Terapi Hutan untuk Redakan Stres, Belajar Tenang di Tengah Hidup Serba Cepat
Minggu, 11 Okt 2026, 04:00 WIBJakarta - Berdiam diri mungkin terdengar mudah. Namun, bagi Wira, seorang ibu rumah tangga sekaligus wirausaha berusia 33 tahun, menenangkan pikiran tanpa memikirkan pekerjaan justru menjadi tantangan terbesar saat mengikuti sesi terapi hutan di Kebun Raya Bogor pada Agustus lalu.
"Awalnya ada sedikit rasa tidak terbiasa, karena saya selalu hidup dalam ritme cepat yang membuat diam terasa seperti tidak melakukan apa pun," ujar Wira kepada Xinhua setelah mengikuti sesi tersebut.
Pengalaman memperlambat ritme hidup itulah yang ditawarkan terapi hutan atau forest therapy, sebuah praktik yang berakar dari shinrin-yoku atau mandi hutan di Jepang. Praktik tersebut mulai diperkenalkan sebagai pendekatan kesehatan sejak 1980-an dan kini menjadi bagian dari upaya kesehatan preventif di negara itu.
Menurut situs resmi Organisasi Pariwisata Nasional Jepang (JNTO), sejumlah penelitian di Jepang menunjukkan aktivitas tersebut berpotensi memperbaiki kualitas tidur, suasana hati, dan kemampuan berkonsentrasi, sekaligus membantu mengurangi stres.
Dari sisi ilmiah, manfaat terapi hutan antara lain dikaitkan dengan fitonsida, yakni senyawa volatil alami yang dihasilkan tumbuhan sebagai mekanisme pertahanan terhadap mikroorganisme, serangga, dan tekanan lingkungan.
Guru Besar IPB University Prof. Siti Badriyah Rushayati, dalam orasi ilmiahnya pada 27 Juni lalu, menjelaskan bahwa paparan udara hutan dapat meningkatkan aktivitas sel pembunuh alami (natural killer cells) yang berperan dalam melawan infeksi dan sel kanker. Paparan fitonsida secara teratur juga disebut berpotensi membantu menurunkan tekanan darah, mengurangi stres, dan meningkatkan kesejahteraan mental.
Di Indonesia, terapi hutan mulai dikenal sebagai salah satu pilihan wisata kebugaran. Peserta biasanya diajak berjalan perlahan, mendengarkan suara alam, menghirup aroma dedaunan, merasakan tekstur objek di sekitarnya, hingga berbaring di atas rumput. Beberapa kegiatan juga melibatkan berjalan tanpa alas kaki dengan memperhatikan keamanan medan.
Tujuan utamanya adalah membantu peserta memusatkan perhatian pada pengalaman saat ini melalui pancaindra, bukan terus-menerus memikirkan pekerjaan, persoalan, atau berbagai tuntutan kehidupan.
Pendekatan tersebut relevan di tengah peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia setiap 10 Oktober, terutama ketika masyarakat menghadapi tekanan hidup, stres, dan kelelahan emosional akibat ritme aktivitas yang semakin cepat.
Tantangan kesehatan mental juga dialami anak-anak. Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kementerian Kesehatan periode 2025â2026 mendeteksi gangguan kecemasan pada 4,4 persen atau sekitar 338.000 anak serta gejala depresi pada 4,8 persen atau sekitar 363.000 anak, dari sekitar tujuh juta anak yang telah menjalani skrining.
Salah satu elemen penting dalam terapi hutan adalah kesadaran penuh atau mindfulness. Psikolog sekaligus dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Luh Surini Yulia Savitri, dalam artikel yang diterbitkan pada 28 Maret 2024 di situs resmi fakultas tersebut, menjelaskan bahwa mindfulness merupakan kesadaran untuk berada di sini dan saat ini.
Ia juga merujuk pada Jon Kabat-Zinn, profesor asal Amerika Serikat, yang mendefinisikan mindfulness sebagai kesadaran dari waktu ke waktu tanpa menghakimi pikiran dan perasaan diri sendiri maupun orang lain.
