Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Petani Kecil Bukan Sekadar Penanam, Inovasi Mereka Jadi Taruhan Pangan Nasional

📅 Jumat, 16 Okt 2026, 22:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Petani Kecil Bukan Sekadar Penanam, Inovasi Mereka Jadi Taruhan Pangan Nasional Doc: ANTARA/Try Vanny.
Ket. Ilustrasi-Para petani sudah mulai menanam padi kembali pada sawah yang telah selesai di rehabilitasi pasca bencana banjir, di Bireuen, Aceh.

JAKARTA – Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) menilai inovasi yang menjangkau seluruh rantai usaha petani skala kecil dapat menjadi pengungkit ketahanan pangan nasional melalui peningkatan produktivitas, pembiayaan, pengolahan hasil, hingga akses pasar.

Koordinator Nasional KRKP Said Abdullah mengatakan Hari Pangan Sedunia 2026 menjadi momentum untuk memperkuat peran petani kecil dalam menyediakan pangan melalui inovasi yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan usaha mereka.

"Jadi pada seluruh rantai itu harusnya terjadi inovasi," kata Said saat dihubungi, Jumat (16/10).

Hari Pangan Sedunia yang diperingati setiap 16 Oktober pada 2026 turut mengusung tema "Innovate today. Nourish tomorrow." atau "Berinovasi Hari Ini untuk Memupuk Hari Esok", yang menekankan inovasi dan pendekatan inklusif bagi masa depan pangan berkelanjutan.

Menurut dia, inovasi pertanian Indonesia perlu melampaui teknologi budi daya karena keberhasilan petani juga ditentukan oleh ketersediaan sarana produksi, kemudahan memperoleh modal, pengolahan hasil, dan kemampuan memasarkan produknya.

Said mengingatkan besarnya peran pertanian keluarga dalam penyediaan pangan dunia. Karena itu, inovasi perlu dirancang agar manfaatnya dapat menjangkau petani berlahan sempit, bukan hanya usaha pertanian berskala besar.

Kajian Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) memperkirakan pertanian keluarga menghasilkan sekitar 80 persen pangan dunia berdasarkan nilai produksi. Adapun usaha pertanian dengan luas lahan kurang dari dua hektare menyumbang sekitar 35 persen pangan dunia.

Di Indonesia, Sensus Pertanian 2023 Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 17,25 juta petani gurem dari 27,80 juta petani pengguna lahan, setara sekitar 62,05 persen. Petani gurem didefinisikan sebagai petani yang menggunakan lahan pertanian kurang dari 0,5 hektare.

"Sehingga menurut saya inovasi yang dikembangkan, terutama konteks Indonesia ya, itu mestinya merujuk pada kelompok ini," ujarnya.

Menurut Said, struktur usaha tani tersebut menjadikan intensifikasi atau peningkatan produktivitas di lahan yang tersedia sebagai salah satu pendekatan penting untuk memperkuat produksi pangan.

Pendekatan inovasi bagi pertanian rumah tangga juga perlu disesuaikan dengan kemampuan petani karena karakteristik usahanya berbeda dari pengelolaan pertanian berskala besar.

Upaya itu dapat dilakukan melalui penyediaan benih berproduktivitas tinggi, perbaikan kualitas lahan, penerapan teknik budi daya yang sesuai, serta pemanfaatan teknologi pascapanen untuk mengurangi kehilangan hasil.

"Inovasinya bisa mulai dari input, misalnya penyediaan benih yang produktivitasnya tinggi, atau inovasi perbaikan kualitas lahan misalnya,

juga teknik budidaya. Sampai ke pascapanen, inovasinya misalnya mengurangi food loss dengan mesin atau teknologi tertentu," tutur dia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Advertisement
10 Event Jakarta Akhir Pekan 17-18 Oktober: Ada Synchronize Festival hingga BABYMONSTER

10 Event Jakarta Akhir Pekan 17-18 Oktober: Ada Synchronize Festival hingga BABYMONSTER

16 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.