Uruguay Uji Kartu Elektronik, Teknologi Baru untuk Modernisasi Wasit Sepak Bola

Minggu, 18 Okt 2026, 00:20 WIB

MONTEVIDEO – Sepak bola Uruguay mulai menguji inovasi baru dalam perwasitan dengan mengganti kartu kuning dan merah konvensional menggunakan perangkat elektronik seukuran ponsel. Uji coba tersebut dilakukan dalam pertandingan Copa Uruguay pekan ini sebagai bagian dari upaya memodernisasi salah satu tradisi tertua dalam sepak bola.

Wasit Eduardo Varela menggunakan perangkat tersebut ketika memimpin pertandingan Copa Uruguay antara Nacional dan Rentistas, Jumat (16/10). Teknologi ini dirancang untuk menyederhanakan pekerjaan administratif wasit dengan mencatat setiap keputusan disipliner secara digital.

Ket. Foto: Ilustrasi wasit memberikan kartu kuning. — Sumber: FIFA

Mauro Sacco, direktur REFe, perusahaan pengembang teknologi tersebut, menjelaskan bahwa gagasan ini berangkat dari keinginan untuk membawa digitalisasi ke aspek sepak bola yang selama ini masih mengandalkan proses manual.

“Kami ingin menghadirkan teknologi pada satu-satunya hal dalam sepak bola yang masih bersifat analog,” kata Sacco dalam wawancara dengan radio Uruguay, El Espectador Deportes, Jumat.

Menurut Sacco, ide tersebut muncul lebih dari tiga tahun lalu ketika ia bersama sesama direktur REFe, Diego de la Pena, menyaksikan pertandingan dalam kondisi hujan. Keduanya kemudian memikirkan kesulitan yang dihadapi wasit saat mencatat kartu kuning dan merah secara manual sebelum memindahkan data tersebut ke sistem digital.

Perangkat baru ini memungkinkan wasit merekam insiden pertandingan beserta penanda waktu secara otomatis. Pengembang berharap sistem tersebut dapat mempercepat dan menyederhanakan pengiriman laporan resmi pertandingan ke platform COMET milik Asosiasi Sepak Bola Uruguay.

Varela mengaku cukup nyaman menggunakan perangkat elektronik tersebut. Perangkat lunaknya juga merespons dengan cepat ketika digunakan dalam pertandingan.

Meski demikian, ia mengakui bahwa penggunaan kartu digital mengurangi daya tarik visual dari gestur tradisional wasit saat memberikan hukuman kepada pemain.

“Memang ada sedikit kehilangan sensasi dari gerakan mengangkat kartu secara cepat. Namun, saya pikir teknologi ini akan sangat membantu kami, terutama dalam urusan administratif,” ujar Varela.

Uji coba di lapangan juga mengungkap sejumlah persoalan yang perlu diperbaiki, terutama terkait visibilitas layar.

Dalam pengujian sebelumnya, penggunaan perangkat sempat dihentikan karena sinar matahari membuat layar sulit terlihat. Masalah serupa kembali muncul dalam pertandingan Kamis, ketika penonton di stadion maupun pemirsa televisi kesulitan membedakan sejumlah keputusan wasit.

De la Pena mengakui bahwa teknologi tersebut masih membutuhkan penyempurnaan agar dapat berfungsi dengan baik bagi seluruh penonton.

“Ini merupakan proyek yang masih memiliki ruang untuk perbaikan. Tampilannya jauh lebih baik ketika dilihat langsung di stadion dibandingkan melalui televisi. Tantangan kami sekarang adalah memperbaikinya agar bisa terlihat jelas oleh semua orang,” katanya.

Ia menegaskan bahwa warna kartu harus tetap mudah dikenali, baik oleh pemain dan penonton di stadion maupun oleh pemirsa yang menyaksikan pertandingan melalui layar televisi.

“Kartu kuning harus berwarna kuning, kartu merah harus berwarna merah, dan semuanya harus terlihat jelas oleh orang-orang di stadion maupun di televisi,” ujar De la Pena.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pengembang tengah menjajaki sejumlah perubahan teknis, termasuk pemasangan lampu LED di sekeliling perangkat agar warna kartu terlihat lebih terang dan mudah dibedakan.

REFe menyatakan bahwa merek teknologi tersebut telah didaftarkan, sementara perangkat keras dan perangkat lunaknya telah dipatenkan. Pengembangan teknologi dilakukan oleh tim yang berbasis di Tiongkok.

Uji coba kartu elektronik itu juga memancing beragam reaksi di media sosial. Sebagian pengguna menyambut inovasi tersebut, sementara lainnya melontarkan kritik dan membuat meme yang menyoroti bentuk maupun cara penggunaannya.

Sacco mengaku pihaknya menyadari beragam tanggapan tersebut dan menganggapnya sebagai bagian dari proses pengenalan teknologi baru.

“Kami melihat berbagai macam komentar, baik positif maupun negatif. Kami bahkan tertawa melihat meme-meme yang dibuat,” kata Sacco.

“Yang penting, orang-orang membicarakannya. Setiap inovasi membutuhkan waktu,” lanjutnya.

REFe berharap dapat terus menyempurnakan perangkat tersebut sebelum memperluas penerapannya. Target jangka panjang perusahaan itu adalah melihat teknologi kartu elektronik digunakan oleh Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan (CONMEBOL) dan badan sepak bola dunia, FIFA.

Jika pengembangan berjalan sesuai harapan, kartu elektronik berpotensi menjadi alternatif untuk membantu wasit mencatat keputusan disipliner secara lebih praktis. Namun, kejelasan warna, kemudahan penggunaan, dan keterlihatan bagi penonton masih menjadi sejumlah aspek penting yang harus diselesaikan sebelum teknologi tersebut dapat diterapkan secara lebih luas.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.