Peneliti Ungkap Misteri Nisan kuno Berhias di Pulau Lombok, NTB

Jumat, 16 Okt 2026, 06:53 WIB

MATARAM - Peneliti mengungkapkan nisan kuno berhias di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), merekam jejak percampuran budaya akibat hubungan dagangan dan diplomatik hingga lanskap sosio-religius yang terjadi pada masyarakat Sasak.

Arkeolog Muhammad Nur Rahmat Yasin dari komunitas peneliti cagar budaya Vaivasvata mengatakan nisan kuno berhias merepresentasikan identitas, status sosial, dan dinamika hubungan antarkelompok masyarakat dari masa ke masa.

Ket. Foto: Diskusi kajian nisan-nisan kuno berhias di Mataram, NTB, Kamis (15/10). — Sumber: antara foto

"Kebudayaan tidak mengenal batasan administratif. Kebudayaan selalu disentuh oleh apapun dan bisa dipengaruhi oleh apapun," ucap dia dalam diskusi kajian nisan-nisan kuno berhias di Mataram, NTB, Kamis (15/10).

Wilayah Lombok terletak pada jalur perlintasan maritim Nusantara yang diapit Selat Lombok dan Selat Alas, sehingga menjadikan pulau tersebut sebagai posisi strategis bagi poros maritim Nusantara.

Posisi geografis itu menjadikan Lombok sebagai kawasan terbuka yang menerima pengaruh budaya Jawa, Sulawesi Selatan, Bali, Sumatera, Asia Selatan, Asia Barat, hingga Eropa. 

Bahkan, kehidupan religius masyarakat Sasak masih diwarnai oleh interaksi dinamis antara penganut tradisi keagamaan  Boda, Wetu Telu, dan Wetu Lima.

Arkeolog meneliti 170 nisan pada 34 situs yang tersebar di Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Lombok Timur untuk mengkaji hiasan ukiran yang tersemat dari batu-batu nisan tersebut.

Rahmat menuturkan nisan kuno berhias bukan cuma sebagai material yang mati, itu adalah bagian dari semacam legitimasi status sosial orang-orang di masa lalu, bahkan juga pada masa kini.

Ketersediaan sumber daya alam yang dekat dengan lingkungan masyarakat turut mempengaruhi bentuk dan bahan nisan kuno berhias, misalnya penggunaan batu kapur berkaitan dengan bahan yang mudah diakses oleh mereka.

Sedangkan, pemanfaatan material lain berupa batu andesit hingga batu karang menunjukkan adanya variasi bahan dalam pembuatan nisan yang didatangkan dari luar daerah.

"Kebudayaan saat ini adalah kebudayaan yang begitu dinamis, sangat adaptif, dan benar-benar memiliki makna-makna baru di antara beberapa kelompok masyarakat maupun komunitas," papar Rahmat.

Penelitian itu turut mencermati perubahan penggunaan nisan monumental sebagai simbol status sosial masyarakat Sasak di Pulau Lombok. 

Pada masa lalu penggunaan nisan dengan bentuk dan ukiran rumit berkaitan dengan kedudukan kebangsawanan dan aturan adat, kini kemampuan ekonomi bisa mempengaruhi akses masyarakat terhadap simbol material tersebut.

Kondisi itu memperlihatkan adanya pergeseran dalam cara masyarakat menampilkan prestise dan kedudukan sosial melalui tradisi pemakaman.

"Kematian memang mengakhiri kehidupan manusia, tetapi tidak selalu mengakhiri kedudukan dan hubungan sosialnya," tegas Rahmat

Nisan kuno berhias paling tua yang ditemukan peneliti berasal dari abad 16. Nisan tersebut adalah satu-satunya nisan tipe Aceh dan berada di komplek Makam Raja-Raja Selaparang, Kabupaten Lombok Timur.

Abad ke 17 atau 18 merupakan puncak era ekspresi nisan-nisan berhias klasik dengan gaya stilasi tinggi. Dari 170 sampel nisan yang diteliti, nisan dari abad ini berjumlah 83 nisan atau sekitar 48,82 persen.

Pada abad 18, jumlah nisan berhias hanya sedikit akibat saat itu Pulau Lombok menjadi zona perang antar kerajaan. Situasi darurat militer membuat seni ukir batu nisan menjadi redup.

Saat memasuki abad 18 atau 19 masehi terjadi fase transisi dan berkembangnya nisan tipe lokal khas Lombok dengan jumlah temuan sebanyak 69 nisan atau setara 40,59 persen. Ketika abad 19 hingga 20, jumlah nisan berhias menjadi semakin sedikit.

Nisan milik kalangan bangsawan cenderung berukuran lebih besar hingga satu meter dan memiliki ragam hias lebih padat, sedangkan nisan masyarakat biasa relatif berukuran sederhana dan memiliki motif ukiran polos.

"Kami melihatnya (nisan berhias) melalui ritual, ingatan, dan benda-benda pemakaman. Masyarakat terus menghadirkan mereka yang telah tiada sebagai bagian dari kehidupan kebudayaan,"  pungkas Rahmat.

  • Peneliti
  • Nisan Kuno Berhias di Pulau Lombok

Redaktur: Sriyono

Penulis: Sriyono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.