Rancangan Tindak Cepat Padamkan Kebakaran Lahan Gambut
Senin, 12 Okt 2026, 03:05 WIBOleh: Prof. Dr. Azwar Maas
Penyebab gambut menjadi rentan terhadap kebakaran adalah berkurangnya kadar lengas gambut, mulai dari liwat jenuh, jenuh, kapasitas lapangan, batas perubahan sifat hidrofilik, sampai akhirnya menjadi kering udara. Kedaan ini dipacu oleh tindakan manusia dengan menggali saluran atusan (tanpa diikuti oleh bangunan pengendali atau tidak berfungsinya bangunan pengendali), membuka lahan, mengolah gambut dan pemberian saprodi (kapur, pupuk, atau pembakan gambut).
Pencegahan gambut untuk tidak rentan satu-satunya adalah menjaga kesinambungan air tanah yang liwat jenuh atau mendekati jenuh. Upaya ini dapat berseberangan dengan kondisi yang dikehendaki oleh budidaya tanaman (pangan atau keras), dengan demikian harus diadakan kompromi antara kebutuhan pemanfaatan untuk budidaya dan fungsi lingkungan.
Hingga saat ini kebakaran lahan gambut terus berlanjut dengan hilang dan timbul di lokasi yang sama atau yang muncul ditempat yang berdekatan. Bencana ini sangat merugikan kehidupan mahluk baik fauna maupun flora yang berdomisili di lahan gambut, termasuk juga dampak kabut asap yang menyebar ke wilayah lain, bahkan sampai ke negara tetangga kita
Usaha pemadaman sudah sangat intensif dilakukan oleh para pemangku kepentingan bersama masyarakat, baik melalui pembasahan dari daratan, water bombing maupun hujan buatan.. Tampaknya yang lebih efektif adalah pemadaman melalui daratan dengan metode penyemprotan dengan sumber air yang terhubung dengan mesin penyemprot dan selang pengocor dengan tekanan tertentu sehingga air dapat membasahi gambut permukaan sampai kedalaman tertentu. Masalahnya di masa el nina yang berkepanjangan ini sumber air juga sangat terbatas dan juga banyak kebakaran terjadi di wilayah dengan lintasan terbatas, meskipun saat ini sudah ada upaya untuk mendapatkan sumber air setempat melalui sumur bor dangkal yang sampai di bawah muka air tanahnya. Untuk itu nampaknya cukup urgen pengadaan sarana dan prasaraana sumur bor ini dalam waktu singkat ini dimana el nina masih berlangsung.
Mungkin perlu dipahami bersama mekanisme hal apa saja yang perlu dipahami dalam masalah kebakaran lahan gambut ini
1.Tinggi muka air tanah (TMAT) menurut aturannya sudah melebihi nilai 0,4m dari permukaan tanah sehingga aliran air untuk merembes sampai permukaan tidak terjadi, kalau masih dibawah 0,4m permukaan gambut tetap lembab atau basah (disebut hidrofilik). Gambut permukaan menjadi kering dalam kondisi ekstrim berbah menjadi debu yang siap terbakar (bersifat hidrofobik) atau kering tidak balik
2.Bila ada vegetasi dari semak belukar sampai pepohonan yang menaungi permukaan gambut, maka kemungkinan gambut permukaan menjadi kering akan memakan waktu lebih lama. Tetapi bila semak belukar juga telah layu sampai kering maka ini yang terbakar lebih dahulu sampai ke gambut dan mungkin masuk lebih jauh sampai mendekati muka air tanah. Ini yang disebut gambut permukaan padam dan masih ada bara di bawah permukaan yang mungkin juga bercampur dengan sistem perakaran tanaman yang trubusnya terbakar
Untuk penanggulangan kebakaran ini mungkin perlu disertai dengan pemahaman tentang fakta kondisi lapangan yang dapat disidik melalui pembuatan lubang vertical dengan dimensi lebar 20- 30cm panjang 30 -50cm dan dalamnya sampai mencapi muka air tanah.. Lalu diamati seberapa tebal gambut yang masih suka air di atas muka air tanah tersebu dan berapa tebal gambut yang sudah kering diukur dari permukaan gambut. Dapt dihitung kebutuhan air siraman/semprotan harus minimal sebanyak 40% tebal gambut yang sudah kering.Jadi disamping pemadaman yang menyala dapat lebih teratasi dan tidak lagi muncul kebakaran yang berasal dari bara di bawah permukaan gambut.
