- Home
-
- Luar Negeri
-
- Tuntut Kenaikan Gaji, Pulu...
Tuntut Kenaikan Gaji, Puluhan Ribu Guru di Madrid Mogok Kerja
Kamis, 15 Okt 2026, 17:20 WIBMADRID - Guru dan mahasiswa menggelar demonstrasi di Madrid, ibu kota Spanyol, untuk memprotes kondisi pendidikan publik. Aksi tersebut berlangsung seiring dimulainya mogok kerja tanpa batas waktu yang melibatkan sekitar 65.000 guru sekolah negeri, Rabu (14/10).
Melansir dari Anadolu, aksi mogok tersebut didukung sejumlah serikat pekerja besar. Mereka menuntut kenaikan gaji, pengurangan jumlah siswa dalam kelas, pengurangan jam mengajar, serta peningkatan investasi untuk infrastruktur sekolah.
Aksi ini dilakukan setelah negosiasi dengan pemerintah daerah tidak membuahkan hasil selama berbulan-bulan. Serikat pekerja menilai sistem pendidikan publik di wilayah tersebut mengalami kekurangan pendanaan dan tenaga pengajar.
Ketegangan meningkat pada Rabu pagi ketika mahasiswa di Universitas Complutense Madrid dan Universitas Rey Juan Carlos mendirikan barikade yang mengganggu aktivitas kampus. Bentrokan kemudian terjadi di kampus Ciudad Universitaria setelah polisi antihuru-hara berupaya membubarkan blokade.
Sedikitnya lima orang ditangkap dan tujuh orang terluka, termasuk beberapa anggota kepolisian, menurut pejabat daerah. Gangguan juga meluas ke pusat kota Madrid, para pendidik taman kanak-kanak memblokade jalan di sepanjang Paseo de la Castellana pada pagi hari.
Hal tersebut menyebabkan lalu lintas di salah satu koridor utama keuangan dan transportasi kota tersebut terhenti sementara. Dalam tuntutannya, serikat pekerja mengusulkan pembatasan jumlah siswa maksimal 13 anak per kelas di taman kanak-kanak dan 15 siswa di sekolah dasar.
Sementara itu, jumlah siswa di sekolah menengah diusulkan maksimal 20 orang per kelas. Mereka juga meminta kenaikan gaji bersih sebesar 600 euro (sekitar Rp16 juta) per bulan untuk mengimbangi inflasi.
Kenaikan tersebut diharapkan dapat mendekatkan penghasilan guru di Madrid dengan guru di wilayah lain di Spanyol. Serikat pekerja menuntut pengurangan jam mengajar mingguan menjadi 22 jam untuk guru sekolah dasar dan 17 jam untuk guru sekolah menengah.
Mereka juga meminta penambahan sumber daya pendidikan khusus serta modernisasi sistem pengatur suhu di gedung sekolah yang sudah tua. Sementara itu, Menteri Pendidikan Daerah Mercedes Zarzalejo menyebut aksi mogok tersebut bermotif politik.
Sejumlah pejabat pemerintah daerah juga menilai tuntutan pendanaan dari serikat pekerja tidak dapat dipenuhi dalam kerangka anggaran saat ini. Pemerintah daerah menetapkan ketentuan layanan minimum untuk memastikan sekolah tetap dibuka dan pengawasan terhadap siswa tetap tersedia selama aksi berlangsung.
Meski demikian, serikat pekerja berjanji melanjutkan mogok tanpa batas waktu hingga pemerintah daerah bersedia membentuk mekanisme perundingan resmi. Perselisihan tersebut meningkatkan tekanan pemerintah daerah untuk memperbaiki kondisi kerja, mengatasi kekurangan tenaga pengajar, dan meningkatkan pendanaan pendidikan publik. ils/I-1
- Mogok Kerja
- madrid
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Ilham Sudrajat
Berita Terkait:
-
Peringati Hari Kemerdekaan, KAI Beri Diskon Tiket 17% untuk Penumpang KA Jarak Jauh
-
Sekda: Pemkot Bandung Targetkan 435.416 KK Terdaftar Digitalisasi Perlindungan Sosial
-
DLH Makassar Menggencarkan Edukasi Pemilahan Sampah Residu
-
Kemenhut Kawal Eksekusi Ganti Rugi Rp78,1 Miliar atas Kasus Pembalakan Liar di Mentawai.
-
DPRD DKI Soroti Desil Bansos Tak Tepat Sasaran, 94 Ribu Anak Terancam Tak Sekolah
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.