Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

44 Area Konversi Hutan di Sumsel Terbakar, Segera Usut Tuntas!

📅 Senin, 19 Okt 2026, 11:43 WIB | Oleh: Tim Penulis
44 Area Konversi Hutan di Sumsel Terbakar, Segera Usut Tuntas! Doc: Antara
Ket. Kepala BNPB Kristomei Sianturi memimpin rapat koordinasi penanganan karhutla bersama jajaran fokopimda Pemprov Sumatera Selatan di Lanud Sri Mulyono Herlambang, Palembang, Sumatera Selatan, Minggu (18/10/2026).

JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan temuan sebanyak 44 area konversi hutan dan perkebunan yang mengalami kebakaran di wilayah Sumatera Selatan berdasarkan hasil pemetaan data spasial yang diselaraskan dengan data ATR/BPN.   

Kepala BNPB Kristomei Sianturi, dalam keterangan di Jakarta, Senin (19/10), menjelaskan area yang terbakar tersebut meliputi areal sawit, Hutan Tanaman Industri (HTI), Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), hingga hutan lindung, di mana sebagian besar titik api ditemukan di area perbatasan izin konversi yang mengindikasikan adanya dugaan pembukaan atau perluasan lahan secara sengaja.     

Atas temuan tersebut, BNPB mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas para pelaku pembakaran, baik dari unsur perorangan maupun korporasi. Penegakan hukum yang tegas dinilai sangat krusial guna memberikan efek jera agar upaya pemadaman di lapangan tidak menjadi sia-sia. 

"Percuma juga kita kerja keras selama ini, kalau pemadaman enggak sinkron. Satu orang berusaha memadamkan, satu orang bakar, kan kambuh," tegas Kristomei. 

Dia juga menekankan pentingnya instruksi Presiden Prabowo Subianto mengenai kolaborasi lintas sektor, termasuk di Sumatera Selatan ini yang merupakan satu dari enam provinsi prioritas agar kawasan hutan lahan mineral gambut setempat tidak terbakar. 

Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) disebutnya tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan menuntut sinergi erat antar-kementerian, lembaga, pemerintah daerah, serta sinkronisasi program pusat dan daerah. 

Untuk itu, selain penegakan hukum, BNPB juga meminta perhatian intensif dari Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) merumuskan solusi permanen penanganan ekosistem gambut, termasuk melalui pembuatan atau optimalisasi kanalisasi guna menjaga kelembaban dan membasahi lapisan dalam tanah gambut di ke enam provinsi prioritas Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan.

"Kita ini harus berkolaborasi, jadi tidak bisa sendiri. Harus berkolaborasi antar kementerian, lembaga, kemudian baik daerah, kemudian sinkronisasi antara pusat dan daerah," kata dia.

Dia memastikan ribuan personel gabungan dan berbagai armada helikopter masih bekerja secara efektif untuk melakukan pemadaman. Namun evaluasi berkala agar pengerahan pasukan dan sarana prasarana di lapangan berbanding lurus dengan penurunan jumlah titik panas (hotspot) juga sangat penting.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Advertisement
jjroyal-luwak
Daerah
Lewat Program SPHP, Perum B...
Megapolitan
Tawuran di Stasiun Manggara...
Advertisement
Kerusuhan Pecah di Milan, Toko-toko Dijarah Massa

Kerusuhan Pecah di Milan, Toko-toko Dijarah Massa

19 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.