Orang Muda Gunungkidul Dorong Keterlibatan dalam Kebijakan Kesehatan Mental

Senin, 19 Okt 2026, 14:45 WIB

GUNUNGKIDUL—Orang muda di Kabupaten Gunungkidul mendorong keterlibatan yang lebih besar dalam penyusunan hingga evaluasi program kesehatan mental. Partisipasi mereka dinilai perlu ditempatkan sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan, bukan sebatas menjadi peserta atau sasaran kegiatan.

Dorongan tersebut mengemuka dalam Ruang Cerita Orang Muda: Youth Stories, Real Voice, Real Change di Bangsal Sewokoprojo, Gunungkidul, Sabtu (17/10). Forum yang diikuti sekitar 160 peserta itu mempertemukan anak muda dengan pemerintah, layanan kesehatan, institusi pendidikan, serta sejumlah organisasi dan komunitas.

Ket. Foto: — Sumber: Dok. Pemkab Gunungkidul

Perwakilan orang muda, Ahnaf Fauzy Zulkarnain, mengatakan aspirasi generasi muda perlu diikuti dengan langkah konkret dalam pengembangan program kesehatan mental.

“Kami meminta agar orang muda dilibatkan secara bermakna (meaningful participation) dalam proses perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi program kesehatan mental. Aspirasi yang kami sampaikan perlu ditindaklanjuti melalui rencana aksi yang jelas, pembagian tanggung jawab, serta evaluasi secara berkala.” ungkapnya.

Kegiatan yang diselenggarakan Pusat Rehabilitasi YAKKUM (PRYAKKUM) melalui Program ASIK (Aksi Sehat Jiwa, Inisiatif, dan Kontribusi Orang Muda) itu menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2026. Pelaksanaannya didukung CBM Global dan berkolaborasi dengan Karang Taruna Samuta Siraman.

Manajer Program Rehabilitasi PRYAKKUM Christian Pramudya menilai ruang partisipasi anak muda perlu diperluas hingga dalam proses pembangunan di tingkat kabupaten maupun kalurahan. Saluran tersebut antara lain dapat diberikan melalui musyawarah perencanaan pembangunan, Karang Taruna, organisasi kepemudaan, maupun organisasi berbasis keagamaan.

Ia juga mengapresiasi inisiatif Karang Taruna Samuta Siraman yang mengembangkan Ruang Cerita Orang Muda sebagai bagian dari laboratorium sosial mereka.

“Gagasan kawan-kawan Siraman melalui Ruang Cerita Orang Muda adalah sebuah gagasan besar. Mimpinya adalah bagaimana tempat ini bisa menjadi rujukan dan pusat sumber belajar tentang kesehatan mental, yang nantinya dapat dibagikan ke lebih banyak pihak.” terangnya.

Dalam forum tersebut, persoalan kesehatan mental anak muda turut dibahas dari sisi pencegahan dan dukungan awal. Ismono yang mewakili Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih menyoroti pentingnya peran teman sebaya sebagai tempat pertama bagi anak muda untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi.

“Melalui inisiatif First Aider atau kader sebaya, orang muda dapat menjadi tempat pertama bagi teman-temannya untuk bercerita dan mencari dukungan.” katanya

Dukungan sebaya tersebut dinilai perlu diperkuat dengan keterlibatan guru Bimbingan Konseling (BK) dan wali kelas. Lingkungan sekolah diharapkan dapat menyediakan ruang aman bagi siswa untuk menyampaikan persoalan sekaligus mendukung pelaksanaan skrining kesehatan mental secara berkala.

Akses terhadap layanan konseling juga diperluas melalui kolaborasi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul dengan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebanyak 11 mahasiswa magang psikologi ditempatkan di empat puskesmas untuk membantu pelayanan konseling.

Dalam kegiatan tersebut, peserta juga dapat mengikuti skrining kesehatan mental dan memperoleh layanan konseling gratis dari Puskesmas Wonosari I, Puskesmas Wonosari II, serta RSUD Wonosari. Layanan turut didukung mahasiswa UGM yang menjalani program magang.

Selain dialog kebijakan dan layanan konseling, sejumlah kegiatan kreatif digunakan sebagai sarana edukasi kesehatan mental. Peserta mengikuti art therapy dan mindfulness melalui meditasi, pembuatan mandala, serta melukis untuk membantu mengenali emosi dan mengembangkan keterampilan menghadapi tekanan.

Penguatan dukungan kesehatan mental di lingkungan pendidikan juga ditandai dengan penyematan pin First Aider secara simbolis. Inisiatif tersebut berkaitan dengan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) dan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN).

Forum itu melibatkan pemerintah kabupaten dan Pemerintah Daerah DIY, organisasi perangkat daerah, layanan kesehatan, institusi pendidikan, pemerintah kalurahan, serta organisasi kepemudaan dan komunitas. Karang Taruna, Forum Anak Gunungkidul, KNPI, organisasi mahasiswa, hingga kelompok swabantu disabilitas psikososial turut terlibat.

Melalui keterlibatan lintas sektor tersebut, aspirasi dan pengalaman anak muda diharapkan dapat diterjemahkan menjadi program serta kebijakan kesehatan mental yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka, sekaligus memperluas akses terhadap dukungan dan layanan di Gunungkidul.

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.