Kampung Pak AR Banaran Dikembangkan Jadi Pusat Edukasi Sejarah dan Pemberdayaan Warga
📅 Minggu, 11 Okt 2026, 19:45 WIB | Oleh: Eko SKULON PROGO — Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mengembangkan Kampung Pak AR Banaran sebagai ruang pembelajaran sejarah, keteladanan tokoh bangsa, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Berlokasi di Kalurahan Banaran, inisiatif ini menjadi bagian dari pengembangan kampung tematik dan ekosistem kebudayaan yang mengangkat nilai kesederhanaan serta pengabdian para tokoh.
Anggota DPD RI asal DIY, Ir. H. Ahmad Syauqi Soeratno, M.M., menekankan pentingnya penguatan gerakan masyarakat hingga tingkat akar rumput. Menurutnya, kedekatan dengan warga menjadi salah satu kunci agar gerakan yang membawa manfaat dapat tumbuh dan berkelanjutan.
"Merga ranting kuwi penting," ujarnya dalam dialog bersama warga.
Ia juga mengingatkan agar media sosial dimanfaatkan untuk menyebarluaskan pemikiran dan keteladanan tokoh secara bijak, bukan untuk mengagungkan individu secara berlebihan.
"Bukan dalam konteks kultus individu, tetapi dalam konteks kemanfaatan... daripada kita datang ke satu tempat untuk ziarah fisik yang kurang jelas, niki meneladani dan mensyiarkan kemanfaatan dari pemikiran-pemikiran yang memang sudah terbukti membawa kemajuan," pungkasnya.
Bupati Kulon Progo, Dr. H. R. Agung Setyawan, S.T., M.Sc., M.M., menyebut daerahnya memiliki kekayaan sejarah melalui kiprah sejumlah tokoh, di antaranya almarhum K.H. A.R. Fakhruddin atau Pak AR, Nyai Ageng Serang, Sanun, serta seniman legendaris Ki Hadi Sugito.
Menurut Agung, potensi tersebut perlu dikembangkan agar nilai-nilai perjuangan dan keteladanan para tokoh dapat dipelajari oleh generasi berikutnya. Rencana pengembangan Kampung Pak AR Banaran mencakup pembangunan museum terpadu, kerja sama dengan institusi pendidikan seperti Universitas Ahmad Dahlan (UAD), penguatan ekonomi warga, serta penyediaan pengalaman wisata yang interaktif.
"Langkah ini adalah ikhtiar kita bersama untuk mengenang, mengenal, dan memastikan mata rantai sejarah peradaban kita tidak terputus. Kita ingin warisan nilai-nilai kebaikan dari para tokoh kita tetap menjadi penuntun bagi generasi mendatang," ungkap Agung.
Ketua Pelaksana Pengembangan Kampung Pak AR Banaran, Wakhid Purwosubiantoro, S.T.P., M.M., menjelaskan kawasan tersebut dirancang sebagai Living Museum & Santri Edu-Tourism yang dapat diakses berbagai kalangan. Konsep pengembangannya dibagi menjadi empat zona, yakni Napak Tilas dan Spiritual, Edukasi Kampung Santri, Kuliner dan Ekonomi Warga, serta Ekowisata Tepi Progo.
Zona Napak Tilas dan Spiritual akan mencakup replika rumah Pak AR, situs ibunda, dan masjid perjuangan. Sementara itu, Zona Edukasi Kampung Santri dirancang melalui program live-in santri. Zona Kuliner dan Ekonomi Warga akan mengangkat produk lokal seperti lele asap, belut, wader, sentra itik, dan Kampung Jamu. Adapun Zona Ekowisata Tepi Progo diarahkan pada kegiatan konservasi mangrove dan pelepasan tukik.
"Kami ingin menghadirkan ruang di mana siapa saja—baik keluarga, generasi muda, pelajar, hingga instansi—bisa datang dan merasakan langsung bagaimana nilai kesederhanaan dan keteladanan Pak AR diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Harapan kami, Kampung Pak AR Banaran dapat berkembang menjadi Pusat Keteladanan Nasional yang menggerakkan ekonomi warga sekaligus menjaga kelestarian alam," tutur Wakhid.
Untuk mendukung pengalaman pengunjung, setiap situs sejarah akan dilengkapi QR Code History. Melalui teknologi tersebut, pengunjung dapat mengakses narasi audiovisual mengenai sejarah situs langsung dari gawai masing-masing.
Pengembangan Kampung Pak AR Banaran turut dihadiri dan didukung jajaran pimpinan Muhammadiyah DIY dan Kulon Progo. Hadir pula Kepala Dinas Pariwisata Kulon Progo Sutarman, S.STP., M.Eng., serta Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Kulon Progo, Drs. Nur Wahyudi, M.M.
Melalui kolaborasi pemerintah, organisasi, institusi pendidikan, dan masyarakat, Kampung Pak AR Banaran diharapkan menjadi ruang pembelajaran sejarah dan kebudayaan yang terbuka bagi berbagai kalangan, sekaligus mendorong kegiatan ekonomi warga serta pelestarian lingkungan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!