Ledakan AI Bikin Sewa Bangunan di San Francisco Makin Tak Terjangkau, Warga Terdesak hingga Terusir dari Kota

Jumat, 09 Okt 2026, 00:00 WIB

SAN FRANCISCO - Ledakan industri kecerdasan buatan atau AI di San Francisco tidak hanya membawa investasi dan kekayaan baru. Di sisi lain, booming tersebut ikut memperbesar tekanan terhadap pasar perumahan dan membuat semakin banyak warga kesulitan mempertahankan tempat tinggal mereka.

Harga sewa apartemen di kota tersebut kini melonjak tajam. Rata-rata sewa apartemen satu kamar tidur mencapai sekitar 4.400 dolar AS per bulan, atau lebih dari 70 juta rupiah jika dikonversikan dengan kurs sekitar 16.000 rupiah per dolar AS. Angka tersebut naik lebih dari 25 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan hampir tiga kali rata-rata nasional Amerika Serikat.

Ket. Foto: Kenaikan nilai properti dan tingginya kemampuan membayar pekerja sektor teknologi menciptakan insentif untuk mengubah hunian lama menjadi properti dengan nilai pasar yang lebih tinggi. — Sumber: Istimewa

Untuk apartemen dua kamar tidur, penyewa harus menyiapkan sekitar 6.000 dolar AS per bulan, sementara unit empat kamar tidur di lokasi strategis bisa menembus 10.000 dolar AS.

Kondisi itu membuat bahkan pekerja dengan pendapatan enam digit dalam dolar AS mulai kesulitan mencari hunian. Tekanan jauh lebih berat dirasakan pekerja berpenghasilan rendah dan kelompok rentan yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan kota.

Laporan The Guardian pada 8 Oktober 2026 menyebutkan, meningkatnya kekayaan dari industri AI telah menciptakan persaingan baru dalam mendapatkan tempat tinggal. Kawasan seperti SoMa dan Mission Bay, yang menjadi lokasi kantor perusahaan teknologi AI besar seperti Anthropic dan OpenAI, termasuk wilayah yang mengalami tekanan tersebut.

Dampaknya juga terlihat dari meningkatnya persoalan antara pemilik properti dan penyewa. Data San Francisco Rent Board menunjukkan pemberitahuan pengusiran meningkat 44 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, Komite Hak Perumahan San Francisco mengaku menghadapi lonjakan permintaan bantuan. Klinik organisasi tersebut rata-rata menerima sekitar 200 panggilan setiap pekan dari penyewa yang menghadapi persoalan dengan pemilik rumah, mulai dari ancaman penggusuran hingga perselisihan mengenai kondisi hunian.

Ledakan AI juga membuat sebagian pemilik properti melihat peluang untuk mendapatkan keuntungan lebih besar. Kenaikan nilai properti dan tingginya kemampuan membayar pekerja sektor teknologi menciptakan insentif untuk mengubah hunian lama menjadi properti dengan nilai pasar yang lebih tinggi.

Salah satu mekanisme yang menjadi sorotan adalah Ellis Act, aturan California yang memungkinkan pemilik properti mengakhiri bisnis penyewaan dan mengeluarkan seluruh penyewa dari sebuah bangunan dalam kondisi tertentu.

Setelah dikosongkan, properti tersebut dapat dijual atau dialihkan untuk penggunaan lain. Dalam situasi pasar yang sedang melonjak, langkah tersebut dinilai semakin menarik bagi pemilik yang ingin memperoleh keuntungan dari tingginya harga properti.

Di sejumlah kawasan, bangunan yang sebelumnya dihuni penyewa selama puluhan tahun juga mulai menghadapi rencana konversi menjadi kondominium kelas atas.

Tekanan tersebut tidak hanya berbentuk penggusuran langsung. Aktivis perumahan juga melaporkan praktik yang disebut renoviction, yakni kondisi ketika renovasi yang tidak nyaman atau berkepanjangan membuat penghuni memilih meninggalkan tempat tinggalnya.

