Saldo Tabungan Masyarakat Menyusut, Fenomena “Mantab” Jadi Sorotan
Sabtu, 10 Okt 2026, 21:27 WIBJAKARTA â Tekanan biaya hidup membuat sebagian masyarakat semakin sulit menyisihkan pendapatan untuk tabungan. Gaji yang diterima setiap bulan kerap habis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan sebelum waktu penerimaan gaji berikutnya tiba.
Kondisi tersebut dikenal sebagai fenomena mantab atau "makan tabungan", ketika simpanan digunakan untuk menutup pengeluaran rutin. Istilah ini merujuk pada kondisi ketika seseorang menggunakan uang simpanan untuk membiayai kebutuhan sehari-hari karena pendapatan yang diterima tidak lagi mencukupi seluruh pengeluaran.
Dalam situasi tersebut, tabungan yang semula disiapkan untuk kebutuhan darurat, pendidikan, kesehatan, atau rencana jangka panjang perlahan digunakan untuk menutup biaya hidup rutin. Fenomena ini berbeda dari penggunaan tabungan yang memang direncanakan, misalnya untuk membeli rumah, membiayai pendidikan, atau menghadapi keadaan darurat.
Makan tabungan lebih menggambarkan kondisi ketika simpanan terus berkurang untuk mempertahankan konsumsi sehari-hari, sementara kemampuan mengisi kembali tabungan semakin terbatas. Tekanan tersebut dapat muncul ketika kenaikan pendapatan tidak sebanding dengan biaya kebutuhan pokok, transportasi, tempat tinggal, pendidikan, dan berbagai pengeluaran rutin lainnya.
Akibat dari mantab, sebagian masyarakat harus mengurangi jumlah uang yang ditabung, menarik simpanan yang sudah terkumpul, atau menggunakan sumber pembiayaan lain untuk memenuhi kebutuhan bulanan. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat mengurangi daya tahan keuangan rumah tangga. Dana yang semestinya menjadi penyangga ketika terjadi kehilangan pekerjaan, kebutuhan medis mendadak, atau pengeluaran tak terduga menjadi semakin tipis.
Karena itu, penurunan saldo tabungan dapat menjadi salah satu indikator tekanan keuangan rumah tangga, meskipun penyebabnya perlu dilihat bersama data pendapatan, pengeluaran, dan kondisi ekonomi masyarakat secara menyeluruh.
Survei Konsumen Bank Indonesia pada Agustus 2026 menunjukkan porsi pendapatan masyarakat yang digunakan untuk konsumsi meningkat menjadi 74,2%, dari 72,7% pada bulan sebelumnya. Sebaliknya, porsi pendapatan yang disisihkan untuk tabungan turun dari 16,8% menjadi 15,8%. Sementara itu, porsi pendapatan yang digunakan untuk membayar cicilan atau utang menurun tipis dari 10,5% menjadi 10%. Perubahan tersebut menunjukkan semakin besarnya bagian pendapatan yang dialokasikan untuk konsumsi, sedangkan ruang untuk menabung semakin terbatas.
Dengan komposisi tersebut, dari setiap Rp1 juta pendapatan, rata-rata Rp742.000 digunakan untuk konsumsi, Rp100.000 untuk membayar cicilan atau utang, dan Rp158.000 disisihkan untuk tabungan.
Tekanan terhadap kemampuan menabung juga terlihat dari data Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas). Meskipun total simpanan masyarakat dengan saldo di bawah Rp100 juta masih tumbuh, rata-rata saldo per rekening pada kelompok tersebut justru terus menyusut. Pada 2018, rata-rata saldo rekening kelompok ini tercatat sekitar Rp3,1 juta. Angka tersebut turun menjadi Rp1,7 juta pada Mei 2026, atau menyusut sekitar 45% dalam kurun waktu delapan tahun.
Penurunan rata-rata saldo tersebut mengindikasikan semakin tipisnya simpanan yang tersimpan di rekening kelompok masyarakat berpendapatan menengah ke bawah. Namun, perubahan rata-rata saldo tidak serta-merta menunjukkan bahwa seluruh pemilik rekening mengalami penurunan tabungan dengan besaran yang sama.
Head of Investment & Insurance Dana Group, Ivan Kusuma, mengatakan berkurangnya saldo tabungan tidak selalu disebabkan oleh pengeluaran untuk hiburan atau kebiasaan membeli barang yang tidak diperlukan. Persoalan juga dapat muncul ketika uang untuk kebutuhan sehari-hari, dana darurat, dan tujuan keuangan jangka panjang tidak dipisahkan dengan jelas.
âSaldo yang terus berkurang bukan selalu karena terlalu banyak membeli kopi atau hiburan. Masalahnya sering kali muncul karena uang untuk kebutuhan hari ini, kebutuhan darurat, dan tujuan masa depan bercampur dalam satu tempat. Ketika semuanya terlihat bisa dibelanjakan, tabungan akan selalu menjadi pos pertama yang dikorbankan,â ujar Ivan melalui siaran pers pada Kamis (8/10/2026).
Menurut dia, masyarakat membutuhkan strategi pengelolaan keuangan yang realistis, bukan sekadar memangkas seluruh pengeluaran. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah conscious spending, yakni menentukan tujuan penggunaan uang sebelum melakukan pembelanjaan.
âConscious spending intinya adalah menentukan dulu untuk apa uang akan dipakai, sebelum uang itu dibelanjakan. Tanpa rencana, pengeluaran sehari-hari akan terus terasa lebih penting, sehingga tabungan untuk masa depan selalu dikorbankan,â katanya.
