- Home
-
- Luar Negeri
-
- Putin Tawarkan Bantuan ke ...
Putin Tawarkan Bantuan ke Iran untuk Akhiri Perang di Timur Tengah
Jumat, 09 Okt 2026, 09:55 WIBASHGABAT - Presiden Russia Vladimir Putin pada hari Kamis (8/10) berjanji akan melakukan segalanya untuk membantu mengakhiri perang di Timur Tengah ketika bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian untuk melakukan pembicaraan menjelang KTT regional, menurut laporan media Russia.
Para pemimpin dari dua negara yang paling banyak dikenai sanksi di dunia ini bertemu setelah tiba di Turkmenistan untuk menghadiri KTT Persemakmuran Negara-Negara Merdeka (CIS) yang dimulai pada hari Jumat di resor Laut Kaspia, Avaza.
"Kami siap melakukan segala yang berada dalam kemampuan kami untuk berkontribusi dalam penyelesaian situasi ini," kata Putin.
Ia mengatakan Iran telah melakukan "upaya nyata untuk mengakhiri perang" sejak serangan AS-Israel dimulai pada 28 Februari, menurut kantor berita Russia.
Putin juga mencatat "perkembangan positif" dalam hubungan Iran-Russia.
Kedua negara telah memperkuat hubungan diplomatik dan militer sejak Russia melancarkan serangannya di Ukraina pada Februari 2022, dan semakin bergantung satu sama lain.
Kebuntuan KonflikÂ
Kyiv dan negara-negara Barat menuduh Iran memasok Russia dengan drone Shahed dan rudal jarak pendek untuk menghantam Ukraina.
Russia dituduh memasok data ke Iran untuk serangan-serangannya terhadap target-target AS di Timur Tengah.
Putin dan Pezeshkian juga bertemu di sela-sela KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai di Kyrgyzstan bulan lalu. Dan dalam percakapan telepon pada hari Rabu, Putin mengatakan kepada Pezeshkian, ia siap membantu menengahi perang di Timur Tengah, seperti yang dilaporkan oleh kantor berita negara Iran, IRNA.
Kontak-kontak tersebut terjadi ketika pembicaraan Iran-AS tampaknya menemui jalan buntu. Pezeshkian mengatakan pekan ini bahwa negosiasi dengan Washington "tidak ada artinya".
Upaya diplomatik untuk menyelesaikan serangan Russia di Ukraina juga tampaknya menemui jalan buntu, bahkan ketika kedua belah pihak meningkatkan serangan.
"Kami terlibat dalam dialog, tetapi setiap kali kami bernegosiasi dengan Amerika Serikat, mereka menyerang lagi," media pemerintah Iran mengutip pernyataan Pezeshkian dalam pembicaraan dengan Putin.
Trump menepis kemungkinan menyerang Iran lagi sebelum pemilihan paruh waktu AS pada 3 November, dengan mengatakan pada hari Kamis bahwa Washington sedang mengadakan "diskusi produktif" dengan republik Islam tersebut.
Pezeshkian mengatakan Teheran ingin melihat "kerangka kerja akhir" untuk mengakhiri perang.
Namun ia menuduh AS "berusaha memaksakan kebijakan dan pandangannya kepada semua negara".
"Jika Amerika Serikat bersikeras untuk menempuh pendekatan sepihak, resolusi tidak akan mungkin tercapai," katanya, menurut media pemerintah.
Putin dan Pezeshkian akan menghadiri KTT CIS -- yang awalnya merupakan kelompok negara-negara bekas Uni Soviet -- bersama para pemimpin Armenia, Azerbaijan, Belarus, Turkmenistan, dan negara-negara Asia Tengah lainnya.
Pertemuan Putin-Pezeshkian adalah salah satu dari beberapa pertemuan bilateral yang dijadwalkan di sela-sela KTT tersebut, menurut ajudan kebijakan luar negeri Kremlin, Yuri Ushakov.
CIS didirikan pada tahun 1991 untuk meringankan penderitaan akibat runtuhnya Uni Soviet dan menjaga hubungan antar republik-republik bekas anggotanya.
Beberapa negara telah keluar -- Georgia menarik diri setelah perang tahun 2008 dengan Russia, Ukraina menghentikan partisipasinya setelah aneksasi Krimea oleh Moskow pada tahun 2014, dan Moldova keluar pada tahun 2023 karena menginginkan hubungan yang lebih dekat dengan Uni Eropa.
Bagi Russia, yang merasa terisolasi sejak melancarkan konflik Ukraina pada tahun 2022, CIS membuktikan bahwa mereka "benar-benar memiliki orbit dan lingkup pengaruhnya sendiri yang diperkuat dan diinstitusionalisasi," kata Temur Umarov, seorang peneliti di Carnegie Russia Eurasia Center di Berlin, kepada AFP.
Namun, pertemuan hari Jumat ini juga berlangsung pada saat beberapa anggota CIS berupaya untuk mendiversifikasi kemitraan ekonomi dan diplomatik mereka, terutama dengan memperkuat hubungan dengan Tiongkok dan negara-negara Barat.
"Meskipun Russia memutuskan untuk menggunakan platform ini untuk menyebarkan retorika anti-Barat atau anti-Ukraina, itu tidak berarti anggota lain akan secara otomatis mendukung posisinya," kata Zhanibek Arynov, seorang peneliti yang berbasis di Kazakhstan dan berspesialisasi dalam geopolitik Asia Tengah, kepada AFP.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: AFP
Berita Terkait:
-
Banggar DPR Minta Pemerintah Kaji Risiko Melebarkan Defisit di Atas 3 Persen
-
Tiga Santri Diduga Dibakar Senior di Lombok Tengah, Satu Meninggal Dunia. Belum Ada Tersangka
-
Pemprov Jakarta Relokasi Warga Demi Pembukaan Lahan Pemakaman Baru
-
Gubernur Khofifah Dorong Produktivitas Sapi Perah di Jawa Timur
-
Kabar Gembira! KAI Jakarta Beri Diskon Tiket hingga 30 Persen pada 7-9 Agustus 2026
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.