FIFPRO Dukung Kebijakan Pembekuan Sel Telur bagi Pesepak Bola Wanita, Tapi Kebebasan Memilih Harus Dijaga

Selasa, 13 Okt 2026, 00:02 WIB

MANCHESTER — Kebijakan Chelsea dan Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) yang menyediakan layanan pembekuan sel telur bagi pesepak bola wanita dinilai sebagai langkah progresif. Namun, kebijakan tersebut harus disertai perlindungan yang memadai agar para pemain tidak merasa tertekan untuk menunda kehamilan demi karier profesional mereka.

Direktur Sepak Bola Wanita FIFPRO, Alex Culvin, menilai inisiatif tersebut membuka peluang lebih besar bagi pemain perempuan untuk menentukan masa depan reproduksi mereka. FIFPRO merupakan organisasi global yang mewakili para pesepak bola profesional.

Ket. Foto: Ilustrasi pemain wanita Chelsea. — Sumber: Chelsea

Pada bulan Agustus lalu, Chelsea menjadi klub pertama di Women's Super League (WSL) Inggris yang membiayai prosedur pembekuan sel telur serta sejumlah layanan perawatan kesuburan lainnya bagi para pemainnya. Sementara itu, bulan lalu, RFEF mengumumkan kerja sama yang memungkinkan pemain tim nasional wanita yang memenuhi persyaratan mengakses berbagai layanan kesuburan, termasuk pembekuan sel telur dan fertilisasi in vitro (IVF).

“Jika dilihat secara objektif, ini merupakan langkah yang sangat progresif ketika klub mampu menyediakan layanan semacam ini bagi para pemain,” kata Culvin.

Meski mendapat sambutan positif dari sejumlah pemain, kebijakan tersebut juga memunculkan kekhawatiran. Pembiayaan perawatan kesuburan oleh pemberi kerja dikhawatirkan dapat mengubah pilihan untuk menunda kehamilan menjadi semacam ekspektasi bagi atlet perempuan.

Pelompat jangkit Spanyol, Ana Peleteiro-Compaoré, termasuk di antara mereka yang menyuarakan kekhawatiran tersebut.

“Masalahnya jelas bukan pada pembekuan sel telur,” ujarnya dalam sebuah video di Instagram. “Masalahnya adalah mengapa institusi tempat para perempuan ini bekerja berkepentingan membiayai mereka untuk menunda menjadi ibu? Bagi saya, di situlah persoalan yang mengubah segalanya.”

Culvin menegaskan, kebijakan yang memperluas pilihan reproduksi merupakan kemajuan penting. Namun, keputusan untuk menjalani pembekuan sel telur harus tetap berada di tangan masing-masing pemain, tanpa tekanan dari klub ataupun federasi.

“Seperti kebijakan lainnya, hal-hal terpenting justru terletak pada detail pelaksanaannya. Namun, jika kita memulainya dengan memberikan kebebasan memilih kepada pemain, itu merupakan hal yang sangat penting. Setiap pemain memiliki pandangan yang berbeda,” kata Culvin.

Perbedaan kondisi, kebutuhan, dan rencana hidup membuat keputusan terkait kehamilan tidak bisa diseragamkan. Karena itu, edukasi mengenai kesehatan reproduksi dan pemahaman terhadap pilihan yang tersedia menjadi faktor penting.

“Edukasi sangat penting, begitu pula pemberdayaan pemain agar mereka memahami bahwa ini merupakan keputusan individual,” ujarnya.

Menurut Culvin, kebebasan tersebut juga harus didukung mekanisme perlindungan yang memungkinkan pemain menyampaikan kekhawatiran apabila merasa mendapat tekanan untuk membekukan sel telur atau menunda kehamilan.

Gelandang Spanyol dan London City, Alexia Putellas, menyambut positif kemungkinan untuk menunda kehamilan hingga karier profesionalnya berakhir.

Putellas menyoroti dilema yang dihadapi atlet perempuan ketika harus menyeimbangkan tuntutan karier dengan usia biologis.

“Sebagai atlet, Anda mengabdi kepada negara sambil berpacu dengan jam biologis. Anda tidak bisa begitu saja berhenti dan menjadi ibu karena tubuh Anda dibutuhkan untuk menjalankan pekerjaan,” ujarnya.

RFEF menyatakan bahwa kerja sama dengan klinik fertilitas Tambre di Madrid bertujuan memberikan keleluasaan lebih besar kepada pemain perempuan dalam mengambil keputusan terkait keibuan.

Meski demikian, Culvin mengingatkan bahwa layanan pembekuan sel telur tidak boleh menjadi pengganti perlindungan bagi pemain yang ingin memiliki anak selama masih aktif berkarier.

Chelsea tidak hanya membiayai pembekuan sel telur, tetapi juga menyediakan layanan kesuburan lain, termasuk IVF, serta perawatan ginekologi.

Bagi Culvin, program semacam itu harus berjalan beriringan dengan kebijakan perlindungan maternitas yang memungkinkan pemain menjalani kehamilan dan membesarkan anak tanpa harus mengorbankan hak-hak mereka sebagai atlet profesional.

Pada 2024, FIFA memperkenalkan kebijakan yang menjamin pemain dan pelatih memperoleh cuti melahirkan berbayar sekurang-kurangnya 14 minggu. Kebijakan tersebut juga mencakup perlindungan terkait adopsi, cuti keluarga, kesehatan menstruasi, serta proses kembali berkarier setelah kehamilan.

“Memiliki kebijakan yang jelas itu penting. Namun, perlindungan maternitas juga sama pentingnya, termasuk perlindungan yang memastikan pemain merasa aman ketika menentukan pilihan pribadi, baik untuk membekukan sel telur maupun tidak,” kata Culvin.

Ia menambahkan, inti dari kebijakan tersebut adalah memastikan setiap perempuan memiliki informasi dan perlindungan yang cukup untuk mengambil keputusan mengenai karier serta kehidupan keluarganya.

Keputusan untuk membekukan sel telur, menunda kehamilan, atau menjadi ibu selama masih aktif bermain harus tetap menjadi hak individu, bukan kewajiban terselubung yang muncul akibat tuntutan profesional.

“Yang terpenting adalah memastikan para pemain memiliki informasi dan perlindungan yang mereka butuhkan untuk mengambil keputusan tanpa kewajiban ataupun tekanan,” ujar Culvin.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.