Mengatur Pengeluaran agar Tabungan Tidak Tergerus
Salah satu langkah awal untuk mengendalikan pengeluaran adalah mengenali ke mana uang digunakan. Pengeluaran kecil seperti membeli makanan ringan, membayar parkir, atau berlangganan aplikasi kerap luput dari perhatian. Jika berlangsung berulang kali, akumulasinya dapat membebani anggaran bulanan.
Ivan menyarankan masyarakat meninjau riwayat transaksi secara berkala untuk mengetahui pola pengeluaran dan menentukan pos yang masih diperlukan atau dapat dikurangi. Pengguna layanan Dana, misalnya, dapat memanfaatkan fitur Activity Tracker untuk membantu memantau aktivitas transaksi.
Langkah berikutnya adalah menetapkan prioritas dan membuat alokasi anggaran sesuai kondisi keuangan. Pengeluaran untuk kebutuhan pokok, kewajiban bulanan, dana darurat, dan tujuan jangka panjang perlu diperhitungan sebelum uang digunakan untuk kebutuhan lain.
Dana menyediakan sejumlah fitur yang dapat digunakan untuk mendukung pengelolaan keuangan. Dana Goals ditujukan untuk membantu pengguna menyisihkan uang bagi tujuan tertentu, sedangkan Dana eMas memungkinkan pengguna membeli dan menyimpan emas digital dalam jumlah terjangkau. Adapun Dana+ menawarkan akses penempatan dana pada reksa dana pasar uang bagi pengguna yang memenuhi ketentuan.
Meski demikian, produk dan fitur keuangan tersebut memiliki karakteristik serta risiko yang berbeda. Masyarakat perlu memahami ketentuan, biaya, likuiditas, dan risiko produk sebelum menggunakannya. Penempatan dana pada instrumen investasi juga tidak sama dengan menyimpan uang tunai yang dapat langsung digunakan untuk kebutuhan mendesak.
âTidak ada satu cara budgeting yang cocok untuk semua orang, karena kebutuhan dan tujuan tiap orang berbeda. Yang penting, kemudahan bayar digital perlu diimbangi dengan kesadaran finansial supaya kita tidak jadi lebih impulsif,â ujar Ivan.
Menahan Belanja Impulsif Tanpa Harus Berpantang
Selain menyusun anggaran, masyarakat dapat mengurangi pembelian impulsif dengan memberi jeda sebelum mengambil keputusan. Salah satu cara yang disarankan adalah menerapkan prinsip pause, bukan pantang, yakni menunda pembelian yang tidak mendesak selama 24 jam.
Jeda tersebut memberi waktu untuk mempertimbangkan apakah barang yang ingin dibeli benar-benar dibutuhkan atau hanya muncul akibat dorongan sesaat. Cara ini juga memungkinkan seseorang tetap menikmati penghasilannya tanpa harus menghilangkan seluruh pengeluaran untuk hiburan atau kebutuhan pribadi.
Penggunaan cicilan pun perlu ditempatkan dalam perencanaan keuangan yang terukur. Cicilan dapat membantu mengatur waktu pembayaran, tetapi tetap menambah kewajiban pada periode berikutnya. Karena itu, keputusan mengambil kredit perlu mempertimbangkan kemampuan membayar, total biaya, serta kewajiban keuangan lain yang sudah berjalan.
Bagi pengguna yang memenuhi persyaratan, Dana Cicil disebut sebagai salah satu pilihan pembayaran bertahap. Namun, penggunaan fasilitas cicilan tidak dengan sendirinya memperbaiki kondisi keuangan apabila pengeluaran tetap melebihi kemampuan pendapatan.
Di sisi lain, pengelolaan keuangan yang sehat tidak harus berarti meniadakan seluruh pengeluaran untuk kesenangan. Memberikan ruang yang wajar bagi hiburan, rekreasi, dan hal-hal yang disukai dapat membantu menjaga keseimbangan anggaran, selama kebutuhan pokok, kewajiban, dan tabungan tetap diperhitungkan.
Meningkatnya porsi konsumsi dan menyusutnya rata-rata saldo rekening menjadi pengingat pentingnya pengelolaan pendapatan secara terencana. Ketika ruang untuk menabung semakin kecil, masyarakat perlu memahami pola pengeluaran, menentukan prioritas, dan menyesuaikan keputusan finansial dengan kemampuan masing-masing.
Tujuannya bukan semata-mata mengurangi belanja, melainkan memastikan kebutuhan hari ini tidak terus menggerus simpanan yang diperlukan untuk menghadapi keadaan darurat dan menjaga keamanan finansial pada masa mendatang.
- Biaya Hidup
- tabungan
- Pengelolaan Keuangan
- Dana
- literasi keuangan
- Makan Tabungan
- Fenomena Mantab
- Saldo Rekening
- Tabungan Masyarakat
- Data Perbanas
- Survei Konsumen Bank Indonesia
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Jaksel Distribusikan Bantuan ke Penyintas Kebakaran Kebayoran Lama
-
Seskab Bagikan Momen Prabowo Berbincang dengan Modi, Putin, dan Xi Jinping di Sela-sela KTT BRICS
-
Banjir Mengintai, Bandung Benahi 547 Irigasi dan Siapkan Rp947 Miliar
-
Sompo Indonesia perkuat literasi perlindungan perjalanan bagi calon pelajar internasional
-
Bukan Cuma Soal Uang, Ini 2 Manfaat Dana Darurat yang Bikin Kamu Lebih Tenang
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.