Rano Karno Dorong Kolaborasi Literasi dan Sejarah Jakarta Lewat Festival Pustakarsa 2026
📅 Rabu, 14 Okt 2026, 17:40 WIB | Oleh: Paundra ZakirullohJAKARTA - Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, mendorong penguatan budaya literasi dan pelestarian sejarah melalui kolaborasi perpustakaan, kearsipan, galeri seni, dan museum. Langkah ini diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan dan sejarah Jakarta, terutama bagi generasi muda.
Dorongan tersebut disampaikan Rano saat membuka Festival Pustakarsa (Perpustakaan, Kearsipan, dan Sastra) 2026 di Galeri Emeria Soenassa, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Rabu (14/10). Festival yang berlangsung hingga 22 Oktober 2026 ini menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari pameran naskah kuno, aktivitas literasi, apresiasi kearsipan, hingga penghargaan karya sastra.
Menurut Rano, kemajuan Jakarta sebagai kota global tidak hanya diukur melalui perkembangan ekonomi dan pembangunan infrastruktur. Peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pengetahuan, kreativitas, dan kebudayaan juga menjadi bagian penting dalam pembangunan kota.
"Sebagai kota global, Jakarta tidak cukup hanya maju secara ekonomi dan infrastruktur, tetapi harus didukung masyarakat yang berpengetahuan, kreatif, dan berbudaya. Literasi, kearsipan, dan sastra memiliki peran penting dalam membangun masyarakat tersebut," ujar Rano.
Ia menilai perpustakaan dan lembaga kearsipan perlu terus menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi serta perubahan kebiasaan masyarakat dalam memperoleh informasi. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan ialah mengenalkan budaya membaca melalui konten kreatif, seperti ulasan buku digital, vlog, dan reels.
Sebaiknya Anda baca juga:
Rano juga mendorong penerapan konsep GLAM, yakni Galeri, Perpustakaan, Arsip, dan Museum, untuk memperkuat penyebaran pengetahuan sejarah kepada masyarakat. Melalui konsep tersebut, arsip sejarah dapat dipadukan dengan pameran seni dan karya visual sehingga informasi mengenai perjalanan Jakarta lebih mudah dipahami.
"Kolaborasi dengan galeri seni dan museum di Jakarta perlu terus didorong, antara lain dengan memadukan arsip sejarah bersama pameran dan karya visual. Dengan demikian, sejarah kota tidak hanya tersimpan, tetapi juga dapat dinikmati dan dipelajari masyarakat melalui ruang publik yang edukatif dan interaktif," jelasnya.
Rano turut menyampaikan sejumlah indikator yang menggambarkan kondisi pembangunan manusia dan literasi di Jakarta. Pada 2025, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jakarta mencapai 85,05, sementara Indeks Budaya Literasi tercatat sebesar 78,76 dan aktivitas membaca masyarakat mencapai 82,49 persen.
Ia berharap capaian tersebut menjadi dorongan untuk memperluas akses terhadap pengetahuan dan menjadikan membaca sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Festival Pustakarsa juga menjadi ruang penghargaan bagi penerbit, perangkat daerah, badan usaha milik daerah (BUMD), serta arsiparis yang berkontribusi dalam pengelolaan kearsipan.
Menjelang peringatan 500 tahun Jakarta, Rano menegaskan bahwa pelestarian arsip, penguatan budaya baca, dan pengembangan sastra perlu terus dilakukan untuk menjaga identitas kota. Menurutnya, catatan sejarah tidak cukup hanya disimpan, tetapi juga perlu dibuka aksesnya agar dapat dipelajari dan diwariskan kepada generasi mendatang.
"Arsip merekam perjalanan kota, literasi memperluas wawasan masyarakat, sedangkan sastra memberi ruang bagi gagasan dan pengalaman untuk terus hidup serta diwariskan kepada generasi berikutnya," katanya.
Festival Pustakarsa 2026 turut menghadirkan pameran 12 naskah kuno yang ditetapkan sebagai Ingatan Kolektif Nasional oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada 2025. Pameran ini menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan kekayaan sejarah dan warisan pengetahuan kepada masyarakat luas.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) DKI Jakarta, Nasruddin Djoko Surjono, mengatakan pelestarian arsip dan manuskrip menjadi bagian dari persiapan menyambut lima abad Jakarta. Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga rekam jejak perjalanan kota sekaligus memastikan arsip dapat dimanfaatkan sebagai sumber pengetahuan lintas generasi.
"Upaya menyongsong 500 tahun Jakarta tentunya dilakukan dengan mendorong ingatan kota melalui arsip dan manuskrip yang akan menjadi memori kolektif bangsa hingga dikukuhkan menjadi Memory of the World," ujar Nasruddin.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!