Organisasi yang dipimpin Maria Zamudio mencatat perselisihan antara pemilik rumah dan penyewa mengenai perbaikan meningkat 23 persen dalam setahun terakhir.

Persoalan tersebut kemudian berimbas pada pekerja yang sebenarnya dibutuhkan untuk membuat San Francisco tetap berfungsi. Banyak pekerja restoran, hotel, layanan kesehatan, pendidikan, kebersihan hingga sektor jasa tidak lagi mampu tinggal di dalam kota.

Sebagian akhirnya memilih tinggal jauh dari San Francisco dan melakukan perjalanan pulang-pergi puluhan hingga lebih dari 50 mil untuk bekerja.

Kondisi itu membuat persoalan perumahan berkembang menjadi persoalan tenaga kerja. Ketika biaya hunian semakin tinggi, kota berisiko kehilangan pekerja yang tidak memiliki penghasilan sebesar pekerja teknologi, meskipun jasa mereka dibutuhkan setiap hari.

Michael Lens dari UCLA menilai sebuah kota membutuhkan tenaga kerja dengan tingkat pendapatan yang beragam. Menurutnya, San Francisco tidak bisa hanya menjadi tempat bagi pekerja teknologi dan profesional bergaji tinggi, sementara pekerja restoran, guru, tenaga kesehatan dan pekerja jasa tidak mampu tinggal di dekat tempat mereka bekerja.

Efek lainnya adalah meningkatnya kepadatan hunian. Sebagian warga yang tidak mampu membayar sewa memilih tinggal di unit yang lebih kecil atau berbagi satu tempat dengan semakin banyak orang.

Dalam sejumlah kasus yang ditemukan organisasi perumahan, satu kamar tidur dapat ditempati empat atau lima orang, sementara sejumlah pekerja imigran bahkan dilaporkan tidur bersama dalam sebuah unit studio.

Bagi kelompok yang akhirnya kehilangan tempat tinggal, pilihan untuk tetap tinggal di San Francisco semakin terbatas. Sebagian berpindah ke wilayah yang lebih jauh, sementara lainnya terpaksa menerima hunian dengan kondisi yang kurang layak.

Persoalan ini menjadi paradoks dari ledakan ekonomi berbasis AI. Industri tersebut menghasilkan perusahaan bernilai sangat tinggi, menciptakan pekerjaan bergaji besar dan membawa modal baru ke kota, tetapi pada saat bersamaan keuntungan ekonomi itu ikut meningkatkan persaingan mendapatkan ruang hidup.

Wali Kota San Francisco Daniel Lurie pada September lalu bahkan menyatakan adanya "darurat sewa" dan mengusulkan sejumlah langkah, termasuk memperbesar bantuan hukum bagi penyewa yang menghadapi penggusuran serta meningkatkan kompensasi bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.

Namun, para pendukung perumahan berbeda pandangan mengenai solusi jangka panjang. Sebagian mendorong pembangunan hunian sebanyak mungkin agar pasokan meningkat dan tekanan harga berkurang. Kelompok lain menilai pembangunan rumah terjangkau yang secara khusus melindungi kelompok berpenghasilan rendah juga harus menjadi prioritas.

Di tengah perdebatan tersebut, satu persoalan menjadi semakin nyata: lonjakan kekayaan akibat AI tidak otomatis membuat seluruh warga ikut menikmati pertumbuhan ekonomi.

Jika pertumbuhan industri tidak diikuti penambahan hunian yang memadai dan terjangkau, San Francisco menghadapi risiko semakin sulit mempertahankan keberagaman penduduknya—termasuk orang-orang yang bekerja di restoran, rumah sakit, sekolah, hotel, transportasi dan berbagai layanan yang membuat kota tetap berjalan.

  • Artificial Intelligence (AI)

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.