Hal lain yang perlu diketahui bahwa gambut yang sudah bersifat hidrofobik, walaupun tidak terbakar dan sudah dibasahi tidak dapat berubah menjadi hidrofilik meskipun nantinya dapat ditumbuhi oleh tanaman pionir atau vegetasi lain sesuai peruntukan. Kondisi gambut yang hidrofobik inilah biasanya akan terbakar berulang pada saat dimana gambut tersebut tersingkap atau sudah menjadi semak belukar pada kondisi layu karena panas dan akarnya tidak dapat mengambil air sesusi kebutuhan (deficit)
Komponen utama dari asap adalah penyusun utama dari kekayuan yang terbakar sempurna sampai tidak sempurna, menghasilkan gas CO2 dan COx, demikian juga gas yang berasal dari komponen yang mengandung N menjadi NH3. Gas COx dan NH3 atau amoniak berbahaya karena menghenda oksigen agar kembali menjadi gas CO2 dan N2. Bila gas ini terhirup, maka akan terjadi pengurangan ketesediaan oksigen yang dibutuhkan dalam proses pernafasan yang akhirnya dapat membuat sesak nafas, tersengal-sengal dan kebutuhan energi tidak terpenuhi yang pada kondisi ekstrim dapat membuat mati lemas.
Butiran abu dengan berbagai ukuran halus berasal dari abu yang semula berukuran cukup besar terbawa dan terserpih oleh tenaga angin sehingga berukuran sangat halus yang dikenal dengan istilah partikulat. Abu ini adalah sisa bakaran yang telah kehilangan hampir semua unsur carbon, dan nitrogen, berupa oksida basa Ca, Mg, K, dan oksida metal Cu, Zn, Fe, Si. Komponen ini bila terkena air atau masuk ke jaringan lunak seperti mata dan kerongkongan akan bereaksi dengan cairan/air membentuk gugus hidroksida yang bersifat alkalis dari oksida basa Ca, Mg dan K dapat merusak jaringan lunak melalui pendispersian yang diikuti rasa gatal. Oksida metal tetap berupa butiran yang berbahaya bersifat menggerus atau iritasi, misalnya gatal dimata kemudian diucek-ucek dengan jari tangan.
Golongan masyarakat yang sangat sensitif terhadap gangguan asap ini adalah kelompok balita, ibu hamil dan orang yang punya penyakit pernafasan seperti asma, bronsitis, paru-paru. Penanganan dengan teknik penggunaan masker tidak mampu mencegah iritasi pada jaringan mata. Masker juga belum tentu dapat menyaring butiran abu yang terikut yang tentunya bila sampai ke jaringan lunak secara terus menerus dapat menyebabkan pembentukan jaringan tidak normal dan berpotensi menjadi kanker.
Cara yang cukup baik untuk menanggulangi keberadaan partikulat halus adalah dengan: (a) memanfaatkan masker yang dibasahkan dibagian luarnya, (b) ruangan yang disemproti atau memanfaatkan kipas yang terhubung dengan semburan uap/butiran halus air. Ruang tidur berkelambu yang dibasahkan. Ini dapat mengurangi dampak negatif dari bahan abu yang segera jatuh karena bereaksi dengan air seprotan tersebut sehingga tidak terkena jaringan lunak di tubuh kita, (c} menggunakan tipe helm yang sampai di bawah mata, ataukacamata bila berkendaraan roda dua.
Hanya komponen gas yang tidak teroksidasi sempurna bila terhirup dapat mengurangi suplai oksigen yang dibutuhkan, gas ini memerlukan oksigen sehingga kebutuhan oksigen di paru-paru menjadi berkurang akibatnya dapat menyebabkan sesak nafas dan lemas. Bila kondisinya parah perlu tambahan oksigen yang berasal dari tabung oksigen.
- kebakaran lahan gambut
Redaktur: Redaktur Pelaksana
Penulis: Redaktur Pelaksana
Berita Terkait:
-
Grup no na Debut Album Perdana "Island Girl" Bersama 88rising
-
Korban Kekerasan Tembus 1.900 Orang, Sumut Siapkan Benteng Hukum Baru Lindungi Perempuan & Anak
-
Trump Dukung Larangan Ekspor Solar AS, Harga BBM Dunia Terancam Melonjak
-
Cincinnati Open 2026: Aldila Sutjiadi Melaju ke 16 Besar Ganda Putri
-
Jakarta Diprakirakan Berpotensi Hujan pada Rabu (9/9) Sore
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.