Wira mengakui bahwa melepaskan kebiasaan berpikir berlebihan bukan perkara mudah.
"Tantangan terbesar adalah melepaskan kebutuhan untuk selalu berpikir dan melakukan sesuatu," ungkapnya.
"Saya terbiasa memikirkan banyak kemungkinan dan mempersiapkan banyak hal. Dalam kegiatan seperti ini, saya belajar tidak semua hal perlu dianalisis. Ada kalanya kita cukup hadir, merasakan, dan membiarkan sesuatu berlangsung tanpa harus segera mencari makna atau solusinya," ujarnya.
Berpikir Berlebihan
Praktisi terapi hutan sekaligus dosen psikologi Universitas Gunadarma Dr. Hendro Prabowo mengatakan kecenderungan berpikir berlebihan atau overthinking menjadi salah satu tantangan dalam memandu peserta. Kebiasaan menganalisis berbagai hal secara terus-menerus dapat membuat mereka kesulitan memusatkan perhatian pada pengalaman di alam.
Untuk membantu peserta mengenali perubahan yang dirasakan, Hendro menggunakan metode visual bernama pain drawing. Sebelum kegiatan dimulai, peserta menerima gambar anatomi tubuh manusia untuk menandai bagian yang terasa sakit dan memberikan skala intensitas nyeri. Setelah sesi berakhir, mereka diminta menilai kembali gambar yang sama.
Menurut Hendro, perbandingan tersebut membantu peserta mengamati perubahan keluhan fisik yang mereka rasakan selama kegiatan. Namun, perubahan yang dirasakan setiap orang dapat berbeda dan perlu dipahami sesuai kondisi masing-masing.
Ia juga menganjurkan aktivitas ringan di medan yang relatif datar, berbeda dari mendaki gunung yang membutuhkan tenaga lebih besar. Udara sejuk, pepohonan rindang, tingkat kebisingan rendah, serta aliran sungai yang aman menjadi sejumlah unsur yang mendukung suasana relaksasi.
Hendro turut mengaitkan kontak langsung kaki dengan tanah dengan konsep earthing atau grounding. Ia berpendapat bahwa elektron dari permukaan bumi dapat berperan sebagai antioksidan alami. Meski demikian, klaim mengenai manfaat kesehatan earthing masih memerlukan dukungan bukti ilmiah yang kuat dan tidak dapat dianggap sebagai pengganti perawatan medis.
Prof. Siti juga menekankan pentingnya suasana alam yang mendukung proses relaksasi. "Jika tingkat kebisingan terlalu tinggi, proses relaksasi pun tidak akan berjalan optimal," ujarnya, seperti dikutip dari situs resmi IPB University.
Ke depan, sosialisasi dan edukasi yang lebih luas serta penambahan jumlah pemandu terlatih diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap terapi hutan. Hendro berharap kegiatan tersebut dapat diperkenalkan kepada kelompok lansia, pekerja yang mengalami stres, hingga remaja yang menghadapi masalah penggunaan gawai berlebihan.
Selain mendukung upaya menjaga kesehatan mental, meningkatnya kesadaran terhadap manfaat alam diharapkan dapat mendorong kepedulian terhadap kelestarian hutan dan pengembangan ruang terbuka hijau di perkotaan.
Bagi Wira, pengalaman mengikuti terapi hutan memberinya pemahaman baru tentang ketenangan. Ia menyadari bahwa ketenangan tidak selalu berarti hidup tanpa masalah, melainkan kemampuan untuk tetap menyadari keadaan diri di tengah berbagai tuntutan.
"Setelah mengikuti terapi ini, saya menyadari bahwa ketenangan bukan berarti hidup sedang tidak memiliki masalah. Ketenangan adalah kemampuan untuk tetap hadir dan tidak kehilangan diri sendiri di tengah berbagai hal yang sedang terjadi," ujarnya.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Antara
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.