Gempa Flores Uji Ketangguhan Pembangkit Panas Bumi Ulumbu

Kamis, 15 Okt 2026, 00:00 WIB

Secara umum, PLTP memiliki ketahanan yang cukup baik terhadap gempa, tetapi tingkat keandalannya ditentukan oleh karakteristik komponen, kualitas desain tahan gempa, serta pemeliharaan yang dilakukan secara berkala.

MANGGARAI – Gempa bumi berkekuatan 7,7 skala richter (SR) yang mengguncang Flores pada 14 Agustus 2026 tak menimbulkan kerusakan mayor pada pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Ulumbu di Desa Wewo, Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ket. Foto: KOMPONEN UTAMA AMAN - Foto udara pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Ulumbu di Desa Wewo, Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), beberapa waktu lalu. — Sumber: istimewa

Di saat sejumlah pembangkit lain di daratan Flores mengalami masalah seperti pergeseran mesin, PLTP Ulumbu dan semua PLTP yang beroperasi di Flores justru aman dari guncangan. Fakta ini menarik di tengah masih adanya penolakan dari sebagian kecil masyarakat terhadap pengembangan panas bumi di Flores. Ini menggambarkan pentingnya pemanfaatan sumber energi lokal untuk kelistrikan sehingga tidak bergantung pada energi dari luar daerah.

Kepala Teknik Panas Bumi (KTPB) untuk Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Ulumbu PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Proyek (UPP) Nusra 2, Roya Ginting, menuturkan Flores yang rawan gempa semestinya punya sumber energi sendiri. "Dengan begitu, ketika bencana datang, ketahanan energi tetap terjaga dan masyarakat tidak gelap gulita," ucap dia saat ditemui di Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, Senin (12/10).

Roya menceritakan bagaimana ketahanan PLTP Ulumbu ketika diguncang gempa Agustus lalu. Dari hasil pemerikaan menyeluruh pada fasilitas pembangkit eksisting pascagempa, turbin, generator, separator, condenser, dan cooling tower dalam kondisi aman.

Kalaupun ada kerusakan, masih skala ringan atau kecil seperti retakan plester dinding, baik pagar maupun fasilitas pendukung lainnya. "Pengembangan PLTP Ulumbu Unit 5 berkapasitas 20 MW juga tidak mengalami kerusakan akibat gempa," tambah dia.

Sebagai gambaran, Flores dikenal sebagai ‘Pulau Geothermal atau pulau Panas Bumi’ berdasarkan Keputusan Menteri ESDM nomor 2268 K/30/MEM/2017. Keputusan ini disahkan pada 19 Juni 2017. Potensi panas bumi di Pulau Flores sekitar 900–1.000 MW yang tersebar di 17 hingga 31 titik lokasi. Salah satu yang sudah beroperasi dan jadi andalan adalah PLTP Ulumbu di Kabupaten Manggarai, NTT.

PLTP Ulumbu eksisting saat ini berkapasitas 4 x 2,5 MW = 10 megawatt (MW). Listrik ini masuk ke sistem kelistrikan Flores dan membantu mengurangi ketergantungan pada pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD)/pembangkit listrik tenaga mesin gas (PLTMG) yang memakai bahan bakar minyak (BBM) impor, mahal, dan rawan terganggu pasokan saat bencana.

Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Ulumbu luasnya 18.280 hektare, dengan lahan pengembangan hanya 21 hektar. Potensinya mencapai 200 MW. Dasar penugasannya Kepmen ESDM No. 5099 K/30/MEM/2016, tanggal 15 April 2016, untuk jangka waktu 35 tahun. Artinya, baru sebagian kecil potensi yang dipakai. Masih sangat besar untuk dikembangkan.

Adapun PLN saat ini mengembangkan Unit 5-6 sebesar 2 x 20 MW (40 MW), sehingga total Ulumbu nanti menjadi 50 MW. Jika Unit 5 beroperasi, pasokan listrik Flores akan jauh lebih stabil, terutama untuk Manggarai dan sekitarnya termasuk Destinasi Wisata Super Premium, Labuan Bajo, Manggarai Barat.

Ketahanan Infrastruktur

Pengamat Energi Baru dan Terbarukan dari Center for Renewable Energy Studies (ICRES) Surya Darma menilai kejadian gempa ini menjadi pembelajaran berharga. Dipaparkan dia, Flores ini rentan gempa. Kalau sumber energinya dari dalam pulau sendiri (panas bumi), saat bencana listrik tidak langsung padam total karena tidak bergantung pada kiriman BBM dari luar.

Meskipun kontribusi PLTP Ulumbu untuk nasional masiu kecil tapi perannya besar dan strategis. "Akselerasi pembangunan proyek panas bumi di Flores, seperti perluasan Ulumbu dan titik prospek lainnya, adalah investasi jangka panjang terbaik untuk mewujudkan kemandirian dan ketahanan energi terbarukan yang tangguh bencana," tegas Surya Darma.

Dijelaskannya, pengalihan ketergantungan dari PLTD/PLTMG ke PLTP tak hanya menekan emisi karbon dan biaya operasional BBM impor, tetapi juga menjamin keandalan listrik bagi masyarakat dan ekonomi Flores dalam situasi darurat sekalipun.

Relatif Tangguh

Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menjelaskan, secara umum PLTP cukup tangguh terhadap gempa. "Ketangguhannya bergantung pada komponen yang dilihat dan seberapa baik desain serta perawatannya," ucap dia.

Hampir semua PLTP berada di zona vulkanik-tektonik aktif, sehingga sejak awal pembangunannya sudah memasukkan beban seismik. Di Indonesia acuannya Standar Nasional Indonesia (SNI) 1726 untuk struktur, dilengkapi standar internasional untuk perpipaan dan peralatan tekan.

Rekam jejaknya juga baik. PLTP di Jepang saat gempa Tohoku 2011, Selandia Baru, Filipina saat gempa Leyte 2017, dan California, Amerika Serikat (AS) umumnya hanya mengalami trip atau kerusakan terbatas, lalu beroperasi kembali dalam hitungan hari hingga minggu.

“Namun ada beberapa bagian yang rentan. Pertama, sumur. Casing yang disemen relatif kokoh, tetapi bisa rusak jika patahan aktif bergeser tepat di jalurnya. Karena itu pemetaan patahan sebelum menentukan lokasi sumur sangat penting," papar Fabby.

Kedua, jaringan pipa uap dan brine. Pipa panjang melewati medan tidak rata. Tanpa expansion loop, penyangga geser, dan sambungan fleksibel yang memadai, pipa bisa bergeser, retak, atau bocor.

Faktor kerentanan ini papar Fabby sebenarnya sudah diperhitungkan pengembang PLTP. Hanya saja, kekuatan gempa bisa saja melampaui perhitungan desain, sehingga risiko kerusakan tetap ada.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.