Bitdefender dan PT GIA Perluas Akses Keamanan Siber bagi Konsumen Indonesia
📅 Kamis, 08 Okt 2026, 23:47 WIB | Oleh: Haryo BronoJAKARTA — Ancaman terhadap pengguna internet di Indonesia semakin beragam seiring meningkatnya aktivitas digital. Data pribadi, informasi identitas, hingga transaksi keuangan menjadi sasaran berbagai modus kejahatan siber, termasuk penipuan online yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Di tengah kondisi tersebut, Bitdefender menjalin kerja sama distribusi eksklusif dengan PT Gema Informatika Abadi (GIA) untuk memperluas akses terhadap solusi keamanan siber bagi konsumen di Indonesia.
Kerja sama yang diumumkan pada 8 Oktober 2026 tersebut membuat seluruh portofolio produk konsumen Bitdefender tersedia di Indonesia melalui jaringan reseller PT GIA. Produk yang didistribusikan mencakup perlindungan untuk komputer dan perangkat mobile, keamanan identitas dan privasi, hingga teknologi untuk mendeteksi dan menghadapi penipuan serta deepfake.
Kemitraan ini berlangsung ketika aktivitas digital masyarakat semakin melekat pada kehidupan sehari-hari. Aktivitas seperti perbankan, belanja, pembayaran tagihan, komunikasi, dan berbagai layanan lainnya semakin banyak dilakukan melalui perangkat yang terhubung ke internet.
Direktur PT GIA, Mr. Chok, mengatakan kondisi tersebut membuat perlindungan terhadap data pribadi dan identitas menjadi semakin penting.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Konsumen saat ini melakukan aktivitas perbankan, berbelanja, dan tetap terhubung dengan teman secara online, sehingga perlindungan terhadap data pribadi dan identitas menjadi semakin penting,” ujar Mr. Chok, dalam acara Bitdefender Grand Launch, sekaligus memperkenalkan PT GIA sebagai Distributor Eksklusif Bitdefender Consumer di Indonesia.
Menurut dia, kerja sama dengan Bitdefender diharapkan dapat memperluas akses masyarakat Indonesia terhadap solusi keamanan yang mampu menghadapi perkembangan ancaman siber.
“Kami senang dapat bermitra dengan Bitdefender untuk memberikan akses kepada masyarakat Indonesia terhadap perlindungan yang tepercaya dan canggih dalam menghadapi ancaman siber yang terus berkembang,” katanya.
Penipuan Menjadi Ancaman yang Meluas
Risiko tersebut tergambar dari tingginya pengalaman masyarakat menghadapi penipuan. Berdasarkan data Global Anti Scam Alliance yang dikutip dalam pengumuman kerja sama tersebut, 66 persen orang dewasa di Indonesia pernah mengalami penipuan dalam satu tahun terakhir.
Fenomena serupa juga terjadi di tingkat global. Survei terhadap 7.000 konsumen menunjukkan sekitar satu dari tujuh responden menjadi korban penipuan dalam periode satu tahun.
Perangkat mobile menjadi salah satu titik yang mendapat perhatian karena semakin banyak aktivitas sensitif dilakukan melalui ponsel. Dalam penelitian yang sama, 48 persen responden disebut tidak menggunakan solusi keamanan pihak ketiga pada perangkat mobile mereka.
Padahal, 53 persen responden menggunakan ponsel untuk aktivitas sensitif, termasuk membayar tagihan dan berbelanja secara online.
Kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan aktivitas digital belum selalu diikuti dengan penerapan perlindungan keamanan yang memadai. Perangkat yang digunakan untuk mengakses rekening, melakukan pembayaran, menyimpan informasi pribadi, dan berkomunikasi dapat menjadi sasaran ketika pengguna menghadapi tautan berbahaya, situs palsu, aplikasi berbahaya, maupun manipulasi sosial.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!