- Home
-
- Luar Negeri
-
- COP31 di Turki Dibayangi J...
COP31 di Turki Dibayangi Jalan Buntu Pengurangan Bahan Bakar Fosil
Rabu, 07 Okt 2026, 01:00 WIBParis - Negara-negara yang terdampak kerusakan iklim selama setahun terakhir akan berkumpul dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-31 (COP31) di Turki bulan depan. Namun, negosiasi diperkirakan belum akan menghasilkan kemajuan besar dalam upaya mengurangi penggunaan bahan bakar fosil yang menjadi penyebab utama krisis iklim.
Dilansir dari AFP, konferensi tersebut digelar setelah gelombang panas dan kebakaran mematikan melanda Eropa, banjir dahsyat menerjang Nepal, serta suhu rekor tercatat di berbagai wilayah dunia. Kondisi itu kembali menguji kemampuan perundingan yang didukung PBB dalam merespons perubahan iklim yang semakin nyata.
Saat para pemimpin dunia bertemu di Turki, pola El Nino yang luar biasa kuat diperkirakan mendekati puncak kekuatannya. Kondisi tersebut berpotensi memperburuk cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia dan mendorong suhu global ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Kekhawatiran mengenai keamanan energi juga diperkirakan menjadi isu penting. Perang di Timur Tengah yang belum berakhir telah menyebabkan harga minyak dan gas melonjak serta memberikan tekanan besar terhadap negara-negara pengimpor bahan bakar fosil.
Di tengah kecilnya peluang tercapainya kesepakatan baru mengenai bahan bakar fosil, Turki menggalang dukungan untuk janji sukarela mengenai "elektrifikasi" yang dinilai dapat membantu mengurangi emisi gas rumah kaca sekaligus menekan ketergantungan terhadap impor energi.
"Dalam banyak hal, konteks utama untuk KTT iklim tahun ini adalah panas dan Selat Hormuz," kata David Waskow dari World Resources Institute, merujuk pada selat strategis yang menjadi jalur bagi sekitar seperlima hidrokarbon dunia sebelum perang Iran.
COP31 juga memiliki format yang tidak biasa karena Turki akan berbagi tugas dengan Australia, salah satu eksportir utama bahan bakar fosil dunia. Kedua negara sepakat membagi peran dalam penyelenggaraan COP31 setelah sebelumnya bersaing memperebutkan hak menjadi tuan rumah.
Menteri Iklim Australia Chris Bowen, yang akan memimpin negosiasi di Antalya mulai 9 November, mengatakan berbagai peristiwa ekstrem sepanjang tahun ini menunjukkan bahwa perubahan iklim bukan lagi sekadar ancaman di masa depan.
"Ini adalah realitas saat ini... dan biaya dari kelalaian semakin meningkat," katanya.
Minim Isu Besar
Berbeda dengan sejumlah COP sebelumnya yang menghasilkan kesepakatan penting mengenai pengurangan penggunaan batu bara dan transisi dari bahan bakar fosil, agenda negosiasi COP31 diperkirakan minim isu besar.
Terdapat lebih dari 100 agenda yang akan dibahas, tetapi sebagian besar berkaitan dengan persoalan teknis, seperti penetapan indikator untuk mengukur kemajuan adaptasi terhadap perubahan iklim.
"Sebagian besar KTT Antalya akan menjadi upaya 'turun tangan'. Pemerintah perlu membuat kemajuan konkret dalam negosiasi, meskipun mungkin tidak akan ada hasil dramatis tahun ini," kata Waskow.
Negara-negara diperkirakan tidak akan mengadopsi komitmen baru yang mengikat untuk mengurangi pembakaran bahan bakar fosil, yang merupakan penyebab utama perubahan iklim.
Pada 2023, negara-negara sepakat untuk beralih dari batu bara, minyak, dan gas. Namun, sejak saat itu, upaya untuk merundingkan target maupun tenggat waktu konkret bagi transisi tersebut belum membuahkan hasil.
- Krisis Iklim
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: AFP, Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Menhub Tegaskan Potongan Komisi Ojol 8 Persen Hanya untuk Roda Dua
-
Kesiapan talenta vokasi SMK Aceh menghadapi dunia kerja
-
Polda Metro Jaya Supervisi Kasus Penyekapan di Jakarta Pusat
-
Piala Dunia 2026: Mbappe Cetak Sejarah, Olise Pecahkan Rekor, Prancis Tetap Gagal Raih Medali
-
Polandia Pertimbangkan Didirikannya Pangkalan AS
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.