• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Tahu Bagaimana Cara Anak M...

Tahu Bagaimana Cara Anak Muda Mengejar Identitas Sosial? Berikut Kiatnya

Kamis, 08 Okt 2026, 10:02 WIB

JAKARTA – Lain zaman beda cara generasi muda mencari identitas diri di tengah masyarakat. Lalu kira-kira bagaimana anak-anak muda sekarang menemukan identitasnya? Guru besar sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga Prof Dr Bagong Suyanto, Drs., M.Si. mengemukakan bahwa konser musik kini berkembang menjadi salah satu sarana anak muda dalam menunjukkan identitas sosial.

"Konser tidak lagi hanya menjadi momentum fandom untuk hura-hura. Menonton konser juga menjadi sarana memperlihatkan identitas sosial," kata Prof. Bagong saat dihubungi antara, Rabu. Menurutnya, anak-anak muda sekarang memiliki kepedulian dan sikap kritis terhadap isu sosial, lingkungan, pemberdayaan perempuan, dan hak asasi manusia.

Ket. Foto: mencari identitas — Sumber: ist

Kepedulian dan sikap kritis mereka terhadap berbagai isu antara lain ditunjukkan melalui aktivitas hiburan dan budaya populer. "Jadi, sikap kritisnya tidak selalu dimanifestasikan dalam aksi unjuk rasa. Mereka memadukan aktivitas pleasure dengan aktivitas sosial," kata Prof. Bagong.

Menurut dia, kecenderungan tersebut di antaranya terlihat dari cara sebagian penggemar memandang sosok artis dan pertimbangan mereka dalam mengidolakan seorang artis. "Artis yang dipuja tidak harus yang ganteng atau cantik, tetapi harus memiliki nilai plus kepedulian sosial," katanya.

Dia menyebut penggemar musisi Iwan Fals sebagai contoh. Menurut dia, banyak penggemar menyukai karya-karya Iwan Fals yang memuat kritik sosial, seperti lagu "Bongkar" dan "Bento."

Prof. Bagong mengatakan bahwa memang tidak semua penggemar Iwan Fals memiliki kepedulian sosial yang sama. Demikian pula dengan para penggemar artis-artis yang dinilai memiliki kepedulian terhadap masalah sosial dan kemanusiaan.

Pilihan mereka dalam menikmati karya musik dan mengidolakan musisi lebih menunjukkan harapan mereka terhadap sang artis. "Lebih pada harapan," kata Bagong. Kelompok penggemar yang mempertimbangkan nilai, sikap kritis, dan kepedulian sosial artis dalam memilih idola memang belum dominan, tetapi menurut Prof. Bagong pertumbuhannya terlihat meningkat.

Hubungan penggemar dengan musisi serta pemanfaatan konser musik sebagai ruang ekspresi semakin berkembang. Konser musik tidak hanya menjadi ruang untuk menyampaikan ekspresi seni, tetapi juga menyuarakan kepedulian dan sikap kritis terhadap isu-isu sosial, kemanusiaan, dan lingkungan.

Dalam pelaksanaan acara musik Pestapora 2025, misalnya. Keterlibatan PT Freeport Indonesia sebagai sponsor acara memicu penolakan dari sejumlah musisi dan mendorong penyelenggara memutuskan kerja sama dengan perusahaan tambang tersebut. Pengeluaran rapper Macklemore dari daftar penampil pendukung dalam rangkaian tur konser Ed Sheeran di Amerika Serikat juga bisa menunjukkan gambaran.

Macklemore dikeluarkan dari daftar penampil pendukung dalam rangkaian tur konser Ed Sheeran di Amerika Serikat setelah menyuarakan dukungan terhadap pembebasan Palestina saat tampil dalam konser Ed Sheeran di New Jersey pada September 2026. Hal itu mendorong sejumlah penampil pendukung lain ikut mundur serta memicu protes dan polemik.

Kejadian-kejadian tersebut menunjukkan bagaimana anak-anak muda dan musisi menjadikan konser musik sebagai ajang untuk menunjukkan sikap kritis dan nilai yang dianggap penting, bukan sekadar acara seni dan hiburan.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.