Zheng Qinwen Ukir Sejarah, Jadi Petenis Tiongkok Pertama Juara China Open

Senin, 12 Okt 2026, 00:10 WIB

BEIJING — Air mata kebahagiaan mengiringi keberhasilan Zheng Qinwen mengukir sejarah di China Open. Petenis Tiongkok itu menjadi pemain tuan rumah pertama yang menjuarai turnamen bergengsi tersebut setelah mengalahkan petenis Russia, Mirra Andreeva, 7-5, 6-4, pada partai final, Minggu (11/10).

Zheng, yang merupakan juara Olimpiade, tampil di Beijing melalui fasilitas wildcard setelah mengalami masa sulit akibat masalah performa dan kebugaran seusai menjalani operasi siku pada tahun 2025. Berada di peringkat ke-54 dunia, ia akhirnya kembali meraih gelar setelah hampir dua tahun menunggu.

Ket. Foto: Zheng Qinwen. — Sumber: WTA

Begitu memastikan kemenangan, Zheng langsung terjatuh ke lapangan dengan mata berkaca-kaca. Momen emosional itu menjadi gambaran betapa berartinya gelar tersebut bagi petenis berusia 24 tahun itu, terlebih karena diraih di hadapan pendukungnya sendiri.

“Perasaan ini luar biasa, bisa menang di Beijing. Menjadi juara di hadapan publik sendiri adalah salah satu impian saya,” kata Zheng dalam upacara penyerahan trofi. “Saya telah melewati tahun yang sangat, sangat sulit,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Zheng juga memberikan selamat kepada Andreeva atas keberhasilannya menjuarai French Open pada tahun ini. Ia kemudian menyanyikan sebuah lagu di hadapan penonton yang mengangkat tema mengejar “cahaya impian”.

Kemenangan ini menorehkan babak baru dalam sejarah tenis Tiongkok. Sejak pertama kali digelar pada 2004, China Open belum pernah dimenangi petenis putri tuan rumah. Zheng akhirnya memutus catatan tersebut sekaligus mempersembahkan gelar bersejarah bagi negaranya.

Bangkit setelah menghadapi tiga set point

Andreeva, yang menempati peringkat kelima dunia, mengawali pertandingan dengan permainan lebih konsisten. Namun, Zheng perlahan menemukan ritmenya dan berhasil merebut kembali servis yang sempat hilang.

Keduanya kemudian terlibat pertarungan ketat dari garis belakang lapangan. Zheng menunjukkan ketangguhan mental ketika menghadapi tekanan pada set pertama.

Saat tertinggal dalam situasi krusial, ia berhasil menyelamatkan tiga set point untuk menyamakan kedudukan menjadi 5-5. Setelah itu, Zheng memenangi seluruh poin berikutnya, termasuk lewat sebuah ace yang memastikan keunggulan pada set pertama.

Dukungan penonton tuan rumah begitu besar hingga beberapa kali mengganggu jalannya pertandingan. Sorakan terdengar sebelum reli berakhir, sementara teriakan dukungan untuk Zheng muncul ketika kedua pemain bersiap melakukan servis.

Meski atmosfer pertandingan berlangsung riuh, Zheng dan Andreeva tetap berusaha menjaga konsentrasi.

Pada set kedua, persaingan kembali berlangsung ketat. Kedua petenis saling mempertahankan servis hingga Zheng menemukan celah pada gim kesembilan.

Petenis Tiongkok itu melepaskan pukulan akurat ke dekat garis lapangan untuk mematahkan servis Andreeva dan unggul 5-4. Ia kemudian sempat melakukan kesalahan ganda atau double fault ketika berpeluang menuntaskan pertandingan.

Namun, Zheng segera bangkit. Sebuah ace memastikan kemenangan pada match point pertamanya sekaligus mengakhiri perlawanan Andreeva dalam dua set langsung.

Akhiri penantian hampir dua tahun

Gelar China Open menjadi trofi pertama Zheng sejak Oktober 2024, ketika ia mengalahkan Sofia Kenin di Tokyo. Keberhasilan di Beijing juga menjadi gelar pertamanya pada level WTA 1000, kategori turnamen elite di bawah Grand Slam.

Perjalanan menuju gelar tersebut terasa semakin berarti setelah Zheng melewati periode sulit akibat operasi siku dan persoalan kebugaran. Kini, ia memiliki modal penting untuk kembali bersaing di jajaran elite tenis putri dunia.

Bagi Andreeva, kekalahan di final tidak menghapus pencapaian positifnya sepanjang turnamen. Petenis berusia 19 tahun itu mengaku menikmati pengalamannya tampil di Beijing meski gagal membawa pulang trofi.

“Ini merupakan pekan yang sangat menyenangkan. Saya suka bermain di Beijing, jadi tentu saja saya menikmati waktu saya di sini,” kata Andreeva.

Langkah Andreeva hingga final juga membawanya naik ke peringkat ketiga dunia, posisi tertinggi sepanjang kariernya.

China Open pun berakhir dengan dua catatan penting: Zheng menorehkan sejarah bagi tenis Tiongkok, sedangkan Andreeva melanjutkan perkembangan kariernya dengan pencapaian peringkat dunia terbaik.

Bagi Zheng, kemenangan di hadapan publik sendiri bukan sekadar tambahan trofi. Gelar ini menjadi simbol kebangkitan setelah masa sulit sekaligus pembuktian bahwa impian yang sempat tertunda masih bisa diwujudkan.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.