Daniel Dubois Kalahkan Fabio Wardley dalam Dua Ronde, Pertahankan Gelar Juara Dunia Kelas Berat WBO

Minggu, 18 Okt 2026, 08:15 WIB

LONDON – Daniel Dubois tampil perkasa untuk mempertahankan gelar juara dunia kelas berat versi World Boxing Organization (WBO) setelah menghentikan sesama petinju Inggris, Fabio Wardley, melalui kemenangan knockout (KO) pada ronde kedua di O2 Arena, London, Minggu (18/10) dini hari WIB.

Dalam laga ulang yang telah lama dinantikan, Dubois tampil jauh lebih dominan dibandingkan pertemuan pertama mereka yang berlangsung sengit selama 11 ronde pada Mei lalu. Kali ini, petinju berusia 29 tahun tersebut langsung mengambil inisiatif serangan sejak bel pembuka dan terus menghujani Wardley dengan pukulan keras hingga sudut lawan menyerah.

Ket. Foto: Daniel Dubois adu pukul dengan Fabio Wardley dalam pertarungan perebutan gelar tinju kelas berat dunia versi WBO, Minggu (18/10) dini hari WIB. — Sumber: SkySport

Dubois menjatuhkan Wardley hanya dalam waktu 17 detik setelah pertandingan dimulai. Sebuah pukulan kanan overhand yang telak mendarat di dagu sang penantang dan membuatnya terjatuh.

Setelah itu, Dubois terus melancarkan serangan tanpa memberikan kesempatan kepada Wardley untuk mengembangkan permainan. Sepanjang ronde pertama, ia berkali-kali mendaratkan pukulan telak hingga Wardley terdesak di tali ring dan berusaha bertahan dari gempuran bertubi-tubi.

Memasuki ronde kedua, situasi tidak banyak berubah. Dubois kembali melancarkan kombinasi pukulan keras yang membuat Wardley berada dalam kesulitan besar.

Melihat petinju yang berada di sudutnya tak lagi mampu memberikan perlawanan efektif, tim Wardley akhirnya melemparkan handuk sebagai tanda menyerah. Pertandingan dihentikan pada menit ke-2 detik ke-21 ronde kedua.

Kemenangan tersebut sekaligus menjadi pembalasan sempurna bagi Dubois. Pada pertemuan pertama Mei lalu, justru Wardley yang menjatuhkannya hanya dalam 16 detik setelah pertarungan dimulai.

Kali ini, Dubois memastikan dirinya keluar sebagai pemenang dengan penampilan agresif dan meyakinkan.

“Saya sudah berniat memberikan serangan keras sejak awal,” kata Dubois dalam wawancara televisi seusai pertandingan.

“Pada pertemuan pertama, posisi kami terdesak. Kali ini, kami hanya perlu keluar ke ring dan menunjukkan bahwa kami benar-benar serius. Itulah yang kami lakukan malam ini,” ujarnya.

Kemenangan ini memperbaiki rekor profesional Dubois menjadi 24 kemenangan dan tiga kekalahan, dengan 23 kemenangan di antaranya diraih melalui KO.

Setelah mempertahankan sabuk WBO, Dubois langsung mengarahkan pandangannya pada pertarungan-pertarungan besar berikutnya di kelas berat.

Persaingan di divisi tersebut masih terbuka setelah petinju Ukraina, Oleksandr Usyk, mengosongkan sabuk juara dunia WBC, WBA, dan IBF pada Juni. Situasi itu membuka peluang bagi para pemegang gelar untuk memperjuangkan status sebagai juara dunia kelas berat yang tak terbantahkan.

Dubois pun ingin memanfaatkan momentum kemenangannya untuk menghadapi para juara dari organisasi tinju dunia lainnya dalam pertarungan unifikasi gelar.

“Sekarang saya adalah juaranya dan saya ingin mendapatkan pertarungan-pertarungan besar,” kata Dubois.

“Pada tahap karier saya sekarang, yang saya inginkan adalah pertarungan besar dan bayaran besar.”

Dengan kemenangan meyakinkan atas Wardley, Dubois semakin memperkuat posisinya dalam persaingan elite kelas berat. Penampilan agresifnya juga menjadi pesan tegas bagi para rival bahwa ia siap menghadapi tantangan yang lebih besar.

Di kubu lawan, Wardley menerima kekalahan tersebut dengan lapang dada. Petinju yang kini memiliki rekor 20 kemenangan, dua kekalahan, dan satu hasil imbang itu mengakui dirinya tidak mampu menjalankan strategi yang telah disiapkan dengan baik.

Wardley memang memiliki perjalanan karier yang berbeda dibandingkan banyak petinju profesional lainnya. Ia relatif terlambat menekuni tinju profesional setelah sebelumnya memulai perjalanan dari pertandingan tinju amatir nonelite atau white-collar boxing.

Meski kecewa, ia menegaskan tidak menyesali keputusannya menghadapi petinju-petinju terbaik di kelas berat.

“Kalah tentu tidak pernah menyenangkan, tetapi memang begitulah adanya,” ujar Wardley.

“Saya selalu menantang diri sendiri dengan menghadapi para petinju terbaik, petarung paling tangguh, paling besar, paling keras, dan paling berbahaya.”

Menurut Wardley, tidak ada alasan untuk merasa malu setelah kekalahan ketika seseorang berani menguji kemampuannya melawan lawan-lawan terbaik.

“Tidak ada yang perlu dipermalukan dari sebuah kekalahan ketika Anda menempatkan diri dalam pertarungan dan menguji kemampuan melawan yang terbaik,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa tinju merupakan olahraga dengan selisih kemenangan yang sangat tipis. Sebuah pertarungan bisa berakhir hanya dalam satu atau dua ronde, tetapi bisa pula berkembang menjadi perang panjang seperti pertemuan pertama mereka.

“Saya tidak menjalankan rencana pertandingan dengan baik malam ini. Hanya itu masalahnya. Saya mengakui kesalahan tersebut,” tutur Wardley.

Kemenangan cepat ini menegaskan dominasi Dubois dalam duel ulang sekaligus membuka jalan menuju pertarungan yang lebih besar. Sementara bagi Wardley, kekalahan tersebut menjadi pelajaran penting dalam upayanya kembali bersaing di jajaran elite kelas berat dunia.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.