Petik Melon Langsung dari Kebun, Cara BUMDes di Bogor Ini Sulap Pertanian Jadi Wisata
Jumat, 09 Okt 2026, 23:00 WIBBOGOR â Di tengah semakin beragamnya pilihan wisata akhir pekan, pengalaman sederhana memetik buah langsung dari kebun menawarkan sensasi tersendiri.
Bukan sekadar menikmati buah segar, pengunjung juga bisa merasakan suasana pertanian yang dekat dengan alam sekaligus mengenal proses budidaya melon dari sumbernya.
Pengalaman tersebut dihadirkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kuntum Mekar di Desa Waringinjaya, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, melalui wisata petik melon langsung dari kebun yang dibuka untuk masyarakat pada 10â11 Oktober 2026.
Kegiatan ini menjadi alternatif wisata keluarga yang memadukan rekreasi, edukasi pertanian, dan pengalaman menikmati hasil panen secara langsung.
Lebih dari sekadar kegiatan memetik buah, inisiatif ini memperlihatkan bagaimana potensi pertanian desa dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata yang bernilai ekonomi.
Kebun yang selama ini menjadi ruang produksi dapat sekaligus menjadi ruang rekreasi dan pembelajaran bagi masyarakat, terutama anak-anak yang ingin mengenal lebih dekat dunia pertanian.
Bagi BUMDes, pengembangan wisata petik melon juga membuka peluang untuk memperluas sumber pendapatan desa. Ketika sektor pertanian dipadukan dengan aktivitas wisata, nilai ekonomi tidak hanya berasal dari hasil panen, tetapi juga dari pengalaman yang ditawarkan kepada pengunjung.
Jika dikelola secara berkelanjutan, kegiatan semacam ini berpotensi menggerakkan usaha warga di sekitar lokasi dan memperkuat ekonomi lokal.
Di tengah tantangan pengembangan usaha perdesaan, langkah BUMDes Kuntum Mekar menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dari investasi besar.
Mengoptimalkan potensi yang sudah tersedia, seperti lahan pertanian dan hasil budidaya, dapat menjadi jalan untuk menciptakan kegiatan ekonomi baru yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Wisata petik melon di Waringinjaya pun menjadi gambaran bahwa kebun bukan hanya tempat menanam dan memanen buah. Dengan pengelolaan yang tepat, kebun dapat tumbuh menjadi ruang pertemuan antara pertanian, pariwisata, dan pemberdayaan ekonomi desa.
Direktur BUMDes Kuntum Mekar Rudi Irawan di Bogor, Jumat (9/10), mengatakan kegiatan bertajuk open farm tersebut memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memilih dan memetik sendiri melon hidroponik yang telah siap panen.
"Petik langsung, timbang, dan langsung bawa pulang," kata Rudi.
Ia menjelaskan, melon hasil budidaya BUMDes Kuntum Mekar dijual dengan harga Rp35.000 per kilogram atau lebih rendah dibandingkan dengan harga melon sejenis yang dipasarkan di supermarket.
Menurut dia, kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkenalkan hasil pertanian desa kepada masyarakat serta memperluas pemasaran produk BUMDes.
Saat ini, BUMDes Kuntum Mekar mengelola dua rumah kaca atau greenhouse dengan ukuran masing-masing 40x20 meter untuk budidaya melon menggunakan sistem hidroponik Nutrient Film Technique (NFT).
Rudi mengatakan usaha budidaya melon tersebut mulai dirintis pada Juli 2025 dan resmi berjalan sejak September 2025. Hingga Oktober 2026, budidaya melon telah memasuki masa panen ketiga.
Sementara itu, Pengawas BUMDes Kuntum Mekar Rino Zamariska mengatakan pihaknya berupaya meningkatkan produktivitas budidaya melon dengan menargetkan panen secara berkala setiap dua pekan.
"Kita mau mengembangkan bagaimana melon ini bisa panen dua minggu sekali," ujarnya.
Menurut Rino, pola budidaya yang diterapkan saat ini masih menjadi percontohan untuk menentukan metode pemeliharaan paling efektif, mulai dari penanaman hingga masa panen.
Ia menyebutkan melon yang dihasilkan memiliki tingkat kemanisan mencapai lebih dari 15 Brix, dengan proses budidaya yang mengutamakan kebersihan tanaman serta meminimalkan penggunaan bahan kimia.
Selain mengembangkan melon hidroponik, BUMDes Kuntum Mekar juga menjalankan usaha peternakan ayam petelur dengan populasi sekitar 1.000 ekor yang telah menghasilkan telur setiap hari.
Hasil produksi telur tersebut dipasarkan melalui warung-warung di sekitar lokasi peternakan dengan ketentuan pembelian minimal 10 kilogram untuk distribusi.
Melalui pengembangan kedua unit usaha tersebut, BUMDes Kuntum Mekar berupaya meningkatkan pendapatan desa sekaligus mendukung ketahanan pangan berbasis potensi lokal.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Pemerintah Harus Gerak Cepat Antisipasi Lonjakan Inflasi
-
Jawa Barat Targetkan Penurunan Signifikan Angka Stunting
-
Telkomsel dan Unhas Berkolaborasi Perkuat Dukung Pembelajaran Digital Mahasiswa
-
Bantuan Air Bersih Disalurkan ke Warga Terdampak Kekeringan di Makassar
-
Tak Ada Ampun! Satgas Saber Awasi Ketat Keamanan Pangan Nasional
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.