Gletser Thwaites di Antartika Mencair Lebih Cepat, Berpotensi Menaikkan Permukaan Air Laut

Sabtu, 17 Okt 2026, 23:05 WIB

Istanbul - Salah satu gletser terbesar di dunia mencair jauh lebih cepat daripada perkiraan sebelumnya dan berpotensi menyumbang kenaikan muka laut global hingga dua kali lipat dari proyeksi terdahulu pada akhir abad ini.

Penelitian terbaru yang diterbitkan pekan ini dalam jurnal Nature Communications mendapati bahwa Gletser Thwaites di Antartika kehilangan massa es dengan cepat akibat dorongan air laut hangat yang meresap hingga beberapa kilometer ke bawah gletser dan mencairkan es dari bagian bawah.

Ket. Foto: Ilustrasi - Antartika — Sumber: Antara

Para peneliti memperkirakan proses itu dapat membuat Gletser Thwaites menyumbang kenaikan permukaan laut global hingga 30 milimeter atau 1,2 inci pada 2100, bahkan tanpa pemanasan tambahan di luar kondisi yang terjadi belakangan ini.

Dalam model lapisan es konvensional sebelumnya, para ilmuwan memperkirakan kontribusi Gletser Thwaites terhadap kenaikan muka laut global hingga 2100 sekitar 15 milimeter atau 0,6 inci.

Gletser Thwaites dijuluki Gletser Kiamat karena potensi dampak serius jika runtuh. Gletser ini mencakup area sekitar 192.000 kilometer persegi di Antartika Barat, kurang lebih seluas Senegal dan lebih besar daripada negara bagian Florida di Amerika Serikat.

Gletser tersebut merupakan bagian dari Lapisan Es Antartika Barat yang jauh lebih luas. Bersama gletser lain, termasuk Gletser Pine Island, Thwaites berfungsi sebagai penahan yang membatasi aliran es dalam jumlah besar dari daratan menuju laut.

Saat ini, Gletser Thwaites menyumbang sekitar 4 persen dari kenaikan muka laut global. Sejak 2000, gletser itu telah kehilangan lebih dari 1 triliun ton es, dengan kehilangan yang terus berlangsung sekitar 50 miliar ton setiap tahun.

Para ilmuwan telah memantau gletser tersebut secara saksama sejak menemukan pada 1980-an bahwa keberadaan es di wilayah tersebut mengalami kemunduran dengan cepat.

Air laut hangat yang mengalir ke bawah lapisan es dinilai menjadi salah satu faktor utama. Perubahan iklim akibat aktivitas manusia, terutama pemanasan yang berkaitan dengan emisi bahan bakar fosil, meningkatkan suhu laut dan memperbesar tekanan terhadap gletser di berbagai belahan dunia.

Penelitian terbaru itu berfokus pada zona landasan (grounding zone) Thwaites, yakni wilayah tempat es yang semula bertumpu pada dasar batuan mulai mengapung di atas laut.

Model sebelumnya kerap memperlakukan garis landasan (grounding line) sebagai batas tetap. Namun, para peneliti dalam studi terbaru memodelkan zona yang lebih luas, tempat pasang surut berulang kali mengangkat dan menurunkan lapisan es sehingga air laut hangat dapat meresap lebih jauh ke bawahnya.

Penulis utama penelitian, Mattia Poinelli, ilmuwan proyek di University of California, Los Angeles (UCLA), mengatakan proses yang disebut pemompaan pasang surut (tidal pumping) memungkinkan air hangat menjangkau bagian bawah es yang jauh lebih dalam dan memicu pencairan intensif.

Pemodelan baru tersebut juga menimbulkan kekhawatiran bahwa Gletser Thwaites dapat kehilangan kontak dengan Punggung Mouginot, struktur bawah laut yang saat ini membantu menahan pergerakan gletser.

Simulasi yang sesuai dengan pengamatan terbaru menunjukkan peluang sekitar 60 persen bahwa gletser tersebut akan terlepas dari punggung bawah laut itu pada 2100, bahkan berpotensi terjadi sejak akhir 2030-an.

Para peneliti memperingatkan bahwa perubahan tersebut dapat mempercepat kemunduran gletser dan meningkatkan risiko kenaikan muka laut serta banjir bagi masyarakat pesisir di seluruh dunia, melebihi perkiraan sebelumnya. Sumber: Anadolu

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.