Dilaporkan juga bahwa ratusan toko dijarah di Paris dan kota-kota lain, termasuk Marseille, Bordeaux, Nice, dan Strasbourg, selama aksi protes terkait biaya hidup itu. Menurut Federasi Perdagangan Ritel, sekitar 1.500 bisnis mengalami kerusakan, menyebabkan kerugian yang diperkirakan mencapai ratusan juta euro.

Sedangkan Kota Limoges kehilangan gedung balai kotanya yang dibangun pada abad ke-19 akibat kebakaran. Seorang pejabat setempat, Maurice Barate, mengatakan kepada saluran berita LCI bahwa kebakaran itu sengaja dilakukan oleh sekelompok orang yang brutal dan baru berhasil dipadamkan pada Minggu pagi.

Wali Kota Lyon, Gregory Doucet, mengatakan bahwa kekacauan yang melanda kotanya selama beberapa jam itu sangat mengerikan. Kantor informasi wisata di pusat kota Lyon dibakar selama protes yang diwarnai berbagai bentrokan dan penjarahan.

Saling tuding politik pun terjadi, dengan pemerintah dan pemimpin sayap kanan Marine Le Pen menyalahkan kelompok-kelompok ultra-kiri, sementara pemimpin sayap kiri Jean-Luc Melenchon menuduh pihak berwenang memicu ketegangan.

Wakil wali kota Paris dari Partai Sosialis, El Aaraje, menuduh partai Le Pen telah menggunakan aksi protes tersebut untuk memajukan ambisi kepresidenannya.

Turis Ketakutan

Aksi protes yang ricuh di Paris telah membuat para turis yang ketakutan dan terlihat berlarian sambil membawa koper di sepanjang jalan yang dipenuhi gas air mata dan demonstran pada hari Sabtu.

Seorang turis Denmark, Soren Petersen, mengatakan dirinya sangat sedih melihat kerusakan pada bangunan-bangunan di Paris. "Ini bukan protes, ini jauh melampaui protes biasa," kata dia kepada AFP.

Seorang turis asal Amerika, Jill Burns, berkata: "Kami takut."

Menteri Dalam Negeri Prancis menyatakan bahwa sekitar 500 polisi, petugas pemadam kebakaran, dan paramedis terluka dalam aksi protes tersebut.

Kekerasan itu terjadi di sela-sela protes nasional yang menurut kementerian dalam negeri dihadiri oleh 550.000 orang.

Gerakan Rompi Kuning Prancis, yang menggelar protes jalanan delapan tahun lalu terhadap pemerintahan Macron terkait rencana kenaikan pajak bahan bakar, menyerukan digelarnya kembali aksi demonstrasi pada hari Sabtu.

Tuntutan utama dari aksi demonstrasi di Prancis ini adalah biaya hidup yang meningkat sebagian akibat perang di Timur Tengah, yang telah menyebabkan inflasi melonjak di Eropa dan tempat lain. AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.