Tragis, 43 Paus Pilot Mati Massal Terdampar di Pantai Terpencil Selandia Baru

Jumat, 06 Nov 2026, 17:56 WIB

WELLINGTON – Pemandangan memilukan terjadi di pesisir timur Selandia Baru. Sebanyak 43 paus pilot ditemukan mati setelah terdampar secara massal di pantai Ngawi, wilayah terpencil di ujung tenggara Pulau Utara, meskipun tim penyelamat telah berupaya keras menyelamatkan mamalia laut tersebut.

Departemen Konservasi Selandia Baru (Department of Conservation/DoC) mengonfirmasi seluruh paus yang terlibat dalam peristiwa tersebut diyakini tidak ada yang berhasil diselamatkan.

Ket. Foto: Kelompok penyelamat Project Jonah mengungkapkan, saat pertama kali ditemukan, sekitar 40 hingga 50 paus terdampar di sepanjang beberapa kilometer garis pantai. — Sumber: Istimewa

Dari The Guardian, laporan mengenai keberadaan paus-paus itu diterima DoC sesaat setelah pukul 08.00 waktu setempat, Kamis (5/11/2026). Petugas konservasi kemudian bergerak bersama masyarakat suku Māori atau iwi serta sejumlah sukarelawan untuk melakukan penyelamatan.

Namun, kondisi lokasi yang sulit dijangkau membuat upaya tersebut menghadapi banyak kendala.

Penjabat Manajer Operasi DoC Wairarapa, Ariana Hawira, mengatakan petugas awalnya berusaha mengapungkan kembali sejumlah paus yang masih hidup. Sayangnya, sebagian besar upaya penyelamatan tidak membuahkan hasil.

"Sayangnya, diyakini tidak ada satu pun paus yang selamat," kata Hawira.

Kelompok penyelamat Project Jonah mengungkapkan, saat pertama kali ditemukan, sekitar 40 hingga 50 paus terdampar di sepanjang beberapa kilometer garis pantai.

Sebagian besar paus bahkan sudah mati sebelum ditemukan. Sementara hewan yang masih hidup tidak mampu bertahan hingga proses penyelamatan selesai.

"Ketika paus-paus itu ditemukan, diperkirakan 40–50 paus terdampar di sepanjang beberapa kilometer garis pantai. Banyak yang sudah mati sebelum ditemukan dan sayangnya paus-paus yang ditemukan hidup, meninggal sepanjang hari," demikian keterangan Project Jonah melalui unggahan Facebook pada Jumat (6/11/2026).

Upaya penyelamatan semakin sulit karena lokasi kejadian berada di kawasan berbatu dan terpencil. Ombak yang kuat serta bebatuan tajam di zona pasang surut juga membahayakan proses evakuasi.

Dalam upaya penanganan tersebut, sejumlah siswa sekolah bahkan turut membantu staf Project Jonah merawat seekor paus pilot yang masih terdampar.

Setelah memastikan tidak ada paus yang berhasil diselamatkan, petugas konservasi mulai berkoordinasi dengan masyarakat iwi untuk mengurus penguburan bangkai paus.

Langkah tersebut memiliki makna khusus bagi masyarakat Māori. Pasalnya, paus dipandang sebagai taonga atau harta yang memiliki nilai sakral dalam tradisi mereka.

Peristiwa paus terdampar secara massal bukan hal asing di Selandia Baru. Menurut DoC, lebih dari 5.000 kejadian paus dan lumba-lumba terdampar telah tercatat di negara tersebut sejak 1840.

Paus pilot sendiri merupakan anggota keluarga lumba-lumba. Hewan ini dapat tumbuh hingga tujuh meter dengan berat mencapai tiga ton.

Spesies tersebut dikenal cukup sering mengalami peristiwa terdampar massal, meskipun penyebab pasti perilaku tersebut belum sepenuhnya dipahami para ilmuwan.

Hawira mengatakan, meskipun kejadian terdampar di kawasan pantai tersebut tergolong jarang, belum ada indikasi bahwa frekuensi maupun tingkat keparahan peristiwa serupa mengalami peningkatan.

Peristiwa di Ngawi kembali memperlihatkan betapa sulitnya menyelamatkan mamalia laut yang terjebak di kawasan pesisir terpencil, terutama ketika kondisi alam tidak memungkinkan tim penyelamat bekerja secara optimal.

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.