4.000 Lemang Disiapkan untuk Tamu Panitia Festival Hudoq Mahulu
Senin, 19 Okt 2026, 22:57 WIBMahulu, Kaltim - Panitia Festival Hudoq Pekayang di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahalu), Kalimantan Timur yang digelar di Kampung Long Pahangai II menyiapkan 4.000 potong lemang (makanan dari ketan dalam bambu yang dibakar) untuk para tamu dan partisipan festival untuk pelestarian budaya tersebut.
"Sore ini kami membakar lemang sekira 400 bilah bambu. Setelah lemang masak, bambu dibelah dan lemang dipotong menjadi 10 per bilah sehingga total menjadi sekira 4.000 potong lemang," ujar Panitia Festival Hudoq Pekayang, Paulus Irang, saat gotong royong membakar lemang di Long Pahangai II, Senin.
Paulus yang juga Anggota Lembaga Adat Kampung Long Pahangai II ini melanjutkan, masyarakat mempertahankan tradisi pembuatan lemang berbahan beras ketan hasil ladang sendiri, sebagai bagian dari pelaksanaan adat yang diwariskan secara turun-temurun dalam bagian Hudoq Pekayang.
Sementara Hudoq Pekayang merupakan tradisi yang dilestarikan masyarakat Suku Dayak Bahau Mahulu setelah menugal (menanam) padi ladang, agar padi yang ditanam bisa tumbuh subur dan menghasilkan panen melimpah.
Festival Hudoq Pekayang tersebut digelar selama tiga hari pada Selasa-Kamis (20-22/10/2026) dengan jumlah tamu, undangan, hingga partisipan sekira 3.000 orang, sehingga diharapkan lemang yang disiapkan tersebut cukup untuk mereka yang hadir, termasuk cukup bagi para penari Hudoq.
Festival yang menjadi wadah pelestarian tradisi masyarakat Dayak Bahau ini mengangkat tema "Hudoq Pekayang: Antara Manusia, Alam dan Tradisi sebagai Penjaga Warisan Budaya Leluhur", dengan slogan "Melestarikan Budaya, Menguatkan Identitas, Menuju Mahulu Melaju".
"Festival tahun ini diikuti sebanyak 13 kampung dari Kecamatan Long Pahangai yakni Kampung Delang Kerohong, Long Pakaq, Long Lunuk, Long Isun, Naha Aruq, Datah Naha, Lirung Ubing, Long Pahangai I, Long Pahangai II, Long Tuyoq, Liu Mulang, Long Pakaq Baru, dan Long Lunuk Baru," ujarnya.
Kehadiran seluruh kampung di Long Pahangai ini menggambarkan kekompakan masyarakat dalam pelestarian adat. Sementara rangkaian festival dirancang dengan memadukan ritual adat, musyawarah, pertunjukan seni, hingga bazar produk unggulan warga.
"Terkait pembuatan lemang, ini tidak hanya menjadi kegiatan mengolah bahan pangan, tetapi juga berkaitan dengan tradisi yang masih dijalankan di musim-musim tertentu. Ketan ini berasal dari hasil panen Februari lalu. Sedangkan bulan ini kami kembali menanam padi, makanya digelar Hudoq Pekayang," ujar Paulus.
Bahan baku lemang mencerminkan keterkaitan tradisi kuliner masyarakat adat dengan kegiatan pertanian yang masih mereka jalankan. Beras ketan yang digunakan berasal dari hasil panen ladang sendiri, kemudian masyarakat kembali menanam untuk memenuhi kebutuhan pada musim berikutnya.
- budaya tradisional
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Prabowo Datangi Karhutla di Kubu Raya, Pastikan Penanganan Optimal
-
Gantikan Agus Gumiwang, Menperin Sarmuji: Industri Harus Jadi Mesin Cuan dan Serap Pekerja
-
Kurang Persiapan, Pendaki Korban Hipotermia di Gunung Bawakaraeng Menjadi 31 Orang
-
Prediksi Indonesia vs Thailand di Final FIFA ASEAN Cup 2026 dan Misi Putus Rekor Buruk
-
Penyerang Anyar PSS Sleman Matheus Fornazari Berambisi Cetak Banyak Gol
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.