- Home
-
- Luar Negeri
-
- Tanpa Subsidi Pangan dan E...
Tanpa Subsidi Pangan dan Energi, 130 Juta Orang Berisiko Terjerumus Kemiskinan
Jumat, 16 Okt 2026, 03:05 WIBBANGKOK - Kepala Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Development Programme (UNDP) mengatakan, jutaan orang bisa terjerumus ke dalam kemiskinan akibat melonjaknya biaya energi, dampak fenomena El Nino yang intens, dan suku bunga yang lebih tinggi. Negara-negara yang rentan akan semakin terdorong ke ambang kehancuran akibat krisis yang berulang.Â
Kepala Program atau Administrator UNDP, Alexander de Croo kepada AFP mengatakan harga bahan bakar global telah melonjak sejak Amerika Serikat (AS) melancarkan perang terhadap Iran pada akhir Februari, dengan pembalasan Teheran terhadap sekutu Washington di Teluk yang membatasi pasokan minyak dan gas alam utama.
Defisit fiskal dan rasio utang terhadap PDB di seluruh dunia telah membengkak sejak krisis keuangan global 2008, dengan pemerintah berupaya mengatasi serangkaian guncangan termasuk pandemi dan perang di Ukraina dan Timur Tengah.
Berbicara di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia di Bangkok, de Croo, mengatakan, banyak negara berkembang telah menanggapi lonjakan harga energi saat ini dengan subsidi menyeluruh, tetapi serangkaian krisis telah membuat mereka kekurangan sumber daya untuk mempertahankan hal tersebut.
âAnda harus memperbaiki atap rumah Anda sementara rumah Anda terbakar,â katanya kepada AFP, menambahkan bahwa pemerintah di negara berkembang tidak punya waktu untuk membangun cadangan atau mengatasi guncangan sebelumnya sebelum dilanda krisis baru.
Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva telah memperingatkan malapetaka akan segera terjadi jika dunia tidak mempersiapkannya. âBeberapa negara memiliki rumah yang terisolasi dengan baik dan memiliki uang di bank. Negara lain memiliki rumah tanpa atap dan tidak memiliki uang di bank. Kita tersandung dari satu krisis ke krisis lainnya, dan yang dibutuhkan negara-negara adalah ruang, waktu, dan akses ke pendanaan,â sebutnya.
Kegagalan dalam memberikan respons yang tepat dapat berakibat fatal. UNDP memperingatkan dalam sebuah laporan baru bahwa sekitar 130 juta orang berisiko terjerumus ke dalam kemiskinan tahun ini jika kenaikan harga energi dan pangan sepenuhnya dibebankan tanpa subsidi.
Badan tersebut mengatakan bahwa masyarakat di Asia Selatan dan Timur serta Afrika sub-Sahara berada dalam risiko yang sangat besar.
Memenuhi Kebutuhan Dasar
Menanggapi hal itu, pakar ekonomi Universitas Wijaya Kusuma (UWKS) Surabaya, Ermatry Hariani, mengatakan, pemerintah perlu memperkuat ketahanan energi dan pangan nasional untuk mengurangi dampak gejolak global.
Sebab, tekanan tersebut berpotensi meningkatkan biaya transportasi dan produksi, memicu kenaikan harga pangan, serta mempersempit daya beli masyarakat.
âKelompok berpenghasilan rendah menjadi pihak yang paling rentan karena sebagian besar pendapatannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Maka langkah- langkah seperti diversifikasi sumber energi, efisiensi konsumsi bahan bakar, perbaikan distribusi pangan, serta dukungan terhadap produksi pertanian domestik penting untuk menekan risiko kenaikan harga berkepanjangan,â katanya.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: AFP, Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Gerakan Sedekah Sampah Indonesia: Masjid Penggerak Ekonomi Sirkular untuk Masyarakat Sehat dan Lestari
-
Bantuan Pangan Harus Tepat Sasaran
-
Waspada! Kasus Chikungunya 2025 Melonjak, Jawa Barat Tertinggi
-
Setelah 4 Korban Ditemukan, Tim SAR Ungkap Langkah Berikutnya dalam Pencarian KM Virgo
-
Denny Sumargo Blak-blakan, Sosok Ini Bikin Dirinya Jadi Lebih Sabar
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.